Sehari di Pagar Alam

Huaaa... Baru kali ini rasanya aku tak berdaya di dalam mobil untuk sebuah perjalanan. Eh kedua kali deng! Dulu waktu masih gadis pernah sekali mabuk berat perjalanan. Saat itu duduk di kursi belakang supir. Aku dipinggir. Samping aku bapak-bapak berbadan besar. Di samping Bapak itu ada istri dan anaknya yang masih bayi. Mabuk karena si Bapak yang maaf, mengeluarkan bau tak sedap dari keringatnya. Belum lagi kondisi tempat duduk yang berhimpit-himpitan. Mabuk berat woyyy.. Itu itu udah lama banget.

Sekarang mabuk berat kedua kalinya.

Cerita ini berawal saat Suami nelpon dari kantornya. "Bund, mau ikut ke Pagar Alam, nggak?"

Sontak, aku yang memang udah rindu perjalanan jauh, menjawab "Iya". Tapi kemudian beliau bilang kalau pulang hari. Sejenak aku berfikir. Setahu aku, perjalanan ke Pagar Alam tu jauh kan, ya. Lintas Provinsi. Aku juga waktu gadis udah 2 kali ke Pagar Alam. Tapi yaudah akhirnya iya-iyain aja dulu sambil berharap moga-moga nginap. Apalagi kondisi bawa bocil. Pasti melelahkan banget.

Persiapan Berangkat

Sabtu, tanggal 18 Februari 2023

Pukul 6 Pagi, Rendra siap OTW Pagar Alam
Berdasar info dari teman kerjanya Pak Suami, berangkat setelah Subuh. Selambat-lambatnya jam 6 dijemput. Ok, Stel alarm HP pukul 04.00. Pas alarm berbunyi, matikan lagi, lanjut tidur tapi tidak sepenuhnya.  Setengah jam kemudian bangun, mulai beraksi di dapur. Untuk packing, malam harinya aku memang sudah packing biar tidak terlalu buru-buru. Mandi telah selesai, Suami juga sudah bersih. Jam setengah 6 waktunya membangunkan anak bujang. Ya ampun.. Bocilku yang akhir-akhir ini bangunnya selalu kesiangan di antara jam 7-8 pagi, eh mesti bangun jam setengah 6 pagi. Untunglah beliau mau di ajak mandi. Lanjut sarapan.

Sebelum Rendra Mabuk

Setelah Rendra mabuk

Oya, tak lupa kami bawa baju double karena dapat info lagi disuruh bawa baju ganti kemungkinan kita nginap. Seneng donk pasti! Wahhh.. Instingku berkata 70% bakalan nginap nih. Meski kenyataannya tetap pulang hari. Hahaa..

2 Rombongan Mobil 

Sarapan di Manna
Kami berangkat rombongan dengan teman kerjanya pak Suami . Dengan membawa 2 buah mobil. Di depan, di pimpin oleh Ayuk Novia sekeluarga (Suami dan 3 anaknya), Ayuk Detha sekeluarga (Dang Ris dan Kak Anya), Bu Erma dan anak cowoknya, Serta Bu Muslimah. 

Dibelakang, kami ikut mengekor. Duduk di kursi depan Yuk Erni dan Suami yang merangkap sebagai Supir, di belakang supir ada Adek Dwi, Selvi, dan Saya Sendiri beserta Rendra, dan di kursi belakang Ada Pak Suami yang nyantai karena beliau sendiri. Jadi bebas kalau mau tiduran. Wkwk..

Rute Manna-Pagar Alam

Rumah warga dan Perbatasan Bengkulu-Pagar Alam
Pukul 08.00 WIB meninggalkan Kaur. Berangkat melalui Rute Manna-Pagar Alam.

Tapi sewaktu sampai di Manna, rombongan berhenti dulu untuk sarapan terutama anak-anak. Mungkin karena pagi tadi belum sempat sarapan. Dan Rendra ikut sarapan juga dibantu Emaknya. Hihii...

Baca juga: Keindahan Gunung Bukit Kaba

Dan ini adalah pertama kalinya aku lewat sini. Dan Wahhh.. Banyak sekali likunya. Liku tajam melebihi liku 9 Kepahyang menurutku. Di jalan, aku aman. Tapi Rendra Mabuk. Kemungkinan karena tadi dikasih air minum dingin ke dia. Kata Yuk Erni, air dingin bisa membuat anak mabuk. Dan celakanya aku tidak tau itu. Akhirnya kami berhenti untuk membersihkan badan. Lalu mengganti pakaian Rendra. Lanjut, kita melakukan perjalanan.

Sampai Di Pagar Alam (Langsung Muncak)

OTW Puncak Dempo
Kurang Lebih pukul 12.00 WIB, kita sampai di Kota Pagar Alam. Bingung sejenak mau kemana dulu. Akhirnya kita ngikut mobil yang di depan menuju puncak Dempo. Nge-liwet dan berfoto ria disana. 

Oya, sebelum berangkat, rombongan kita memang udah sum-sum masing-masing 100.000. Untuk keperluan bensin, dll. Selain itu, makan siang juga udah dibawa masing-masing sesuai tugas. Ada yang membawa nasi, ayam goreng, sambal, pempek, kue, kerupuk, buah, lalapan, dll. Pokoknya kalau soal makanan, mah! Kebanjiran kita. Nggak akan kelaparan. Hehe.. Melimpah!

foto di kebun Teh Dempo

Foto bertiga ter-epic di PGA🀩

Sampai di puncak, dingin pasti terasa. Tapi kita langsung menurunkan makanan dan mencari lokasi strategis. Lanjut membentang tikar dan menata makanan. Setelah tanpa ba-bi-bu, langsung makan bareng, dehhh.. Liwetan seru di pegunungan. Cuaca yang dingin+lapar yang melanda bikin kita tambah lahap makan. Jujur, saya sendiri, sih bingung mau makan yang mana saking banyak menunya. Tapi apa yang ada di depan mata, ya tak sikatπŸ˜‚. Anak Bujang disuapi bapaknya yang rempong karena Rendra sibuk mau makan semangka terus dan mainin air aqua gelas. Huftttt...

dingin+lapar, perpaduan yang klop untuk menyantap makanan
Selesai sudah makan, lalu lanjut foto bersama mau pun selfi.  Ada yang zuhur dulu ke mushola. Sayang banget, waktu kami kesini cuaca rada mendung gitu. Jadi langitnya tidak begitu cerah. Tapi perlahan, cuaca mulai cerah. Lanjut foto-foto lagi dengan riangnya. Mengambil fose terbaik untuk dipajang di sosial media tentunya.

Singgah ke Kebun Strawbery

Kebun Strawberry
Setelah puas-puasin berfoto di puncak, kita memutuskan untuk turun. Kali ini, rombongan mobil kita yang mimpin jalan. Karena para gadis di mobil kami mau singgah ke kebun stroberi dulu. Ndilalah, kebunnya buka walau buah stroberinya sudah dipanen. Karena menurut info yang aku terima, kadang kebun ini nggak buka. Jadi kita beruntung, waktu sampai, kebunnya sedang buka. Kita juga dibolehkan masuk dengan biaya 10.000 per orang dengan bebas makan buah sepuasnya selama masih di kebun. Tapi kalau mau bawa pulang, kita bisa beli seharga 10.000 se-ons. Termasuk hasil panen kita sendiri. Tapi kalau nggak mau panen, ya bisa beli sendiri kalau tukang kebunnya punya stok. 

Tiket masuk 10.000/orang
Saran aku sih, kalau masuk kebun strawberry, ambil untuk makan secukupnya aja. Tapi perbanyaklah berfoto-foto atau ambil video. Karena kalau mau makan sebanyaknya, kan itu stroberi belum dicuci dan masih kotor. Kita juga nggak tau bisa jadi itu kebun sudah disemprot. Tapi kalau mau bawa pulang, beli aja sama penjaga kebunnya. Buahnya lebih besar dan segar. Barangkali untuk oleh-oleh.

bebas makan strawberry sepuasnya saat di kebun
Jangan kayak aku, makan sedikit tapi banyaknya masukin kantong biar nggak masuk timbangan. Wkwk.. Atau kayak selvi, makan banyak-banyak mumpung di kebun dan gratis, Akhirnya tenggorakanny serek. Wkwk.. Eh, Paksu juga makan banyak di kebun sih. Tapi kayaknya tenggorakan dia baik-baik aja. Lebih kebal ternyata. Haha... Dan jangan juga kayak Rendra. Orang sibuk metik, dia sibuk pula. Sampe yang muda-mudanya dia petik juga. Hahaa.. Sayang banget kemaren aku kelupaan ambil foto atau video Rendra lagi metik buah. Huhuuu.. (Nyesel)

Setelah merasa cukup, akhirnya kita lanjut turun. Dan di mobil baru terfikirkan buat ambil bibitnya dan bawa pulang. Akhirnya nyesel untuk yang kedua kalinya, dah. Huaaa...

