Budayakan Sensor Mandiri, Menonton Sesuai Usia

sumber: Toolkit yang dibagikan oleh LSF

Assalamu’alaikum wr.wb

Apa kabar ni teman-teman semuanya, kali ini aku bakal share ulang kegiatan talkshow kerja sama antara Lembaga Sensor Film RI dengan Blogger Bengkulu. Kegiatan yang dilaksanakan pada

    Hari/tanggal   : Rabu, 29 Sept 2018

    Pukul               : 08.00 – 12.00
   
    Tempat            : Konakito, Tapak Paderi

sumber: Instagram Blogger Bengkulu

Dan yang menjadi narasumbernya adalah Ibu Noor Saadah, M. I. Kom (anggota komisi II LSF, Bidang Hukum dan Advokasi). Serta Narasumber yang kedua adalah Ibu Milda Ini (Founder dan Ketum Blogger Bengkulu).

kedua pemateri: Ibu Milda Ini (kiri) dan Ibu Noor Saadah (kanan)

Apa saja materi yang disampaikan oleh kedua materi? Berikut beberapa point yang dapat saya sampaikan dari talkshow tersebut:


Apa itu Sensor Mandiri?


Toolkit

“Sensor Mandiri adalah Prilaku setiap orang yang secara sadar dalam memilah dan memilih tontonan”.

Sensor mandiri bisa dilakukan oleh siapa saja. Jika orang dewasa ia bisa memilah dan memilih sendiri tontonan yang pantas dan layak untuknya. Namun untuk anak-anak, maka orang tua lah yang memilih dan memilih tontonan yang layak dan pantas untuk anak-anak mereka.

peserta fokus mendengarkan materi

Di zaman digital yang sekarang ini ada banyak sekali jenis tontonan yang disajikan kepada kita. serta kemudahan dalam menonton juga sangat mendukung sekali dengan kemajuan teknologi. Misalnya:

• Kita dapat menonton film apa saja

• Kita dapat menonton film kapan saja

• Bisa menonton dengan siapa saja

• Dan bisa mengakses film dimana saja berada


Lalu, bagaimana memilah dan memilih tontonan?


Ada beberapa yang harus kita perhatikan dalam menonton film, yaitu:

sumber: toolkit LSF

• Film untuk usia berapa?


• Film tentang apa?

• Bagaimana gambar, adegan, dialog dan suara dalam film

• Adakah hikmah yang dapat diambil dari film?


Mengenai usia dalam menonton, LSF telah mengklasifikasikanya ke dalam beberpa kategori.


sampul belakang majalah sensor film yang dibagikan oleh LSF

Yapp.. hal itu karena setiap film ada klasifikasi batasan usianya. Baik itu film di bioskop maupun di stasiun TV. Kategori klasifikasi usia yang telah ditetapkan Lembaga Sensor Film tersebut adalah:

 1. SU (Semua Umur)

sumber: majalah sensor film yang dibagikan oleh LSF

SU ini berisi judul, tema, gambar, adegan, suara, teks terjemahan yang tidak merugikan perkembangan kesehatan fisik dan jiwa anak-anak. Pada SU ini, anak-anak dibimbing :

a. Mengenal keanekaragaman

b. Mengenal mana yang fakta dan fantasi

c. Dibimbing mengenal persamaan dan perbedaan dengan tujuan meningkatkan keterampilan membedakan mana yang baik dan buruk.

d. Menghindari  film yang mengandung kekerasan fisik, adegan berbahaya dan perilaku penyimpangan seksual/seksualitas,

e. Menghindari film/iklan film mengandung agresivitas, antisocial, film-film menakutkan, klenik, perdukunan, mistis, tahayul (Semua hal yang bertentangan dengan norma agama),

f. Menghindari film/iklan film yang mengandung perjudian, minuman keras, dan zat adiktif.

baca juga: Nginang, Tradisi Makan Sirih yang Hampir Punah

2. 13+ (Penonton usia 13 tahun atau lebih)


sumber: majalah sensor film yang dibagikan oleh LSF

Film dan iklan film dengan kode 13+ berisi judul, tema, gambar, adegan, suara, dan teks terjemahan yang:

a. Mengandung nilai pendidikan, budi pekerti, apresiasi, estetika, kreatifitas, dan pertumbuhan rasa ingin tahu yang positif.

b. Tema, judul, adegan visual serta dialog dan/atau monolog cocok untuk anak-anak yang beranjak remaja.

c. Tidak menampilkan adegan yang mudah ditiru seperti adegan berbahaya dan adegan pergaulan bebas yang berlainan jenis atau sesama jenis.


3. 17+ (Penonton usia 17 tahun atau lebih)

sumber: majalah sensor film yang dibagikan oleh LSF

Film dan iklan film dengan kode 17+ berisi judul, tema, gambar, adegan, suara, dan teks terjemahan yang:

a. Mengandung nilai pendidikan, budaya, budi pekerti,,, apresiasi, estetika, dan pertumbuhan rasa ingin tahu yang positif

b. Tema, judul, adegan visual derta dialog dan/atau monolog yang cocok dengan penonton berusia 17 tahun ke atas

c. Berkaitan dengan seksualitas yang disajikan secara proporsional dan edukatif

d. Berkaitan dengan kekerasan yang disajikan secara proporsional

e. Tidak menampilkan adegan sadism


4. 21+ (Penonton usia 21 tahun atau lebih)

Film dan iklan film dengan kode 21+ berisi judul, tema, gambar, adegan, suara, dan teks terjemahan yang:

a. Dialog atau monolog yang cocok untuk orang dewasa, seperti permasalahan keluarga

b. Adegan visual dan dialog tentang seks serta kekerasan dan sadisme tidak berlebihan

c. Penayangan di televise setelah pukul 23.00 sampai dengan 03.00 waktu setempat.

baca juga: Review Buku Makrifat Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah

Lalu bagaimana tips menonton film?

foto bareng peserta dan pemateri

1. Dampingi anak saat menonton

2. Pilih film yang sesuai usia anak

3. Batasi jam menonton

Bagi anak-anak maksimal durasi menonton 2 jam.

4. Mengingatkan hal-hal baik yang patut ditiru dan penanaman nilai-nilai positif.

Okay, sepertinya itu saja yang dapat saya simpulkan, semoga bermamfaat. Mulai sekarang,

“Mari Menonton sesuai Usia”.
sumber: toolkit

Jaga diri kita, anak-anak dan keluarga kita dari dampak buruk film yang tidak sesuai standar LSF. Agar tontonan yang baik menjadi tuntunan.

foto bersama blogger bengkulu dengan tim LSF RI

Wassalamu’alaikum wr.wb
berikut cuplikan video suasana Talksow








Disclaimer: Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog #nulisserempak yang diadakan oleh Blogger Bengkulu bersama LSF RI

18 komentar

  1. Jangan salah, kadang katanya film anak. Eh ada juga adegan dewasanya atau omongan ga anak2. Jd harus lebih waspada

    BalasHapus
    Balasan
    1. dulu pernah ada plesetan lho, di jaman masih ada rental VCD, biar enak di dengar orang pesan CD nya filem anak. Filem yang bajunya minimalis atau tanpa sekali, kayak anak anak.

      Hapus
    2. Betul jga itu nak. Pak anton .

      Hapus
  2. Kalo sesuai dengan usia kita pasti dapat tontonan yang sesuai

    BalasHapus
  3. Lengkap yaaa informasinya, fotonya bagus bagus, ajarin foto dong. Em mengenai film kayaknya perlu banget sensor film mandiri biar gak jadi korban sinetron wkwk

    BalasHapus
  4. Betul nian kita sebagai orangtua harus mawas diri terhadap tontonan anak-anak...

    BalasHapus
  5. Kalau di youtube dulu aku login pake akun sendiri sejak 2011, jadi ga pernah dapat tontonan 18+. Tapi kalau sekarang anak-anak buka youtube dari hape orangtuanya yang akses 18+ udah terbuka.. Meskipun nggak buka ke arah situ tapi ada aja satu dua yg nyeleneh.

    Aktifkan mode anak yak ibu ibu bapak bapak jangan lupa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah beda yg dlu dg skrng. Skrng mah akdang ortu nggak mikir lag tontonan apa anaknya di yt. Heheh

      Hapus
  6. Acara kemarin seru banget ya dek. Sayang, mba gak minat foto-foto soalnyaaa ..... soalnya ..... mba tu belum mandi haha. Jadi kegerahan sendiri euy! :(

    BalasHapus
  7. Seru banget ya dek. Dapat ilmu baru seputar perfilman. Yeyeyy! :)

    BalasHapus
  8. Acaranya the best kapan2 semoga diundang pemateri yang kece lainnyaa

    BalasHapus
  9. Ya ini yang penting, menonton sesuai dengan usia, film rating dewasa gak usah anak-anak tonton. Mari selalu awasi anak-anak kita.

    BalasHapus