Kamis, 23 November 2017

Ikhlas Melepasmu


Pagi ini, aku bangun lebih awal, tak biasanya. Karena biasanya aku lebih sering kesiangan. Tapi, Alhamdulillah masih bisa untuk solat subuh. Seperti biasa, usai melaksanakan solat, aku beres-beres rumah. Rumah kecil milik orang tua yang menjadi istana kami. Sederhana tapi istimewa.
Setelah beres-beres, aku bersantai. Masih pukul 07.10 pagi. Rencana hari ini mau ngantar ibu ke pasar. Sambil menunggu waktu, aku buka akun facebook. Ada sebuah aplikasi tebak-tebakan disana yang saat ini lagi viral dimainkan oleh netizen facebook. Aku iseng memainkanya dengan log in melalui facebook terlebih dahulu. “Siapakah orang yang selalu ada untuk mu disaat kamu membutuhkan?” pertanyaan yang membuatku penasaran. Dan ternyata nama yang keluar adalah nama sahabatku, ia adalah Rani. Sahabat yang memang benar-benar ada saat aku membutuhkan. Aku tak percaya dengan games ini. Bagiku ini hanya games semata. Nggak lebih. Karena kalau kita percaya nanti malah terjebak ke dalam syirik. Naudzubillah.. tapi untuk yang 1 ini memang benar adanya, dia(sahabatku) adalah orang penting bagiku.
Fikiranku jadi melayang teringat masa-masa sulit ketika aku terpuruk 6 tahun silam. Ketika aku dinyatakan mengindap penyakit Leukimia, aku benar-benar down.  Sekolahku amburadul. Terus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit. Dan Rani, sahabatku itu, ia selalu setia menemaniku. Tak jarang ia menginap dirumahku. Tentunya dengan seizin orang tuanya. Iya, kami memang telah bersahabat sejak kecil karena ibuku dan ibunya juga bersahabat.
Tapi aku merasa telah berkhianat dengannya. Dulu kami pernah berjanji untuk focus dengan masa depan. Tidak dulu mikirin soal cowok dan harus berani nyingkirin smua penghalang kita dalam menempuh pendidikan. Tapi sekarang, kami telah terpisah. Ia kuliah di Yogjakarta dan orang tuanya pun juga pindah. Namun meski begitu kami tetap saling komunikasi. Baik melalui telpon  maupun melalui media social.
Beriring waktu, 7 bulan setelah aku ditinggalkan Rani, sahabatku, ada seseorang yang selalu mengisi hariku dengan canda tawa.
Namanya Randi, lelaki yang selama ini dekat denganku. Bahkan sangat dekat. Kami tidak pernah pacaran karena memang tidak ada kata jadian dalam menjalani hubungan kami yang dekat ini. Sebenarnya Randi ini menaruh hati padaku, menurut pengakuan dia,  ia sudah lama mengagumiku. Randi ini adalah teman seangakatanku ketika masih SMA. Dulu dia pernah mengungkapkan perasaanya melalui Rani bahwa ia menyukaiku. Namun saat itu ia tak ku gubris. Apalagi setelah aku tau ternyata Rani menyukai Randi. Aku tidak ingin menyakiti hati sahabatku yang paling baik ini.
Tapi perhatian Randi padaku begitu besar. Apalagi skrang kami kuliah di kampus yang sama dan fakultas yang sama. Jadi hanya beda jurusan. Ia sering mengajak ku makan bareng, pulang bareng, terus mengerjakan tugas juga bareng. Maklum.. di awal-awal kuliah kami memang banyak mata kuliah yang sama. Sehingga kami pun juga sering belajar bareng. Di kelas hanya Randi temanku yang paling dekat. Kami memang hanya sebatas teman. Namun, dengan terus berjalan nya waktu dan dengan banyak nya hari dan kegiatan yang kami lalui bersama, perasaan sayang ku itu mulai tumbuh.  Dan aku juga telah mengatakanya pada Randi. Tidak ada kata jadian untuk memulai hubungan seperti tak ada kata putus untuk mengakhirinya.
Iyaa.. kedekatan kami telah berkahir. Aku yang telah mengakhirinya.. mungkin bagi randi aku ini kejam. Karena memutuskan hubungan ini disaat ia memang lagi sayang-sayangnya dengan aku. Maafkan aku Randi, ini demi kebaikan bersama. Selain karena aku merasa telah mengkhianati Rani, namun lebih dari itu karena aku ingin memperbaiki diriku terlebih dahulu.
Beberapa hari setelah aku mengakhiri hubungan kami aku mengirim ia sebuah surat lalu setelah itu aku menghilangkan semua kontaknya. Bukan bermaksud untuk memutus tali silaturahmi, namun karena aku tau Randi akan selalu menghubungiku dan itu akan membuat aku sulit untuk melupakan nya. Meski kami 1 fakultas namun aku selalu berusaha menghindar darinya. Mungkin ini menyakitkan. Tapi ini yang terbaik untuk kita.
Di dalam surat itu kurang lebih aku menulis nya seperti ini:
Teruntukmu yang pernah mengisi hari-hariku..
Randi, maafkan aku jika harus kuakhiri kedekatan kita. Mungkin ini berat bagimu, juga bagiku. Tapi aku yakin kita pasti bisa melewati ini semua. Terimakasih untuk kebersamaan dan perhatianmu selama ini.
Jika kau Tanya apa alasanya? Alasanya aku ingin sendiri dulu dan memperbaiki diri menjadi wanita yang lebih baik. Aku ingin hijrah, aku berharap kamu pun juga begitu nantinya.  Aku ingin memperbaiki diriku agar bisa mendekatkan diriku dengan Allah. Mencintai Allah melebihi orang yang aku cintai. Mencintai sang Khalik melebihi Makhluknya. Menjadi orang yang pantas utuk dicintai oleh lelaki yang juga mencintai Allah. Aku ingin dipertemukan oleh seorang lelaki yang melabuhkan cintanya kepada Allah. Dan suatu saat nanti bila kami bertemu, maka ia pun juga akan mencintai aku karena cintanya kepada Allah.
Aku ingin memantaskan diri, Rand, memantaskan diriku untuknya kelak. Agar ia tidak menyesal karena telah milih aku untuk menjadi pendamping hidupnya.
Dan jika kau tanyakan  apakah aku mencintaimu?? Yaa.. aku memang benar-benar mencintaimu selama ini. Semua rindu itu benar adanya. awalnya memang tidak. Tapi lama-kelamaan aku benar-benar jatuh hati padamu.
Apakah Engkau tau siapa yang aku inginkan untuk menjadi pendampingku kelak?? Orang itu adalah kamu. Jika boleh aku meminta kepadamu, aku ingin kamupun juga berubah seperti yang dulu pernah kamu katakan padaku. Kamu ingin menjadi laki-laki yang baik, yang soleh dan mapan agar bisa membahagiakan kedua orang tuamu dan menjadi teladan bagi adek-adekmu..
Randi, lelaki yang selalu kurindu namun ku tak ingin berjumpa denganmu. Kamu kusebut dalam do’aku. Meski hati kecil ku berkata aku ingin kamu, namun do’aku semoga aku dan kamu diberikan yang terbaik oleh Allah.. anggap saja perhatian dan kebersamaan kita kemarin adalah hadiah dari pertemuan kita.  Suatu saat nanti jika kamu sudah merasa lebih baik, dan sudah mapan dan siap menghadapi semuanya, maka temuilah aku. Temui aku jika aku masih sendiri. Temui aku jika memang rasa itu masih sama. Allah yang membolak-balikan hati kita, kita hanya bisa berdo’a smga hati ini tetap dalam iman dan nama yang sama. Maafkan jika aku tak lagi menghubungimu. Namun, jika ada perlu kamu bisa menghubungiku melalui akun facebook ku.
Kita berpisah Karena Allah, smga nanti kita juga berjumpa karena Allah.
Semoga kita dipertemukan lagi oleh Allah dalam hubungan yang lebih diridhoinya. Aamiinn…
Dari orang yang ikhlas melepasmu
Yahh… surat itu aku tulis tepas 1 tahun kami kuliah. Jadi hanya beberapa bulan saja kami dekat.  sejak saat itu aku tak lagi menghubunginya. Sekarang kami udah semester akhir dan hampir tak pernah lagi bertemu denganya. Mungkin saja ia lupa dengan surat yang pernah aku tulis. Tak apa.. setidaknya sekarang aku merasa lebih baik dari dulu. Dan aku dengar dari teman-teman yang sekelas denganya, ia pun sekarang udah menjadi pribadi yang sholeh. Seperti yang aku tau ia adalah ketua dari organisasi islam kampus.
Tentang disuatu hari nanti apakah kami berjumpa atau tidak? Biarlah itu hanya akan menjadi rahasia Allah yang nanti menjadi surprise untuk kami. Jika ia memilih orang lain untuk menjadi pendamping hidupnya, aku pun ikhlas. Sebagaimana dulu, aku ikhlas ketika harus melepasnya demi kebaikan bersama.
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar