PEJUANG SC (Untuk Sebuah Nyawa yang Baru)


 "Bayinya sungsang!" Deg! Antara percaya dan tidak percaya, refleks mataku langsung berkaca-kaca. Saat perut masih terbuka dengan alat usg menari di atasnya. 

Begitupun suamiku. Ia mengulang pertanyaan. 

"Sungsang, Dok?" 

"Iya sungsang. Ini dia kepalanya" ucap dokter mengarahkan alat usg ke kepala bayi di monitor.

Lagi, suami bertanya apakah beneran sungsang? Sehingga dokter mungkin sedikit kesal. "Iya, Pakkk.. Sungsang. Sungsang itu kepalanya di atas. Ini nih kepalanya. Ada disini." ucap dokter menegaskan.

Air mataku telah jatuh. Bagaimana bisa? Selama ini setiap kontrol katanya selalu sehat dan normal. Baik itu ke tukang urut di dusun, bidan atau dokter. 2 minggu yang lalu kontrol usg, bayinya normal kepala sudah di bawah. Bahkan 3 hari sebelum kontrol usg kembali. Waktu cek ke bidan, katanya kepala bayi sudah masuk panggul melewati garis perut. Tidak lama lagi akan lahir tidak nyampai 3 hari katanya. Beliau adalah bidan senior. 

Setiap kontrol bayi selalu sehat dan normal


Sambil dibantuin perawat menutupi perutku kembali, dokter berkata, "Ini harus dioperasi!"

"Kapan, Dok?"

"Secepatnya. Hari ini! Ya, Hari ini juga."

"Tapi, Dok. Nggak bisakah kita nunggu lagi dok agak sehari dua hari" ucap suamiku.

"Ya, silahkan. Tapi harus tanda tangan di atas materai. Jika terjadi apa-apa pihak rumah sakit tidak tanggung jawab." ucap dokter

Aku dan suamiku terdiam. Aku menghapus air mata, berbisik ke suami. "Bilang aja sama dokter kita konsultasi ke keluarga dulu." 

Lalu suami bertanya bagaimana prosedur untuk operasi SC. Namun dokter mengatakan nanti dijelaskan di luar mengingat pasien beliau yang lain udah nunggu juga di dalam. Keadaannya terlihat tidak baik. Kami segera keluar. Suami menelpon bak dan mak (mertuaku). Ku fikir ia akan bertanya apakah harus menyetujui SC hari ini atau tidak, namun malah beliau langsung mengatakan bahwa Nengsi akan dioperasi hari ini karena bayi sungsang. Nggak dibolehin lagi dokter buat pulang. Terbayang olehku bagaimana terkejutnya orang tua terutama Mak di rumah. Beliau takut sekali aku di operasi. Mungkin trauma karena anaknya (suamiku) dulu juga pernah operasi perut karena kecelakaan.

SC dilakukan setelah zuhur sementara saat itu udah pukul 10.30 wib. Waktu yang mepet sekali dan kita harus mengikuti semua prosedurnya. Suami meminta orang tua bersiap-siap ke rumah sakit. 

Aku langsung berurai air mata lagi mendengar keputusan suamiku. Bagaimana tidak? 9 bulan lebih ku persiapkan diri agar bisa lahiran normal. Lalu saat tiba bulannya, hampir tiap bulan ku menanti sakit pertanda gelombang cinta itu datang. Namun Qadarullah aku berakhir dengan SC. Bahkan memberi jeda untuk diri sendiri buat menangis dengan tenang pun tak ada waktu lagi. Semua serba terburu-buru. Aku dan suami sibuk mengurus pemberkasan. Suami fokus mendengarkan arahan pihak rumah sakit. Sementara aku sibuk menelpon keluargaku di dusun untuk mengabarkan aku akan SC hari itu juga dan mohon Do'a. Saat itu, tidak ada 1 keluarga pun dari pihakku yang menungguiku. Aku menelepon Abak. Mengabarkan diri. Aku menangis.  Dan beliau menenangkan. Semua keluarga dan sahabat yang awalnya mendukung untuk lahiran normal, langsung berubah fikiran untuk menyemangatiku SC. 

Adekku berkata, "Ayuk harus tenang. Gak boleh cemas. Harus stabil biar operasinya lancar!" Lalu aku berusaha menenangkan diri.

Persiapan SC

Aku mengikuti langkah kaki suamiku karena memang aku tidak menyimak arahan perawat. Tidak bisa fokus. Kami menuju sebuah ruangan untuk cek darah, lalu cek urin. Suami pergi membeli alat-alat yang telah ditulis oleh perawat,  sementara aku mengikuti salah satu perawat menuju ruangan yang kelak akan jadi kamar inap ku setelah SC. Aku dimintai melepaskan semua pakaian, melepaskan semua perhiasan atau aksesoris di tubuh, lalu berganti dengan baju medis. Hanya sendiri tanpa keluarga mendampingi. Mereka belum sampai. 

Setelah semua pakaian lepas dan berganti pakaian medis untuk masuk ruang operasi, aku dimintai berbaring di tempat yang telah disediakan. Tempat tidur roda yang entah apa namanya itu. Tak lama suami datang. Membawa alat-alat yang disuruh perawat beli. Perawat mengangkat pakaianku. Syukurnya mereka perempuan semua. Mencukur habis b*lu kema**an. Tak usah bicara tentang malu. Saat itu sudah tak merasakan malu lagi. Pasrah diri. Menyerahkan sepenuhnya kepada pihak rumah sakit sambil terus berdoa. Lalu masang keteter (slang penampung kemih) yang tentunya membuat kemaluan kita merasa tidak nyaman. Disuntik, dan dipasangkan infus.

Pasrah di dalam ruangan seorang diri karena suami sudah kembali sibuk lagi mengurus ini dan itu. Dan saat itulah, saat sendiri aku merasa sangat sepi dan tak berdaya. Diatas keranjang medis, aku menatap rerumputan dan mobil yang lalu lalang di balik jendela. Ya Allah... Betapa lemahnya aku. Terbersit dalam hati. Perlahan mata mengantuk. Aku tertidur.

Ntah berapa lama aku tertidur, terdengar suara kaki masuk ke kamar. Aku membuka mata dan menoleh. Ibu mertuaku. Ia mendekatiku. "Nggak usah cemas, Nak. Ini aku ibumu. Ingat ya! Ini ibumu. Bukan orang lain." ujarnya. 

Aku kembali menangis. Terharu. Saat ia datang tadi, mataku telah bengkak karena menangis. "Iya, Mak." jawabku.

Beberapa menit kemudian, perawat datang kembali. Bersiap mendorong keranjang pembaringanku menuju ruang operasi. Aku sadar apa yang terjadi di sekitarku. Ku lihat sudah banyak keluarga yang berdatangan. Saat masuk sebuah gedung yang ada ruang operasinya, keluarga diminta menunggu di luar. Selanjutnya, aku dibawa oleh perawat masuk ruang operasi.

Di ruang operasi

Aku diangkat lagi dan dipindahkan oleh perawat ke keranjang operasi. Dipasangi alat-alat medis. Beberapa perawat mulai mempersiapkan alat pembedahan sambil ngobrol santai dan nungguin dokternya datang. Aku diminta bangun. Disuntikkan obat bius di tulang punggung. Bius lokal. Perlahan kaki mulai terasa kaku hingga tak bisa lagi di angkat. Hingga rasanya saat dibedah orang kita merasa seperti diinjak saat kesemutan. Tak terasa sakit sama sekali. Aku sadar diri.

Pertama kali memeluk dan menyusui

Lalu dokter datang. Dokter yang saat melihatnya hati merasa nyaman dan tenang itu datang. Awalnya aku fikir dokternya beda dengan dokter di ruang usg tadi. Saat ku tanya ke perawat, "Siapa dokternya, Yuk?" Dokter Boy (dr. Nurul Mubin, Sp.Og)" aku merasa tenang dan lega.


Ntah sudah jalan operadi ntah belum saat itu, perawat bertanya, "Apakah ibu cemas?"

"Nggak, Yuk" jawabku. 

"Tapi tensi darahnya naik" ucap perawat lagi sambik senyum. Aku diam. Mungkin efek cemas ku di awal tadi belum hilang. Aku yang awalnya tadi sempat kaget.

Sesekali perawat mengajakku mengobrol. Memintaku berdoa dalam hati. Aku membaca beberapa ayat dan murajaah hafalan lama. Berusaha mengalihkan fikiran sendiri. Terdengar olehku suara slang menyedot darah. Terbayang pula olehku bagaimana proses SC yang aku tonton di IG.

Dokter menekan bagian dadaku dengan kencang beberapa kali. "Sakit!" ujarku. 

"Sedikit merasa nggak nyaman ya, Bu. Memang agak sakit. Karena lagi ngambil bayinya. Ucap perawat.

Tak lama, suara teriakan bayi terdengar begitu nyaring. Aku terharu. Bergumam dalam hati. Anakku telah berhasil di keluarkan. Kembali menunggu, perawat datang lagi melaporkan kondisi bayi ke dokter. Berat 3,4 kg, lahir pukul 13.26 wib.

"Ini ya, Bu, anaknya!" ucap perawat yang menggendong anakku sambil menempeli anakku ke pipi. Sayangnya aku memakai masker. Jadi kulit kami tak bersentuhan. Aku melihat anakku putih bersih. Imut. Alhamdulillah ujarku. Bayi ku kemudian dibawa keluar.

Aku masih terbaring lemah. "Masih lama, Yuk?" tanyaku ke perawat. 

