Review Novel "Tentang Kamu" by Tere Liye (Tentang Memeluk Semua Rasa Sakit)


Hallo semua, kali ini aku bakal buat review novel Tere Liye dengan judul Tentang Kamu.  Hayoo siapa disini yang sudah baca novelnya tapi pengen ngulang baca lagi saking seru dan bermaknanya ini novel? Hehe..  Langsung aja yuk! 

Judul: Tentang Kamu

Penulis: Tere Liye 

Penerbit: Republika Penerbit

Tahun terbit: 2016

Jumlah halaman: 524 hlm

Cetakan ke-: 2

Editor: Triana Rahmawati

Sinopsis:

Zaman Zulkarnaen, seorang pemuda asal Indonesia yang bekerja di sebuah firma hukum di Belgrave Square, London. Bernama Thomson dan Co. Ia ditugaskan untuk menyelesaikan sebuah kasus pembagian harta kekayaan seorang wanita Indonesia bernama Sri Ningsih yang telah meninggal beberapa hari sebelum surat itu sampai di sebuah panti jompo di London. Yang menjadi permasalahan besarnya, saat firma hukum mendapat surat permohonan penyelesaian kasus ini adalah tentang seluk beluk kehidupan Sri itu sendiri. Ia tinggal di panti jompo dengan meninggalkan harta trilyunan rupiah. Kok bisa? Ini lah misteri yang harus Zaman pecanegara. gar harta warisan ini terbagi dengan baik sesuai amanah almarhum. Ia harus mencari ahli waris dari Sri atau jika tidak ada ahli waris, ia harus menemukan surat wasiat Sri. Jika tidak bisa menemukan itu, maka semua harta kekayaan Sri akan diambil alih oleh Ratu Inggris. Kembali kepada negara. 

Petualangan Zaman dimulai. Bermodalkan sebuah diary milik Sri yang diberikan oleh Aimee, seorang pelayan setia di panti jompo tempat Sri menghabiskan sisa hidup. Diary inilah yang akan membantu Zaman menelusuri kehidupan Sri dari kecil, dari salah satu pulau terpadat di dunia. Desa Bungin, tanah pelosok kelahiran Sri. 

Sebuah petualangan investigasi kehidupan seorang wanita yang akan memberikan banyak pengalaman hidup untuknya hingga ia menemukan wanita tambatan hati di panti jompo. Yaitu Aimee. So sweettt! Hehe

Sri Ningsih kecil

Ia adalah anak seorang nelayan tangguh yang sangat baik hatinya, pekerja keras, penyayang, dan penurut. Sejak kecil ia kerap didera oleh penderitaan hidup. Ibunya bernama Rahayu, meninggal saat melahirkan Sri. Ayahnya bernama Nugroho yang sangat menyayangi Sri. Nugroho kemudian menikah lagi. Ia menikahi gadis cantik desa Bungin bernama Nusi Maratta. Awalnya semua sempurna. Nugroho kembali memiliki istri, Sri kembali mempunyai Ibu yang penyayang. Tapi semua berubah sejak Nugroho meninggal tenggelam di tengah laut karena ingin membelikan Sri sepatu. Sri tinggal bersama ibu tirinya dan adeknya yang masih bayi bernama Tilamuta. Nusi Maratta tidak terima dengan kepergian suaminya dan menganggap Sri penyebabnya. Ia mulai membenci Sri dan menyiksa Sri dengan menyuruhnya memasak, mengambil air, mencari bulu babi dan teripang untuk dijual, dll. Layaknya sebuah film ratapan anak tiri. Hiks!

Baca juga: Review Buku Benda Langit Bercerita

Namun Sri tetap patuh karena itu pesan terakhir ayahnya. Agar nurut ke ibunya tanpa membantah. Hingga ibunya meninggal karena kebakaran rumah. Dan Tilamuta berhasil diselamatkan oleh Sri. 

Sri Ningsih Remaja

Sri merantau, pergi ke Surabaya dan menjadi Santri di Madrasah Kiai Ma'sum. Begitu pula dengan adiknya. Di madrasah sini, Sri menjalin persahabatan dengan dua wanita pula di madrasah sini. Nur'aini (putri kiai Ma'sum) dan Sulastri atau mbak Lastri (anak asuh Kiai Ma'sum yang tumbuh dan besar hingga menikah di Madrasah. Namun sebuah pengkhianatan menghancurkan persahabatan mereka bertiga. Sulastri merasa iri dan dengki dengan Nur'ani hingga ia membelot menjadi pengkhianat madrasah.    

Malam pembunuhan secara sadis di Madrasah Kiai Ma'sum

Ditambah lagi termakan fitnah keji dari Musoh (suami Sulastri) yang mengatakan bahwa orang tua Sulastri dibakar oleh Kiai Ma'sum lalu mengambil Sulastri yang masih bayi. Disini diceritakan sebuah kisah tentang PKI. Penyerbuan terhadap madrasah dan pembunuhan terhadap kiai/ustadz/ulama. Dalangnya adalah pasangan Sulastri dan Musoh. Dibagian kisah ini saya mulai bergidik ngeri karena diceritakan pembunuhan secara sadis. Sri Ningsih selamat, Nur'ani dan suaminya selamat. Tapi Kiai Ma'sum dan anak cucunya yang lain mati terbakar terkunci di pabrik tebu. Santri banyak yang tewas dan salah satunya Tilamuta.

Sri Ningsih ke Jakarta

Yap! Sri ingin melupakan semua kenangan pahit ini. Sri yang kini menjadi sebatang kara tanpa adek lagi di sisinya memilih hidup baru di Jakarta. Disini diceritakan peristiwa saat monas tengah di bangun. Jakarta tempo dulu. Sri mulai mencari pekerjaan. Dari menjadi guru, pedagang kaki lima, hingga membuka usaha nasi goreng gerobak keliling. Disini ia kerap berkirim surat dengan Nur'aini. Surat-surat mereka ini selanjutnya menjadi petunjuk bagi Zaman menelusuri hidup Sri. Sri tumbuh menjadi seorang pekerja keras pantang menyerah. Ia memiliki jiwa bisnis yang tinggi, terbukti Sri bisa membuat usaha rental mobil hingga mendirikan pabrik sabun mandi sendiri. Namun ia kemudian bertolak ke London setelah menjual pabriknya secara modern dan meninggalkan orang kepercayaannya, Catherina. Diduga ada 'hantu' yang menjadi penyebab keputusan mendadaknya ini. 

Ke London

Sri ke London. Dari menjadi bos kembali sebagai pencari pekerjaan. Namun ini bukan hal yang sulit bagi seorang Sri yang pekerja keras dan pantang menyerah. Ia menjadi supir bus andalan. Supir bus wanita satu-satunya, yang kemudian hari ia rajin mendapat penghargaan supir bus terbaik dari pemerintah London. Lalu ia bertemu keluarga Rajendra Khan. Keluarga pindahan dari India yang juga tinggal di London dan memberikan tempat tinggal untuk Sri di apartemennya. Kemudian keluarga ini menjadi keluarga angkatnya Sri. Disini pula Sri akhirnya bertemu jodoh. Baca kisah Hakan dan Sri untuk tau kisah cintanya. Namun kisah di episode ini kembali berakhir sedih. Sri dua kali kehilangan bayi hingga kehilangan suaminya. Ia sempat terpuruk namun kemudian bangkit lagi menjadi Sri periang dan selalu bisa memandang positif semua hal. Namun ia kembali bertemu sosok 'hantu' itu dan memilih kabur diam-diam dari keluarga Rajendra Khan. Sesuatu telah mengancamnya. Ia memilih tinggal di panti jompo. 

Panti jompo

Ini adalah episode terakhir dari kehidupan Sri itu sendiri. Ia menjadi penghuni yang disayang semua anggota panti jompo. Ia menebarkan semangat positif. Menjadi guru tari, berkebun, dll. Hingga sebelum wafat ia menitipkan sebuah surat melalui Aimee yang tertuju kepada firma hukum Thomson dan Co. Agar menyelesaikan kasus hak warisnya. Thomson dan Co adalah sebuah firma hukum yang terkenal dengan kinerjanya yang berintegritas tinggi. Totalitas dan jujur. Berbeda dengan firma hukum lainnya. 

Endingnya, Zaman bisa menyelesaikan amanah ini dengan baik. Akhirnya ia bisa membagikan semua harta warisan milik Sri secara adil sebagaimana semestinya berkat petunjuk-petunjuk yang ia dapatkan berikut dengan kelihaiannya mengaitkan satu peristiwa ke peristiwa lainnya.

Amanah Sri telah tertunaikan. Hartanya telah diberikan kepada yang berhak


Lalu bagaimana ia bisa menyelesaikan kasus pembagian harta Sri? Apakah ia menemukan ahli waris Sri? Atau surat wasiat?  Lalu siapakah 'hantu' penyebab Sri mendadak pindah di beberapa waktu? Bagaimana kabar Sulastri dan suaminya setelah menjadi dalang pembunuhan massal itu? Dan apakah benar Tilamuta belum mati? Jika masih hidup, bagaimanakah nasib Tilamuta dari kecil tanpa kakak semata wayangnya? Saya tidak akan menceritakannya disini. Kalau kamu penasaran, maka kamu wajib baca novelnya. Dijamin nggak bakal menyesal.

Baca juga: Menulis Sebagai Meditasi Diri

Lalu Sri bagaimana? Sri sudah beristirahat dengan tenang. Dengan bahagia. Ia telah memenangkan perjuangan hidup. Ia memang hidup dengan penuh luka dan cobaan. Namun Sri telah memeluk semua luka itu. Ia telah berdamai dengan kehidupannya sendiri yang mungkin bagi sebagian orang dianggap tidak beruntung bahkan mungkin tidak akan bisa setegar sosok Sri. Saya sendiri jika misal menjadi seorang Sri, rasanya hidup begitu berat. Sulit buat sanggup. 

Review:

Belajar dari kehidupan Sri

Juz kelima diary Sri Ningsih, juz terakhir dalam episode hidupnya,  bahwa ia telah berdamai dengan semua roda kehidupan. Ia telah memeluk semua rasa sakit

Jujur, membaca novel ini memberikan suntikan semangat tersendiri bagi saya. Juga tentang bagaimana kita memandang hidup. 

Kisah sosok Sri wajib dijadikan teladan agar hidup menjadi tenang dan damai seberat apapun cobaan yang datang. Meski mungkin akan sulit sekali menemukan watak seorang tokoh Sri dalam kehidupan dunia nyata. Sri yang polos dan selalu memandang positif setiap hal dan tak pernah berburuk sangka kepada orang lain meski hanya sebesar pasir. Padahal orang jahat sudah nyata di depan mata. 

Sri mengajarkan agar berjiwa ikhlas, bekerja keras, pantang menyerah, dannn yes! Memeluk semua luka. 

Bahkan saya pribadi kerap menangis membaca kisah demi kisah kehidupan Sri yang penuh pilu. Tak berbayangkan bagaimana jadinya jika itu terjadi di saya. Ditinggal ibu sebelum sempat melihatnya, ditinggal ayah, disiksa ibu tiri, dikhianati sahabat, adik yang meninggal dengan potongan dagingnya dimakan anjing akibat ulah sahabat sendiri, dua kali ditinggal mati bayi-bayinya, hingga menyusul pula suaminya. Belum lagi saat ia berjuang sendiri sebatang kara. Siapa yang mendengar keluh kesahnya? Ke siapa ia mengadu? Siapa yang menghapus air matanya? Hikss.. Benar-benar pilu. Benar-benar sedih. Manusia di dunia nyata sulit bisa menjalani ini saking kompleksnya penderitaan hidup. Atau mungkin Tere Liye terlalu lebay dalam mengkisahkan sosok Sri yang luar biasa?  Penilaian ada pada anda masing-masing. :-)

Belajar dari tokoh Zaman

Belajar dari kejujuran dan jiwa pahlawan tokoh Zaman

Zaman dalam kisahnya merupakan sosok yang jenius. Pintar sekali menghubungkan satu masalah ke masalah lain lalu mengambil benang merahnya. Ia juga merupakan sosok yang tak kenal putus asa. Pantang istirahat sebelum kerjaan beres. Juga ia adalah pengacara yang jujur dan berintegritas. Bahkan saya sempat mengambil quotes dari tokoh Zaman ini. 

"Jika berkata jujur akan membuat empat orang jahat terbunuh mengenaskan, sedangkan berbohong akan membuatnya selamat, maka pilihan apa yang akan diambil? Maka ia rela mati bersama empat orang jahat itu demi menegakkan kebeneran" 

Masyallah, luar biasa! Penegak hukum tanah air perlu meneladani sosok Zaman, nih. Hehe

Gaya tulis

Gaya penulisan di buku ini, ya memang gaya khas nya Tere Liye. Lugas dan tegas. Kisah yang kompleks, padat akan cerita dan padat akan makna. Komplit sekali. Juga sedikit banyaknya diselipkan pelajaran tentang firma hukum. Nilai moral di buku ini? Jangan ditanya lagi. Banyak dan apikkkk sekali. 

Menurut saya, endingnya juga tuntas. Tidak menggantung dan tidak menimbulkan tanda tanya. Sebuah ending yang membuat kita mau tak mau harus terima dengan jalan hidupnya Sri. Mungkin sebagian dari kita yang telah membaca novel ini akan berkata, "Harusnya hidup Sri bisa dibuat lebih baik dari ini, harusnya Sri bisa mendapat kebahagiaan yang lain dengan lebih "Wah". Namun tidak bagi Tere Liye. Yang sudah memberikan watak seorang tokoh Sri dengan sikapnya yang bersahaja. Cukup baginya memberi kisah untuk kebahagiaan Sri yang happy ending menikmati masa tuanya di panti jompo dengan orang-orang sepantarannya.

Sekian. Biar lebih puas dan tau kisahnya secara detail, baca novelnya aja langsung yuk. Btw, aku baca ini di ebook, ya. Bukan buku fisik. 


Selamat membaca 😊


No comments

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah

Blogger Perempuan Network

Komunitas Blogger Bengkulu (BoBe)