Baca juga: Pangubaiyan Beach, Pantai Cantik Instagramable

Sialnya lagi, jarak mobil rombongan pertama tadi jauh karena udah duluan berangkat, akhirnya kita nyasar akibat salah belokan.  Harusnya ke kanan, kita belok ke kiri. Untungnya ketemu jalan jelek (tidak di aspal) sehingga kita pun sadar. Lalu mutar arah balik lagi ke jalan awal tadi.

Turun sampai bawah dengan selamat dan terpisah jauh dengan rombongan pertama. Rombongan pertama udah mandi di kolam renang, kita masih keliling-keliling kota. Hahaa.. Tapi memang rombongan ni nggak mau ikut mandi, sih. Kalau aku, jujur aja mau ikut mandi sebenarnya. Mau bersihin baju dari muntahannya Rendra waktu berangkat tadi. Tapi karena kita rombongan, jadi aku tetap ikut apa saja keputusan mereka. Hehe..

Pulang Kaur

Magrib, pukul 18.00 WIB, kita meninggalkan kota Pagar Alam. Tak lupa bawa oleh-oleh jeruk gerga bagi yang mau.  25.000 untuk 2 kg. Lebih murah, kan dari pasaran.  Alpukat 15.000 per kilonya. Waktu beli buah, aku udah mabuk, sih. Jadi nggak berdaya untuk turun beli buah. Tadinya aku aman-aman aja, tapi karena Rendra gelisah dan mau duduk di pangkuan ku terus, aku mulai merasakan gejala-gejala mabuk. Biasanya, kalau mau mabuk, aku menidurkan diri. Sehingga pas bangun, nggak jadi mabuk. Tapi karena si bocil yang nggak mau lepas dari Emaknya, akhirnya terjadilah pertumpahan nasi dan semua teman-temannya ke dalam kresek. Haha.. Ambyarrrr!!!! 

Belum lagi Rendra yang nangis histeris liat emaknya muntah. Cemas rupanya. Pas aku mau mejamkan mata, nggak dibolehin Rendra. "Mau mati nih Mak Gue" begitu kali ya yang dia fikirkan. Ya, kali Nak, Mak mu mati dengan begitu mudahnya. Lemak ige Ayahmu kelak bebini baru πŸ€£πŸ€›. Jangan dulu kalo bisa, meski ajal tidak ada yang tau. Hehe

Baca juga: Wisata Bukit Kandis, Benteng

Okay akhirnya kita sampai lagi di kota Manna. Memutuskan singgah untuk makan Sate dan Jeruk hangat. Lalu lanjut pulang Kaur. Nah, perjalanan pulang Manna-Kaur ini tidak terasa bagiku. Karena diisi dengan konser bersama semobil. Mulai dari Pop, Koplo, Dangdut, dihajar semua. Seru lah pokoknya. Suara terbaik kita sumbangkan meski yang keluar tetap ala kadarnya. Haha

Overall, aku menikmati perjalanan ini.  Tapi untuk pulang hari, nggak lagi lah kayaknya. Meski jarak Kaur-Pagar Alam sama jauhnya kayak Kaur-Bengkulu bahkan lebih jauh ke Bengkulu. Namun kalau pengen jalan, mending nginap sekalian. Kecuali urusan pekerjaan. Kenapa? 

Pertama, biar tidak terlalu capek. Apalagi bawa anak-anak. Kan, kasihan mereka. Belum lagi kalau mereka mabuk dan muntah. Energinya bisa terkuras.  

Kedua, biar bisa menikmati perjalanan dan wisata. Biar lebih santai menikmati pemandangan, lebih santai menikmati kuliner, lebih rapi dan bersih kalau misal ada tragedi muntah. Kan bisa ganti baju dulu. 

Ya, intinya lebih matang lagi, lah persiapan sebelum berangkat. Kepalang udah jalan. Ya nikmati se nikmat-nikmatnya. Hehe..

Okay, itu cerita perjalanan kita kali ini. Thanks udah baca sampai habis.

Next kemana lagi kita, Beib?πŸ˜‰

Dokumentasi:














20 komentar

  1. Cerita dan pemandangannya keren kakπŸ‘πŸ’ͺ

    BalasHapus
  2. Wuih... Seru banget ya liburannya. Suka banget lihat suasana makan bersama di tengah alam terbuka gitu. Jadi mupeng nih...

    BalasHapus
  3. Kalau udah berfoto di atas bukit dan background nya pemandangan awan, epik banget deh. Apalagi ini bareng keluarga sambil menikmati perjalanan. 🀩

    BalasHapus
  4. duh baru aja mampir ke blognya Mbak Annie yang katanya berasal dari Pagaralam
    Ternyata seindah itu ya?
    Nampak asri dan sejuk. Kalo ke sumatera selatan saya harus ke sini nih

    BalasHapus
  5. Ya ampun Nengsi, alangke seru nian tulisan ini hahahaha. Pagaralam nih dusun kelahiran alm. Ayah aku (dusun Basemah). Aku terakhir ke Pagaralam itu waktu masih SMA (tahun 1985an). Setelah itu belum pernah balek lagi. Rindu nian pengen ke Pagaralam. Ternyato la bagus nian sekarang yo.

    BalasHapus
  6. Duh asyik banget bisa refreshing bareng-barengnya, mana tempatnya sejuk pula ya.
    Strawberrynya menarik hati juga tuh, saya suka banget strawberry, mau itu manis atau asem :D

    BalasHapus
  7. Serh sekali aktifitas kumpul keluarga dengan liburan ke alam.
    Aku terpikat sama puncak dempo yang indah itu.. bener-bener sejuk terlihat dari foto-fotonya

    BalasHapus
  8. Perjalanannya seru banget kak, seneng ya kalo dapet tim kantor yang kompak jalan-jalan meski capek pun tetap seru dan membahagiakan.

    BalasHapus
  9. Aku kurang doyan stroberi, tapi kalau suruh metik buahnya paling semangat.
    Pagar Alam ini berarti daerah dataran tinggi, ya. Sebab ada kebun teh dan buah stroberi (tanaman gunung)

    meski capek karna ngga nginep tapi seneng karna brangkat rame-rame

    BalasHapus
  10. Wah asyik banget petik stoberi cuma bayar 10 ribu dan makan sepuasnya. Itu kalau mau beli dibawa pulang jg gak boleh ya mbak?
    Drama mabuk ini, anakku jg pernah mabuk dalam perjalanan di dalam kota aja naik mobil org huhu jd gk enak, sejak itu aku kalau perjalanan jauh nyiapin kresek gtu.
    Soalnya anak2 gampang masuk angin apalagi pas imunnya lagi rendah.

    BalasHapus
  11. Kebayang serunya rekreasi rombongan gitu ke Pagar Alam. Bisa nikamti buah strawberry sepuasnya pula hehe, beruntung ya kalau datang Kebun Strawberrynya buka.

    Yup kalau perjalanan jauh gjtu emang bagusnya nginap ya biar gak terlalu kecapaian juga dan lebih bisa menikmati perjalanan

    BalasHapus
  12. Meski ada drama mabuk tapi selebihnya lancar dan happy ya Mbak..bisa diulang nih jalan-jalannya. Asyik kalau rame-rame begini, tapi memnag lebih mending nginep sih apalagi kalau ajak anak-anak, biar bisa istirahat ya

    BalasHapus
  13. Saya pun suka nggak kuat perjalanan darat Mba, mudah mual hehe ... Seru tapinya ya bisa jalan-jalan bareng. View di Pagar Alam ini asri dan sejuk. Seneng banget bisa metik langsung strawberry di sana

    BalasHapus
  14. Asik banget main di Pagar Alam.
    Dan makan strawberry secara gratis, jadi makin memperkuat memori mengenai perjalanan ke Pagar Alam. Hehe, kebayang serunya dan dinginnya semilir angin di Puncak.

    BalasHapus
  15. seruuuu banget ya kak main ke pagar alam ini. wah aku sudah belasan tahun nggak kesana jadi sedikit banyak kangenku terobati nih baca artikel kakak. seneng deh

    BalasHapus
  16. Ini seperti perjalanan bersakit2 dahulu, bersenang2 kemudian yaa mba wkwkwkwk
    Pemandangannya asyik bener ini, jadi pengen liburan bareng kelaurga juga

    BalasHapus
  17. Masya Allah bagus sekali ini Pagar Alam yah, jadi ingin kesana nih soalnya belum pernah. Semoga ada waktu dan rezeki bisa kesana, aamiin.

    BalasHapus
  18. Wah seru banget ini kak main ke alam kayak gini. Huhu aku udah lamaaaa banget gak ke tempat kayak gini. Nanti kudu disempetin. Relaxing banget ya 😍

    BalasHapus
  19. Seru banget ya mba singgah di pagar alamnya. Bisa menikmati keindahan alam yang udaranya sejuk. Udah gitu bisa makan bareng keluarga dan berkunjung ke kebun strawberry

    BalasHapus
  20. Pagar alam pemandangannya asri ya mba. Udah gitu bisa sekalian berkunjung ke kebun stroberi juga pula

    BalasHapus

Thanks udah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar ya. No SARA. Syukron Jazakallah..😊

Komunitas BRT Nerwork

Komunitas BRT Nerwork
Logo Komunitas BRT Network

Komunitas Mama Daring

Komunitas Mama Daring
Logo Mama Daring