Ruang Melati, Tentang Seorang yang Pernah Hadir


"Adekkk!!!!... ", sebuah suara memanggilku. Suara yang dimiliki seorang perempuan bertubuh pendek dan sedikit berisi.
Aku menoleh,  mancari sumber suara. "Siapa?", dalam hatiku bertanya.

Mataku terus mencari. Oh, dia ada di kerumunan orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Di antara motor yang terparkir rapi.
 "Siapakah wanita cantik yang tersenyum ke arah ku itu?", Lagi, Aku membatin.

(Di sebuah Rumah sakit terkenal di Ibukota).

Fajar pagi mulai menyingsing.
Sebelum adzan subuh berkumdang, aku telah lebih dahulu bangun dengan semangat. Menghirup aroma pagi yang begitu segar. Menghayati tetes-tetes embun yang begitu menyenangkan. Ya!  Aku dengan semangatku, selalu mampu menghibur diri meski dalam keadaan paling lemah sekalipun. Siapa lagi yang bisa memotivasi diri sendiri selain dari kita?  Saat orang lain sudah tidak bisa satupun yang diharapkan, maka diri sendiri adalah satu-satunya andalan. Satu-satunya harapan.

Adzan telah berkumandang, sholat subuh pun ditegakkan. Sebuah gerakan spritual yang mampu menyuntikkan denyut-denyut harapan agar kian tertanam.

Aku satu-satunya pasien termuda, paling energik, dan paling cantik dalam versiku. Haha.. Ya!  Aku merasa paling cantik dan sumber perhatian semua pasien dan perawat disini. Aku juga dikenal begitu ramah. Hampir di semua sudut rumah sakit yang sebesar itu mengenalku. Itu juga dikarenakan aku yang terbiasa menemani bibi penjual sayur menjajakan sayurannya di sekeliling rumah sakit. Menawarkan dari satu ruang, ke ruang lain. Dari satu poli ke poli lain.

Sudah lama aku dirawat di rumah sakit besar di kota ini. Hampir 2 bulan. Aku yang awalnya menyukai suasana sini, mulai merasa bosan. Aku ingin bebas. Ingin keluar tertawa bersama orang-orang sehat lainnya. Namun keluarga tak jua menjemput untuk membawaku pulang. Katanya aku sedang masa pemulihan. Selalu itu yang mereka katakan. Ntahlah, aku sendiri bahkan tidak tau apa sakitku. Hey!!!!  Aku sehat!  Aku selalu merasa baik-baik saja. Apa yang salah dengan fisikku?  Bisakah mereka menjelaskan? Hanya saja aku pernah pinsan hingga tak sadarkan diri.

Di suatu pagi yang cerah, suasana rumah sakit ini berbeda dari biasanya. Ramai. Banyak anak-anak muda berseragam putih, mengenakan jilbab dengan list warna biru dan hijau, senada dengan sepatu putih. Mereka bertebaran di rumah sakit. Berada di berbagai ruangan yang sepertinya sudah ada penempatan tersendiri. Begitupun ruanganku. Sudah ada beberapa yang menempati.

Karena aku yang penasaran, akhirnya mencari tau sendiri. Mereka adalah anak-anak kuliah kesehatan yang sedang magang. Masih muda dan cantik-cantik.

Bukan hanya itu, mereka juga ada yang dikhususkan merawatku. Ada 3 orang yang khusus menemaniku. Mengajakku mengobrol, bercerita panjang lebar, bercanda. Aku lupa namanya, namun aku ingat satu nama. Dia berbeda dari yang lain. Cantik dan penuh semangat.

"Riani mau motong rambut?", tanyanya kepadaku. Saat itu, rupanya mereka ada program potong rambut buat pasien yang rambutnya panjang. Pasien wanita maupun laki-laki.

"Enggak kak, Riani takut nyesal. Biasanya kalau orang udah motong rambut, akhirnya dia nyesal karena sudah motong".

"Oh iya, kak Selvi nggak potong koq kalo Riani nggak mau. Lagian rambut Riani cantik. Panjang, hitam, dan lurus. Sayang kalo dipotong. Yang penting dirawat saja yaaa.. Awas kutuan loh", katanya sambil berkelakar.

"Paling nanti kalau kutuan, kak Selvi yang aku tularin pertama kali.  Hahaa", kami tertawa bersama.

Lalu akhirnya atas permintaanku, rambutku cukup di potong ujungnya saja. Karena ujung rambut yang mengering.

Berminggu-minggu kemudian, waktu berlalu dengan begitu cepatnya.

"Dek, hari ini hari terakhir kita bertemu yaa. Besok magang kakak berakhir", katanya dengan wajah sendu. Pantas hari ini dia terlihat tidak bersemangat. Padahal dari tadi kami mencabut rumput di halaman belakang rumah sakit berdua. Karena hari ini merupakan jadwal gotong royong bersama.

"Hmmm.. Kapan lagi kita ketemunya, Kak?" tanyaku dengan ekspresi yang biasa saja. Aku tidak merasa sedih seperti yang ia rasa.  Datar. Itulah perasaanku. Toh, nanti juga pasti ketemu. Kan Kak Selvi bisa menjengukku disini. Fikirku.

"Kakak nggak tau, Dek. Kapan ketemunya. Tapi yang jelas adek harus cepat sembuh ya!  Nggak boleh sakit lagi. Kan Riani punya cita-cita yang tinggi. Pengen sekolah, kuliah, dan jadi orang yang sukses. Semangat!  Okay?", ucapnya sambil mengepalkan tangan dan mengangkat ke atas.

"Iya donk!!  Pasti semangat". Balasku dengan gerakan tangan yang sama.

Namun, setelah hari itu, kami tak lagi bersua, media sosialnya pun aku juga tidak tau. Berbulan-bulan aku menahan rindu. Hingga akhirnya aku menyelesaikan sekolah dan melanjutkan kuliah di kota itu pula. Tak ku dengar kabar dari Dia.

"Hey, Riani. Itu yang melambaikan tangan ke arahmu. Kenapa bengong?".

Temanku menyadarkanku dari lamunan panjang itu. Aku tersadar. Lalu ikut melambaikan tangan.

Namun, namanya hanya sampai di kerongkongan saja. Setelah senyum dan melambaikan tangan, ia berlalu dengan begitu cepat. Sementara aku terlalu lambat untuk bergerak menghampiri.

Kak Selvi?  Ahh!!!  Setelah bertahun-tahun kita bertemu lagi. Namun kenapa begitu singkat?  Aku belum sempat bersalaman dengannya, menyapanya lebih lama dan lebih hangat, menanyai kabarnya, sudah menikahkah?  Sudah punya anakkah?  Jika sudah, berapa orang anaknya?

Yachhh.. Lagi-lagi, waktu berlalu dengan sangat ringkas. Dan hadirnya, membuatku mengenang kembali masa-masa sulit itu. Masa sulit di ruang melati, dan dihibur kak Selvi

Tidak ada komentar

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah