Jumat, 19 Mei 2017

Bocah di Lampu Merah



Aku mengendarai motorku dengan kecepatan yang tak biasa. Yachh.. aku hampir telat. Tinggal 10 menit lagi mata kuliah pagi ini dimulai. Belum lagi pelajaran ini diajari oleh dosen yang killer.
“Koq bisa yaa sampai kesiangan kayak gini. Subuh aja telat tadi. Huhh… “ aku menggerutu terhadap diriku sendiri.
Akibat terlambat inilah akhirnya aku harus meng-gas motor ku lebih ekstra. Waktu 10 menit tidak akan cukup jika aku membawa mototr buntut ini dengan kecepatan seperti biasanya yang mencapai 15 menit normal. Belum lagi banyak lampu merah disana-sini.
“Tittt..tittt..” suara mobil sebelahku mengklakson dengan kencang pertanda pengemudinya marah. Astagfirullah.. hampir saja aku tertabrak olehnya akibat motorku terlalu tengah.
“Ya Ampun Ira!! Kamu hati-hati donk, mau mati kamu? Udah gx sayang lagi sama nyawa kamu? Ingat!! Ibumu menunggumu di Kampung untuk kamu sukses. Bukan menggu mayatmu.!” Ahh.. aku menegur diriku sendiri.
Setelah melewati 2 lampu merah, akhirnya sekarang aku berada di lampu merah terkhir sebelum mencapai kampus kesayanganku. Seperti biasa, pemandangan di lampu merah ini tak asing lagi bagi masyarakat kota. Terutama sekali bagiku yang hampir setiap hari ketemu dengan lampu merah. Pengemis, pengamen, pedagang asongan, kendaraan bermotor yang mengambil ruas jalan sebelah kiri, dan masih banyak lagi. Tapi,,… kali ini ada yang beda!.
Bocah kecil itu, kira-kira berumur 12 tahun, dengan pakaian yang biasa saja,rambut yang lumayan rapi. Dengan wajah yang masih amat lugu, berjalan dengan membawa kardus yang ia sodorkan dari 1 motor ke motor lainya dan dengan 1 mobil ke mobil lainya. Aku mengamati anak itu dari jauh karena memang jarak motorku agak jauh dari dia.
Dengan wajah yang ramah, ia mengetuk mobil pengendara, namun tak ada respon. Lalu anak itu pergi ke mobil yang lainya. Setelah mengetuk mobil yang lainya lagi, sang pengemudi membuka pintunya namun bukan untuk memberi sedikit uang. Tapi untuk melambaikan tangan, seakan berkata “tidak ada uang kecil deekk..”
Aku terus mengamati bocah kecil ini. Setelah dari mobil ia beranjak ke pengendara motor, masih seperti yang sudah-sudah, anak itu tidak memperoleh apa-apa. Pengendara motor itu cuek. Dan kalaupun ia menoleh ke anak itu palingan dalam hitungan detik saja.
“Haduuhh.. apa salahnya sich memberi uang seribu atau dua ribu perak saja pak??” fikirku
Lalu anak itu mendekati motorku. Tapi anehnya ia melewati motorku begitu saja tanpa menyodorkan kardus kosong itu. Sekilas aku lihat gambar yang di tempel di kardus tersebut. Ada seorang anak yang terbaring di keranjang dengan perut yang diperban. MasyaAllah.. mulia sekali hatimu dek.. membantu temanmu yang lagi kesusahan dengan menggalang dana seperti ini.
Tak lama anak itu mengetuk mobil 1 lagi yang tepat berada di belakangku. Aku menoleh. Alhamdulillah mobil yang dibelakang ku itu terlihat memberi lembaran uang kertas ke dalam kardusnya.
Saat aku mengangamati bocah ini, Eh, tiba-tiba di depanku ada seorang bapak yang menawarkan kerupuk untuk dibeli. Lantas aku membeli kerupuk meski dengan harga yang lebih mahal dari biasa. Setidaknya dengan begitu aku bisa membantu melariskan dagangan pedagang  ini meski tidak seberapa jumlahnya.
Setelah itu aku memanggil bocah di lampu merah ini, ketika ia mendekat. Aku mengambil sejumlah uang dari dompetku dan manaruhnya ke dalam kardus, yang tadinya kosong sekarang sudah mulai berisi. Ketika ia mau pergi, aku lntas memanggilnya lagi.
“Dek sini bentar,!”
“Iya, Kenapa, Mbx?”
“Ini untuk kamu!” aku memberi kerupuk tadi kepada bocah ini
“Untuk aku mbx? Gratis?”
“enggak dek, ngutang” jawabku berkelakar sambil tertawa.
Anak itu itu tersipu, lalu berkata “Eh, makasih Banyak mbx, hati-hati di jalan ya?”
“iya dx, sama-sama dan terimaksih juga” aku membalas ucapan terimakasihnya dengan tersenyum.
Anak itu berlalu, dan aku melihatnya dengan perasaan terharu, bangga, dan bahagia. Meski anak itu masih kecil, tapi semngatnya dalam membantu sesama tak sekecil postur tubuhnya. Aku salut padanya. Dengan begitu sabar, ia menyodorkan kardus sumbangan kesana-kemari meski di bawah terik matahari yang puanass banget di siang hari ini. Kadang suaranya tak di dengar, di abaikan, di acuh. Kadang ditatap dengan sinis, tapi ia tetap sabar dan selalu tersenyum kepada pengendara. Tapi disaat ada yang memasukkan uang ke dalam kardus yang sejatinya bukan untuk dia, ia terlihat sangat bahagia. Mukanya berbinar, dan selalu mengucapkan terimakasih kepada pengendara dan mendoakan penendara tersebut. Sepertinya kita memang harus banyak belajar pada bocah di lampu merah ini.
Tittt… eh, ternyata udah lampu hijau. Cuss.. aku meng-gas motorku lagi teringat dengan waktu yang semakin sempit.  Dalam hati aku berdo’a, “Jangan terlambat, Ya Allah. Aaminnn…”
This entry was posted in

Aku Mencintaimu, Cinta



Namaku Kasih, Lengkapnya Kasih Az-Zahra. Aku seorang Mahasiswa di Universitas ternama di Kota Bengkulu. Aku ke Bengkulu dengan bekal do’a dan dukungan dari kedua orang tua serta keluarga. Meski ekonomi keluarga kami pas-pasan bahkan bisa dibilang tidak mampu, namun itu tak menyurutkan niatku untuk mencari ilmu di kota yang katanya penuh dengan tantangan. Awalnya memang aku kurang mendapat dukungan dari orang tua, namun karena aku mendapatkan beasiswa, dan dengan susah payah aku memberikan penjelasan kepada orang tua, akhirnya aku berangkat ke Bengkulu dengan modal nekat dan sedikit uang pegangan untuk jaga-jaga.
Awal di kota, aku tinggal bersama dengan salah satu kenalan dari ibu. Aku dititpkan disana selama kuliah. Awal rencana, memang untuk selamanya. Namun pada suatu hari ada temanku yang namanya Cinta Alea mengajakku untuk tinggal 1 kost-an denganya. Akhirnya aku pindah. Yaa sejak saat itu aku menjadi sahabatnya Cinta. Kami melakukan berbagai hal bersama. Susah senang selama menjadi anak kost-an kami rasakan berdua. Namun, kami memiliki watak yang berbeda Cinta memiliki watak yang lembut, penyabar, dan rajin Sedangkan aku, keras kepala, dan belajar cuma kalau ada tugas saja. Namun, aku selalu berusaha menjadi pribadi yang makin hari makin membaik dengan dibantu oleh Cinta.
Namun beriring waktu, sifat Cinta berubah. Ia sudah bukan lagi seperti Cinta yang aku kenal dulu.sekarang bicaranya sering kasar kepadaku, cuek, dan senyumnya yang selalu ia beri padaku, bahkan sekarang dapat aku hitung berapa kali ia tersenyum lagi untukku.
Suatu hari…
“Cin, kamu ada kegiatan nggak hari ini?”
“Kenapa?”
“Kita ikut pengajian yookk.. itu di Masjid Agung Muttaqin ada pengajian akbar yang menghadiri ustadz M.Arifin Ilham. Kamu mau, Ya?
“Wahh…keren tu. Tapi maaf ,Kas. Aku gak bisa.”
“Loo.. kenapa?”
“Ah, kamu ini pengen tau aja urusan orang lain. Gak usah kepo dech!”
Ketika Cinta udah bicara gitu, aku hanya diam. Aku males berdebat denganya kali ini. Sudah gak terhitung lagi berapa kali kami bertengkar. Dan akhirnya aku pergi ke pengajian sendiri tanpa ditemani Cinta.
Aku mulai berfikir, kenapa Cinta berubah yaa? Apa aku ada salah? Terus dia selama ini kemana aja? Koq sering pulang malam? Ahh.. entahlah..
Aku mengikuti Tabligh Akbar ini dengan saksama. Materinya menarik sekali, “Hijrah Hati, Hijrah Diri” pas banget seperti yang aku rasakan saat ini. Namun, ketika aku lagi focus mendengarkan ustadz menyampaikan Tausiahnya, tiba-tiba handphone didalam tas ku berdering. Nomor baru, Segera aku angkat meski dengan suara yang dipelankan.
“Assalamualaikum..” sapaku
“Waalaikumsalam.. Kasih, kamu dimana?” aku mendengar suara Cinta bertanya dengan terisak.
“Kamu kenapa, Ta?” Tanyaku penasaran
“Aku di rumah sakit, aku kecelakaan.”
Aku kaget dan setelah menanyakan dimana alamat rumah sakitnya, aku langsung berangkat tanpa menunggu pengajian ini usai. Bagaimanapun, cinta adalah sahabatku, meski akhir-akhir ini ia sering membuatku kesal, tapi sekarang ia sangat membutuhkan aku.
“Astaghfirullah..Cinta.. kenapa bisa jadi seperti ini?” Tanyaku cemas, ketika sampai di rumah sakit dan melihat kepalanya di perban.
Namun, Cinta tak menjawab.. lalu aku melihat air mata keluar dari pipinya. Aku berusaha memberi kekuatan pada Cinta. Aku menggenggam tanganya. Aku tau pasti sekarang ia merasakan sakit. Beberapa menit kemudian akhirnya Cinta bicara
“Maafkan aku, Ya, Kasih.. aku udah membuat kamu cemas.” Ucap Cinta lirih.
“Iya, gx apa-apa.. yang penting sekarang kamu harus sembuh. Oya, emang nya kamu kenapa kecelakaan? dan juga kamu pergi kemana, Ta?
Akhirnya Cinta menceritakan bahwa ia pergi menemui David, lelaki yang pernah dekat dengan Cinta beberapa lama ini, namun Cinta tidak pernah menceritakanya sedikit pun padaku. Cinta malu mengatakanya. Lalu Cinta bercerita bahwa kedekatanya sudah mencapai 2 bulan, dan kemarin David WA bahwa ia ingin ketemu. Ahh.. aku kesal sama Cinta ternyata ini yang membuatnya berubah dan cuek sama aku. Karena lelaki.
Lalu Cinta melanjutkan ceritanya bahwa ia pergi menemui David dan berfikir bahwa David akan mengungkapkan perasaanya. Ketika Cinta dan David lagi makan bersama, tiba-tiba seorang wanita datang dan menampar David. Wanita itu mengaku lagi hamil anaknya David. Persis seperti Sinetron. Itulah yang membuat Cinta menjadi blank hingga akhirnya motor dia terserempet oleh mobil dan Cinta kecelakaan.
Ah.. aku kesal sama Cinta. Tapi mau gimana lagi, semua sudah terjadi.
“Kenapa Sich kamu gak mau jujur sama aku, Cinta? Setelah terjadi seperti ini kamu baru mau cerita?. Batinku kesal. Yaa.. tentu saja aku kesal. Dia selama ini cuek sama aku cuma gara-gara laki-laki yang gak jelas itu. Laki-laki yang bukan siapa-siapanya Cinta. Bukan Suaminya. Belum lagi aku kesal karena dulu Cintalah yang menasehatiku bahwa jangan mudah tergoda dengan laki-laki. Tapi sekarang malah ia yang tergoda. Ah wanita.. perasaanmu lemah sekali.
Aku memeluknya dan berkata “Aku menyayangimu, Cinta. Sebuah rasa sayang dari sahabatmu yang tak akan engkau dapatkan dari laki-laki itu. Aku kecewa sama kamu, tapi percayalah aku akan selalu menjadi sahabatmu. Mulai sekarang jangan ada lagi rahasia diantara kita kalau kamu menganggap aku sahabatmu.” Ucapku pada Cinta.
Cinta membalas pelukanku dengan erat sambil berkata “Aku minta maaf, Kasih.. aku tak akan mengulanginya lagi.”
Kami sama-sama meneteskan air mata. Persahabatan yang telah kami bangun bersama jangan sampai rusak karena laki-laki yang bukan siapa-siapanya kami.
Yaa.. cinta kami murni. cinta dari sahabat dan untuk sahabat, cinta dengan berlandaskan cinta kepada Allah. Cinta untuk saling mengingatkan kala lupa. Cinta yang selalu menasehati dalam kebaikan. Cinta untuk saling memotivasi agar sama-sama maju. Agar sama-sama menjadi orang yang dicintai oleh Sang Maha Cinta. Seperti Cinta Kasih terhadap Cinta. Cinta Tak mesti dengan lelaki yang belum tentu menjadi suami kita, Tapi Cinta bisa untuk siapa saja.
Cinta, Aku mencintaimu karena Allah
This entry was posted in