Review Novel Terusir: Kisah Seorang Ibu yang Diusir Oleh Suaminya


Hallo, kali ini aku masih mau mereview novel karya buya HAMKA kembali nihh. Semoga kalian suka ya dengan review dariku.

Judul : Terusir
Penulis: Hamka
Penerbit: Gema Insani
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: 136 hlm
Ilustrator sampul: Kurnia Dewi Hernawan
Cetakan ke-: 1
ISBN: 978-602-250-929-0

Sinopsis:

"Aku ingat kembali malam itu, hujan rintik-rintik yang turun di atas rumah, di bawah udara bulan November yang amat sejuk, aku berjalan seorang diri tak tentu arah. Di hadapan rumahmu aku terdengar tangisan anakku memanggil-manggil ibunya. Aku pada mulanya hendak kembali sekurang-kurangnya untuk menciumnya dalam tidur, tetapi engkau usirku sekali lagi, engkau maki aku dengan perkataan-perkataan yang berat-berat" (Hal 5)

Itu adalah penggalan surat terakhir Mariah kepada suaminya Azhar yang mengusirnya sebab difitnah keluarga Azhar. Azhar mengusirnya tanpa ampun. Setelah pergi dari rumah itu, berulangkali Mariah mencoba mengirim surat untuk meluluhkan hati Azhar. Hingga surat terakhir seperti yang saya kutip itu Mariah tulis. Azhar tak bergeming hingga sahabatnya H. Abdul Halim datang dan menasehati sikap Azhar yang terburu-buru. Ia menyesal dan berusaha mencari. Namun tak jua ketemu.

Dari Medan, Mariah telah bertolak ke pulau Jawa. Mengikuti majikan barunya yang baik hati. Lalu majikannya pindah ke Eropa. Mariah menikah dengan Yasin. Sama-sama pekerja di rumah majikannya dahulu. Namun Yasin hanya ingin emas milik Mariah saja. Setelah mereka cerai, Mariah mencoba cari penghidupan yang halal. Namun tak jua ketemu. Hingga akhirnya ia memutuskan menjadi wanita lacur.

Bagaimana dengan Sofyan, anaknya? 

Ia telah tumbuh menjadi orang hebat. Menjadi hakim. Dinamakan Master pada masanya. Ia bertunangan pula dengan wanita cantik bernama Emi. Namun seseorang bernama Wirja yang telah ditolak Emi lamarannya berniat jahat kepada Sofyan. Berusaha menjebak Sofyan melalui pelacur. Namun gagal.

Wirja marah akan kegagalan wanita itu. Dan ribut di rumah hina tempat pelacuran.  Disana terdapat pula Mariah yang telah mengganti nama menjadi Neng Sitti sejak ia menjadi pelacur. Ia mendengar semua pembicaraan tentang niat busuk kepada anaknya. Setelah wanita penggoda tadi pergi, ia memohon kepada Wirja untuk tidak mencelakai anaknya. Karena itulah satu-satunya semangat hidup Mariah meski hanya bisa melihat anaknya dari kejauhan.

Surat permohonan Mariah kepada Azhar setelah diusir

Ia menceritakan semuanya kepada Wirja tentang status ia sebagai Ibu Sofyan dan kisah terpisahnya mereka. Wirja justru ingin menggunakan itu untuk menjatuhkan Sofyan. Mariah memohon agar tidak dilakukan. Namun tetap menolak hingga Mariah memutuskan untuk membunuh Wirja menggunakan belati.

Mariah dipenjara. Hingga kasusnya dibuka kembali 4 bulan kemudian, ternyata yang menjadi pembelanya adalah Sofyan. Anaknya sendiri.

Di hari persidangan, hadir pula Azhar, H. Abdul Halim, Emi dan Ayah Emi turut menyaksikan kasus Sofyan di meja hijau membela wanita pelacur yang tertuduh sebagai pembunuh.

Hakim meminta Mariah menceritakan asal muasalnya ia membunuh. Mariah menceritakan tanpa menyebut nama orang yang dibelanya yang akan dicelakai oleh Azhar. Khawatir namanya jadi buruk beribukan pelacur. Azhar terkejut dan pucat saat pertama melihat Mariah, mantan istrinya. Begitupun saat sidang berlangsung. Azhar tidak mengatakan siapa wanita yang dibela itu kepada Sofyan. Ia hanya meminta Sofyan membela dengan segenap kemampuannya.

Setelah pembelaan dilakukan, saat keluar dari ruangan sambil menunggu keputusan dewan hakim, Mariah justru meninggal dunia terlebih dahulu. Namun ia dapat mencium kening anaknya dan memeluknya dengan penuh haru.

Berbulan kemudian, saat Azhar sakit keras, barulah ia menceritakan kejadian sesungguhnya kepada Sofyan. Tentang siapa wanita tua yang ia bela serta kejadian dahulu kala sebab musabab ia diusir.

Review:


Buku ini tergolong tipis. Hanya 136 halaman saja. Kisahnya diceritakan dengan begitu ringkas namun padat. Membaca bukunya ini tidak butuh waktu lama. Hanya beberapa jam saja kita sudah bisa menamatkannya. Di dalam buku ini diceritakan bagaimana kehidupan wanita pada zaman itu. Apabila telah menikah maka kehidupannya bergantung kepada suaminya. Apabila ia cerai, pun tak dapat kedudukan baik lagi di mata keluarga. Diceritakan juga begitu banyak wanita yang terjun menjadi kupu-kupu malam karena berbagai alasan.

Beberapa kisah mampu membuat air mata saya menetes haru bercampur sedih.  Ikut larut didalamnya. Terutama pada moment dimana Mariah ingin mencium anak semata wayangnya yang sama sekali anak itu tidak mengenalnya.

Berikut kutipannya.
"Ibu seorang miskin, Ibu tak membalas jasamu yang begitu besar kepadaku! Sudikah engkau kuberi upahan sebagai tanda mata yang dapat engkau ingat selama hidupmu? Yakni tanda mata yang sudah lama pula, sudah berpuluh tahun kusimpan untukmu?" 
"Kalau Master suka, akan kuberikan tanda mata itu sekarang, sebelum aku menutup mata, yaitu ciuman seorang Ibu." (hal 117)

Novel ini rekomended untuk dibaca pada waktu luang teman-teman. Disana kita bisa mengambil banyak pelajaran. Terutama tentang kasih sayang seorang Ibu.

Selamat membaca.

No comments

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah

Komunitas Blogger Bengkulu (BoBe)