Menjalin Hubungan Baik dengan Mertua

Sebagaimana aku jika punya anak lelaki dan ia menikah nanti, aku juga ingin tetap disayang dan diperhatikan oleh anak lelakiku meski ia telah punya wanita lain. Dan aku ingin menjalin hubungan yang baik pula dengan menantuku.

Ya! Kata-kata ini jauh ke depan. Berpuluh tahun yang akan datang dan itu pun jika Allah masih memberi umur yang panjang. Namun untuk saat ini? Posisiku adalah seorang menantu. Dan kata-kata di atas mungkin lebih tepat dikatakan oleh ibu mertuaku.

Sebagaimana setiap pasangan pada umumnya, aku juga tak ubah seperti mereka. Setelah menikah ingin hidup mandiri. Ingin pisah rumah dari orang tuaku maupun orang tuanya. Meski itu harus dengan piring yang  minjam, meski itu harus memulai dari 0. Namun, jika keadaan tidak mengizinkan sementara cinta kita keukeh ingin disatukan, maka kita harus mengalah. Memilih keputusan yang terbaik sesuai kesepakatan berdua dan mengalahkan ego.

Bak dan Mak mertua

Aku dan suami dulu begitu. Awalnya keukeh sama-sama keras tak mau ngalah. Aku keukeh ingin dia mengikuti prinsip/keinginanku dan dia keukeh dengan prinsipnya. Awalnya masalah kota tempat tinggal. Aku mau dia ikut mau ku ingin tinggal di Bengkulu, sementara ia tetap pada prinsipnya ingin aku ikut dia ke asalnya di Kaur. 

Baca juga: memasuki trimester ke-3

Aku awalnya ogah! Wong belum ada rasa, kan, ya! Cinta belum dominan disana. Masih akal fikiran yang logis. Namun perlahan, rasa itu tumbuh. Dan sebagaimana hadist,

Tidak ada obat bagi orang yang jatuh cinta selain dari menikah,

Maka aku pun dengan segala konsekuensi, memutuskan mau dinikahinya dan ikut dengannya. Salah satunya ikut ia ke daerah asalnya dan tinggal bareng mertua.

Lagi-lagi, kita harus mengalahkan ego. Apalagi dengan segala penjelasan yang ia berikan dan segenap pengertian yang aku punya, aku mau menerima segala resikonya. Saat itu belum berfikir jauh tentang kehidupan tinggal bareng mertua. Hanya taunya kita ikut suami dimana pun ia berada. Perlahan setelah nikah ini lah aku memperkaya ilmu bagaimana jika kita tinggal dengan mertua.

Sadar, kok. Pasti ada yang merasa prihatin atau khawatir aku tinggal bareng mertua (tapi aku yakin tidak ada mereka yang memandang rendah keputusan kami ini😊), namun, ini adalah pilihan terbaik yang aku dan suami pilih. 

Dengan bareng mertua, kami bisa saling menjaga. Suami tetap bisa menjalani ketaatannya kepada orang tuanya, dan orang tuanya (mertuaku) bisa sekalian menjaga dan mengawasi kami. FYI, jika kita bareng mertua, kita akan lebih malu jika ketahuan bertengkar. Sebisa mungkin jangan sampai mertua tau. Itu kalau aku dan suami, sih.

Ibumu, Ibuku, Orang tua kita

Aku ingat dengan baik, waktu itu kali kedua aku ke tempat asal suami. Pertama, dulu sewaktu silaturahmi dengan orang tuanya sebelum memutuskan mau menikah dengan dia, dan yang kedua setelah jadi istrinya dan juga resepsi nikah di tempat suami. Dan waktu itu, tentu orang tua dan keluargaku datang di resepsi sekaligus menyerahkan tanggung jawab mereka ke keluarga baru ku ini. Ibu berpesan baik-baik ke ibu mertua yang kira-kira bunyinya begini, "Titip Nengsi, ya! Jaga dia. Anggap ia seperti anak kandung sendiri. Jangan anggap ia menantu." Pesan yang dalem banget. Hiks! Aku baper mengingatnya.

Waktu itu ibuku sungguh berat melepaskanku. Dari awal sibuk nikah sampai resepsi tempat suami, ia sudah banyak fikiran. Kesehatannya mulai terganggu. Hingga saat aku sudah benar-benar di tempat suami, ia benar-benar down! Sakit yang cukup lama. Penyebab utamanya ya karena fikirannya terus memikirkan aku🥺.

Baca juga: welcome to new life

Allah itu baik banget sama aku. Allah benar-benar memberiku mertua yang baik, sayang dan pengertian. Yang sudah menganggapku seperti anak kandungnya sendiri. Ibu mertuaku terutama, aku memang tidak bisa bermanja-manja, bicara bebas, kontak fisik secara bebas, mengatakan "iya/tidak" secara bebas dan kebebasan lainnya seperti pada ibu kandungku sendiri. Karena tak bisa dinafikkan, aku tetap merasakan berbeda. Ada rasa yang harus kami saling tenggang. Anggap saja di posisiku, misalnya aku dimarah ibu mertua, pasti akan beda rasanya jika aku dimarah ibu kandung. Atau jika di posisi ibu mertua, pasti berbeda pula rasanya jika ia marah dengan suami ketimbang aku. Ia akan mudah marah ke suami (anaknya sendiri) daripada aku karena ingin menjaga perasaanku. Barangkali begitulah yang aku fikirkan.

ini gak tau apa maksudnya mereka berdua salaman😅

But, meski tak sama, namun aku kerap di buat terharu oleh mertua. Baik Emak atau Bak mertua. Memang tak bisa manja atau apalah namanya, tapi perhatiannya, kasih sayangnya, kesiap-siagaannya, kepeduliannya, udah lebih dari cukup untuk membuktikan bagaimana ia menunjukkan rasa sayangnya kepadaku melalui itu semua.

Bagaimana mereka dengan sigap mencarikan obat herbal jika aku perlu, bagaimana dengan sigap menyarankan sesuatu jika aku butuh, dan banyak hal lainnya. Terutama ibu mertua, banyak hal yang tidak bisa aku ceritakan dari sikap beliau yang membuatku terharu (paling banyak sikap perhatiannya setelah aku positif hamil). Mungkin beliau bukan tipe orang yang pandai berkata manis, dsb. Bisa dibilang beliau orangnya flat dan biasa saja. Tak terlalu bisa menunjukkan ekspresi. But, It's not bad. Semua orang punya tipe kepribadian masing-masing. Kalau bapak mertua, no problem. Semuanya baik-baik saja. No coment, karena lebih banyak interaksi dengan Emak. Hehee

Baca juga: planning masa depan bareng pasangan

Aku tau, ini baru sebentar. Belum 1 tahun kami menikah dan bareng mertua. Mungkin penilaianku ini terlalu cepat. Tapi, aku sadar diri. Seperi kata tetanggaku,

"Selama-lamanya kita baik, pasti akan ada masanya ia menjadi tidak baik."

Dan bila masa yang tidak baik itu terjadi, ku berharap kami bisa sama-sama mau mengerti, maklum, dan saling berusaha membuatnya kembali menjadi baik. 

Hanya ingin sedikit perpesan ke teman-teman yang udah nikah atau baru menikah, 

Baik atau buruknya mertua, ia tetaplah orang nomor satu yang telah menyayangi dengan tulus orang nomor satu pula di hati kita yang sangat kita sayangi. Dia itulah yang kita sebut suami.

Dan untukmu yang harus memilih satu atap bareng mertua, kita saling berpelukan, yukk!! Kita mau menerima anaknya berarti kita juga mau menerima orang tua, keluarga dan segala dari dirinya. Tentu resiko satu atap bareng mertua lebih besar ketimbang pisah rumah. Namun percayalah, semua akan baik-baik saja. Kita hanya perlu mengatur diri dan sikap kita aja menghadapi segala drama selama bersama. 

Semangatt!!!!

24 comments

  1. wah tipsnya sangat bermanfaat buat aku yang ingin lebih dekat dengan calon mertua :D terimakasih ya kak

    ReplyDelete
  2. Mertua adalah orang tua kita juga. Beruntung yg masih bisa merasakan kasih sayang mertua dengan segala lika likunya hehe

    ReplyDelete
  3. Hal yang paling saya syukuri adalah, diberi mertua yang open minded.
    Mertua saya bukanlah yang terbaik dibandingkan mertua orang lain.
    Tapi mereka amat sangat pengertian.
    Sehingga saya yang sifatnya sensitif dan nggak biasa tinggal di rumah orang ini, bisa tahan pernah tinggal di rumah mertua :)

    ReplyDelete
  4. aku bingung komentarnya mbak.. pertama karena aku masih single wkwk.. cuma pasti ada getir manis punya mertua :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaa.. moga segera diberi mertua yang baik ya mbak.

      Delete
  5. Saya juga udah punya menantu dan calon menantu
    Rasa sayangnya sama, anak dan menantu, malah lebih asyik ngobrol dengan mereka
    Karena 3 anakku yang pertama laki laki

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehee.. punya geman ngobrol y mbak. Punya anak wanita juga jadinya

      Delete
  6. Bahagia kalau anak dan mantu saling akur. Tidak seperti drama di indosiar yang ada aja permasalahan.

    Menjalin hubungan dengan Berbuat baiklah kepada mertua layaknya orangtua maka kelak mantu kita akan memperlakukan dengan baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul kak. Apa yang kita tanam, itulah yang kelak akan kita panen.

      Delete
  7. Beruntung banget punya mertua baik, Mbak. Memang menikah itu perlu menekan ego, bukan tentang aku yang benar dan kamu Salah. Mertua emang orang tua Kita juga. Moga harmonis selalu hubungan sa suami, mertua juga.

    ReplyDelete
  8. Aku udah 4 thn ini serumah dgn mertua.
    Alhamdulillah, beliau tipikal BuMer yg baiiikk bgt, jadi nggak pernah bermasalah sih ama mantunya yg bawel enih wkwkwk

    ReplyDelete
  9. Walau belum punya mertua (baca: belom punya istri juga tentu haha), tapi aku suka memperhatikan relasi mertua-menantu ini. Nggak jauh-jauh dari ibuku sendiri ke menantunya, atau dari sodara ke menantunya. Relasi yang baik itu berkah luar biasa sebab tak jarang di luar sana ada hubungan mertua-menantu yang tak berjalan dengan baik.

    ReplyDelete
  10. Semoga sakinah mawwadah wa rahmah ya. Alhamdulillah ya mbak & suami bisa saling cocok dengan mertua. Ini bisa menjadi contoh supaya bisa rukun selalu dengan mereka. So sweet.

    ReplyDelete
  11. Menikah dengan anaknya berarti kita juga menikah dengan seluruh keluarganya. Termasuk diantaranya Ayah dan Ibu dari pasangan kita. Berkompromi, ikhlas, dan sabar pastinya jadi kunci penyelamat hubungan yang baik dengan mereka

    ReplyDelete
  12. Makasih sharingnya ya kak, btw menjaga hubungan baik dengan orang lain terutama mertua itu penting lho. Karena mertua udah kayak orang tua kita sendiri

    ReplyDelete
  13. Mbak, beruntung sekali kalau punya mertua yang baik. Saya pun bersyukur punya mertua yang baik. Semoga hubungan baiknya berlangsung selamanya ya, Mbak. Saling menjaga dan menghormati seperti orang tua kandung.

    ReplyDelete
  14. Betul banget, karena orang tua suami adalah orang tua kita juga, keluarga suami akan jadi keluarga kita juga. Pernikahan bukan hanya tentang kita berdua tapi antara dua keluarga

    ReplyDelete
  15. dinamika kehidupan rumah tangga selalu menarik untuk dibahas apalagi ini topik legend nih gak akan pernah habis kayanya bahas tentang mertua, intinya kita hidup berdampingan sama siapapun ya niat baik, berbuat baik aja, insya Allah orang pun akan melakukan hal yang sama menurutku

    ReplyDelete
  16. Senang jika hubungan dgn mertua bagus ya mbak
    Aku juga dekat dgn mertuaku

    ReplyDelete
  17. Dalam agama kita, seorang istri jika sudah menikah maka ia harus berbakti kepada mertua barulah ortunya. Yang tadinya orang tua kandungnya biasa lebih diprioritaskan, kl sudah menikah, mertua jadi no 1. Sering terjadi konflik karena istri lebih menomorsatukan ortunya.

    ReplyDelete

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah

Komunitas Blogger Bengkulu (BoBe)