Review Novel: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Buya Hamka (Tentang cinta dua insan manusia yang terhalang oleh adat dan garis keturunan)


Hallo Assalamualaikum, teman-teman siapa sich yang tidak tau cerita romance yang satu ini?  Yang filmnya sudah lama sekali diputar di layar lebar dan beruangkali di putar kembali di televisi. Sebuah kisah cinta dua insan manusia yang membuat hampir setiap penontonnya meneteskan air mata karena meresapi begitu sulitnya jalan cinta mereka berdua.

Nah, kali ini aku akan membuat review novelnya. Kenapa review novel? Kenapa tidak sinopsis aja?  Ya karena sebagian masyarakat sudah tau jalan cerita dari film yang diangkat dari Novel karya sastrawan sekaligus ulama legendaris ini. Jadi alangkah lebih baiknya jika saya menulis review saja mengingat jarang juga yang menjamah versi novel ini. Tapi tenang!  Nanti tetap akan ada sinopsis ulang koq. Untuk mengembalikan ingatan teman-teman tentang jalan cerita ini. Barangkali udah banyak yang lupa dengan alurnya.

Judul : Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk
Penulis: Hamka
Penerbit: Gema Insani
Tahun terbit: 2017
Jumlah halaman: 256 hlm
Ilustrator sampul: Bella Ansori
Cetakan ke-: 1
ISBN: 978-602-250-416-0

Sinopsis:

"Zainuddin, kekasihku, berangkatlah, biar jauh sekalipun, kulepaskan! Tapi harapanku hanya sebuah, engkau sekali-kali tak boleh putus asa, jangan diberi hatimu berpintu sehingga kesedihan dan kedukaan masuk ke dalam.....".

"Hari inilah saya terangkan di hadapanmu, di hadapan cahaya yang baru naik, di hadapan roh ibu bapa yang sudah sama-sama berkalang tanah,  saya katakan bahwa jiwaku telah diisi sepenuh-penuhnya oleh cinta kepadamu. Cintaku kepadamu telah memenuhi hati-ku, telah terjadi sebagai nyawa dan badan adanya. Dan selalu saya berkata, biar Tuhan mendengarkan bahwa engkau-lah yamg akan menjadi suamiku kelak, jika tidak sampai di dunia, biarlah di akhirat. Dan saya tiadakan khianat kepada janjiku, akan berdusta di hadapan Tuhan dan di hadapan arwah nenek moyangku,"

"Jika engkau, kekasihku, berjalan jauh atau dekat sekalipun, entah tidak kembali dalam masa setahun, masa dua tahun, masa sepuluh tahun, entah hitam bumi Batipuh ini baru engkau kembali kemari, namun saya tetap menunggumu. Carilah bahagia dan keberuntungan kita kemana jua pun, namun saya akan tetap bersih dan suci, untukmu, kekasihku, untukmu... " (Hal 69-70)

Itu adalah Sumpah setia Hayati yang begitu berat sekaligus membuka rahasia hatinya kepada Zainuddin. Sumpah Setia itu ia ucap tatkala fajar menyingsing dan melepas Zainuddun pergi dari Batipuh karena di usir oleh ninik mamaknya. hayati juga memberikan selendang yang melilit kepalanya serta beberapa helai rambutnya kepada Zainuddin sebagai tanda mata sebagaimana permintaan Zainuddin.

Namun apalah daya, Hayati akhirnya harus melanggar sumpah setia itu karena ninik mamaknya justru menerima pinangan dari Aziz. Seorang lelaki kaya, terpandang, keturunan jelas dan beradat yang berasal dari Padang. Padahal pada saat itu telah sampai pulalah surat pinangan dari Zainuddin untuk Hayati.

Surat Zainuddin kepada Engku datuk untuk meminang Hayati

Lama Hayati berfikir untuk menentukan keputusan. Hingga akhirnya ia nurut mana yang terbaik menurut ninik mamaknya meski hatinya berat kepada Zainuddin.

Lalu bagaimana dengan Zainuddin? 

Telah sampai pulalah surat balasan penolakan dari ninik mamaknya. Bahwa ia yelah menerima pinangan lelaki lain untuk Hayati. Lalu sampai pulalah surat dari Khadijah. Sahabat Hayati sekaligus adiknya Aziz. Meminta agar Zainuddin melepaskan Hayati karena ia akan segera menikah dengan kakaknya yang bernama Aziz itu.

Surat Khadijah kepada Zainuddin agar melepaskan Hayati karena akan menika dengan kakaknya, Aziz. 

Zainuddin mencoba mengiba dengan mengirim beberapa surat kepada Hayati. Berharap belas kasihnya. Namun apa balasan surat hayati? Berikut beberapa penggalannya:
"Tuan, kau tahu bahwa saya seorang gadis yang miskin dan tuan pun hidup dalam melarat pula, tak mempunyai persediaan yang cukup untuk menegakkan rumah tangga. Maka lebih baik kita singkirkan perasaan kita, kembali kepada pertimbangan. Lebih baik kita berpisah, dan kita turutkan perjalanan hidup masing-masing menurut timbangan kita, mana yang lebih bermanfaat buat di hari nanti". (Hal 153).

Hancur lebur dan hilanglah harapan Zainuddin akan cinta Hayati. Sudah jelas-jelas dalam suratnya bahwa Hayati tidak ingin hidup susah dengan Zainuddin. Tidakkan mampu hidup berumahtangga dalam kemiskinan. Zainuddin jatuh sakit. 2 bulan lamanya. Tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Segala tabih dan dukun dipanggil. Hingga akhirnya dipanggillah dokter. Dan dokter segera tahu apa penyebab sakit Zainuddin. Lalu berusaha membawa Hayati ke Zainuddin meski ditemani suaminya.

Hayati datang dengan membawa tangan bekas inai. Sebuah pertanda bahwa ia telah jadi milik orang lain. Hayati telah menikah dan resmi jadi istri Aziz.

Zainuddin mengungkit kisah lama pada saat Hayati meminta maaf

Namun pada akhirnya, Zainuddin bangkit kembali. Tuhan menghendaki ia sembuh. Namun Zainuddin memilih untuk merantau ke Jakarta. Meninggalkan tanah Minang. Ditemani oleh Abang Muluk, sahabat yang menemaninya selama di Padang Panjang hingga mereka sukses di tanah Surabaya.

Lalu, bagaimana pula dengan nasib Hayati? 

Awalnya ia menikmati hidupnya dengan Aziz. Menjadi orang kota dan meninggalkan budaya desa. Namun Malang jualah menghampiri ia. Aziz kembali menjadi dia yang dulu. Aziz yang seorang penjudi, pemabuk dan pemain wanita. Hayati hanya meratapi nasibnya yang mulai berubah seiring perubahan sikap Aziz yang sudah mulai bertindak kasar dan sering pulang larut malam. Itu berlangsung saat Aziz dan Hayati pindah pula ke Surabaya.

Aziz bangkrut. Harta kekayaannya habis karena judi. Bahkan perabot hingga rumahnya ikut disita oleh bank.

Pada suatu malam pertunjukan yang disutradarai oleh Zainuddin dengan inisial "Z", Zainuddin sengaja mengundang mereka berdua melalui sebuah komunitas anak Minang di Surabaya. Disanalah Aziz, Hayati dan Zainuddin bertemu muka. Namun Zainuddin bersikap biasa saja hingga mereka menjalin persahabatan.

Kemurahan hati Zainuddin membawa Aziz dan Hayati tinggal di rumahnya karena Aziz telah bangkrut dan tiada tempat tinggal. Hingga Aziz pamit mau mencari kerja dan meninggalkan Hayati seorang diri di rumah mantan kekasihnya. Akhirnya dapatlah sepucuk surat berisi talak dari Aziz untuk Hayati, permintaan maaf Aziz kepada Zainuddin, mengembalikan kembali Hayati kepada Zainuddin, sekaligus kabar bahwa ia telah bunuh diri sebagai hukuman untuk dirinya sendiri yang zholim.

Bersamaan dengan surat yang berisi talak Aziz kepada Hayati, permintaan maafnya kepada Zainuddin, terlampir pula surat kabar yang memberitakan bahwa Aziz telah bunuh diri di sebuah hotel

Disinilah kita juga ikut terbawa oleh alur kisahnya. Zainuddin tak lagi hendak menerima Hayati meski ia masih mencintai sosok Permatanya itu. Sakit hatinya masih terasa. Belum lagi makian dan hinaan dari ninik mamak Hayati masih jelas di ingatan Zainuddin. Zainuddin berkata,
"Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda makan sisa", (Hal 228)

Lalu Zainuddin mengembalikan Hayati ke Padang. Kepada ninik mamaknya. Disinilah tragedi terjadi. Hayati tenggelam bersama penumpang lain di Kapan Van Der Wijck. Ia telah menitipkan surat kepada Abang Muluk untuk Zainuddin. Saat Zainuddin hendak menjemput Hayati dan membawanya kembali ke Surabaya, telah tersiar berita bahwa Kapal Van der Wijck yang Hayati tumpangi telah tenggelam.

Beruntung Zainuddin masih bisa menemukan Hayati dalam keadaan bernyawa dan sempat bicara hingga pada akhirnya nyawa Hayati benar-benar tak tertolong lagi.

Review Novel:


Banyak orang tak asing dengan cerita yang satu ini. Dan sebagian besar orang taunya dari film-film yang meski sudah ditonton beberapa kali tetap saja mampu membuat kita terbawa perasaan.

Padahal membaca ulang cerita ini dalam Novel aslinya juga tak kalah menarik meski sudah tau jalan ceritanya. Karena tetap saja antara buku dan film memiliki perbedaan. Di dalam novel ini semua dijelaskan secara apik. Tentang asal usul Ayah Zainuddin, tentang asal-muasal Zainuddin dari Madura sampai ke Minangkabau, surat-surat cinta, kekecewaan, permohonan, keputusan antara Hayati dan Zainuddin, dll.

Dapat pula saya terangkan bahwa dalam novel ini buya Hamka menggambarkan bahwa pada zaman dahulu surat-menyurat sangatlah akrab sebagai alat komunikasi.

Dan kita juga makin tau bahwa hal yang paling ingin disentil oleh Buya Hamka adalah tentang adat-istiadat yang begitu erat. Sehingga selintas terkesan sombong dengan adat Minangnya itu. Seolah negeri/daerah lain tidak beradat. Ini tergambar jelas dalam watak ninik mamaknya Hayati. Dalam novel juga ada dikatakan sebagaimana perkataan ninik mamak Hayati, Engku Datuk,
"Negeri kami beradat, tanah Minangkabau yang kaya raya, yang beradat berlembaga, yang tak lapuk dihujan, tak lekang dipanas".

Membaca novel ini, terus terang saja membuat saya membandingkanya dengan film. Hampir dan nyaris sama. Hanya saja jika di novel semua diulas dengan detail. Tentang tokoh, tempat, sejarah, isi surat, dll.

Satu hal yang membuat sudut pandang saya berbeda setelah membaca novel ini, yaitu saya tidak begitu menyalahkan Zainuddin karena ia yang tidak mau memaafkan Hayati dan memulangkannya ke Padang. Padahal sebelumnya saya menyesali sikap Zainuddin, harusnya ia memberi maaf kepada Hayati dan hidup bahagia. Mengapa demikian? Karena sudah jelas-jelas Hayati melanggar sumpah janji setianya yang begitu berat seperti yang saya kutip di awal tadi. Ya meskipun tetap awal mulanya karena ninik mamak.

Namun, bukankah ninik mamaknya bertanya kepada Hayati dahulu sebelum menerima pinangan Aziz? Bukankah Hayati masih punya kesempatan untuk menentukan kisah Cinta sendiri bersama Zainuddin?  Bukankah Hayati bisa menolak dan berjuang susah senang demi cintanya dengan Zainuddin? Belum lagi tatkala di awal-awal pernikahan, Hayati begitu bahagia dengan Aziz sehingga melupakan janji dan harapan dengan kekasihnya Zainuddin. Sebelum Aziz berubah.

Ah! Hayati. Sungguh saya kecewa sendiri sebagai perempuan, kecewa dengan watak tokoh ini. Apalagi pada cerita saat Hayati datang bersama Aziz menjenguk Zainuddin yang sakit keras sebab olehnya. Ia datang dengan tangan berinai. Dengan terus menoleh kepada suaminya. Saya merasa 'muak' akan sikap Hayati pada bagian kisah ini. Oya, disini saya tidak memandang dalam sesi agama tentang status Hayati yang sudah jadi istri Aziz ya. Tapi saya memandang Hayati adalah kekasih Zainuddin yang berkhianat dan menikah dengan orang kaya berbangsa, beradat, berketurunan.

Meski pada akhirnya Zainuddin jua meninggal dalam keadaan penuh penyesalan karena telah memulangkan Hayati ke ninik mamak yang justru menghantarkan nyawa Hayati.

Baiklah, kembali lagi ke novel, Isi dalam novel ini juga cukup mudah difahami dan dihayati. Jumlah halaman novel ini terbilang sedang. Tak begitu tebal pun tak begitu tipis. Jika sudah masuk kepada kisah dimana Zainuddin di usir, maka rasanya kita tak ingin berhenti melanjutkan kisahnya.

Novel atau kisah ini menarik sekali untuk kita telaah. Untuk kita perbincangkan dan review ulang bersama teman-teman. Barangkali kita memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang watak tokohnya. Dan menurut saya novel ini juga Bagus dijadikan bahan penelitian.

Saya pribadi tentu merekomendasikan buku ini untuk teman-teman baca. Agar kita tau serta belajar tentang perjuangan cinta, kesetiaan, adat-istiadat, memaafkan, hingga sebuah hukum karma.

So, selamat membaca. 😊🤗






1 comment

  1. Jujur saya rada ngeri bacanya kak, ga kebayang dramatis sekali nasib mereka ya. Kalau bicara cinta dan pernikahan mari kita kembali sesuai syariat ya agar tidak ada kecemasan kegelisahan dll. Karena semua sudah digariskan. Ini kisah bikin kuduk merinding.

    ReplyDelete

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah

Komunitas Blogger Bengkulu (BoBe)