"Enggak. Bentar lagi ya. Sedang dirapiin" ucap perawat. Lega rasanya hatiku. Tak sabaran ingin sekali proses pembedahan ini selesai dan aku kembali ke keluarga.

Pertama kali keluar kamar setelah operasi, berjemur dan menuju kamar bayi


Setelah selesai dan rapi semua bekas operasi di perutku, aku diangkat ke keranjang roda yang awal tadi. Dibawa keluar. Ada mertuaku menyambut dan langsung memijit. Suamiku datang mencium kening. Lalu tersenyum. Aku balik tersenyum. Aku kembali dibawa ke ruang tadi. Di kamar yang tadi. Ku lihat kiri kanan keluarga mengiringi. Dan selanjutnya, perjuangan untuk sembuh, jika ingin cepat pulang, aku harus sudah bisa jalan. Harus sudah bisa ke WC jalan. Semua dlakukan secara perlahan dari berjuang miringkan badan ke kanan dan kiri, lalu duduk, bangun dari tempat tidur, berdiri, hingga berjalan. Aku ingin cepat sembuh dan pulang bersama anakku. Jadi aku melakukannya dengan motivasi itu. Berat rasanya menahan rindu karena belum bisa bertemu dengan anak, dan apalagi perjuangan memberi ASI. Aku belum bisa ke ruangan bayi dan bayi belum bisa ke ruangan kami. Aku dan suami berjuang menyedot ASI dari payudaraku. IMD atau Inisiasi Menyusu Dini yang pernah aku bayangkan dulu, ambyarlah sudah.

Lalu apa hikmah yang dapat dipetik?

Alhamdulillah Bapak ini udah resmi jadi Ayah😃

Aku tau setiap orang memiliki rasa dan pengalaman yang berbeda-beda. Begitupun pengalaman melahirkan dan operasi SC. Aku lupa bahwa semua bisa saja terjadi dan kita harus menyiapkan diri untuk semua kemungkinan itu. Saat itu aku fokus ingin lahiran normal. Jadi belajar hanya tentang lahiran normal saja. Belajar tentang mengeden, tentang pembukaan, kontraksi, senam hamil agar mudah melahirkan, dll yang berfokus untuk bisa lahiran normal. Nyaris tak ada sama sekali aku belajar tentang lahiran dan persiapan SC. Hanya sekilas lewat dan nonton proses SC di IG saja serta dengar cerita SC orang-orang.

Seperti yang aku bilang di awal tadi, 2 minggu yang lalu saat kontrol, posisi bayi, placenta, air ketuban, tali pusat, posisi kepala, dll semua normal dan sehat. Bahkan hari Jum'at (3 hari sebelum operasi), bidan bilang kepalanya udah masuk panggul. Udah dibawah melewati garis perut. It's mean dalam waktu mungkin tidak sampai 3 hari ia udah keluar ucap bidan. Aku percaya. Karena dia adalah bidan desa senior yang profesional. Namun qadarullah. Malah saat kontrol lagi di RS, kepala bayinya udah mutar lagi ke atas. 

Support keluarga sangat penting saat lahiran normal maupun SC (ini foto suami baru makan karena sibuk ngurus ini dan itu)


Jadi penting banget untuk kita mempelajari keduanya. Ambil pelajaran ya buat yang saat ini sedang hamil besar dan bentar lagi lahiran. Atau siapapun yang membaca ini. Persiapkan diri untuk lahiran normal dan SC meski kita pingin banget lahiran normal. Ini agar kelak jika kondisi mengharuskan SC, mental kita lebih siap.

Alasan lain kenapa aku harus SC

Selain sungsang ada beberapa alasan lain kenapa aku harus SC. Yaitu:

1. Lewat bulan

HPL dokter dan bidan beda sebulan. Dokter bilang HPL nya 19 November namun bidan bilang sesuai HPHT, HPL ku 19 Desember. Sebulan lebih maju dokter. Jadi otomatis udah lewat bulan jika menurut pemeriksaan dokter. Jika hitungan manualku sendiri sesuai HPHT, memang usia kandungan udah 10 bulan kurang 3 hari.

2. Air ketuban merembes

Hari sabtu, ada air bening keluar dari kemaluan. Aku langsung berfikir itu air ketuban. Tidak banyak. Hanya sedikit. Lalu hari minggu keluar lagi. Malam senin juga keluar tapi sedikit. Dan perut ku sakit gak kayak biasanya. Aku fikir udah mau kontraksi. Ternyata besoknya sakit itu udah hilang. Kontraksi palsu. Aku sudah mulai khawatir dengan air ketuban. Takut terminum bayi hingga jadi racun. 

Ternyata benar, terminum sedikit oleh bayi dam bayiku nyaris di pasangi infus untuk ngasih obat. Aku sedikit cemas. Tak tega rasanya jika bayi mungil ku dipasangi infus. Namun Alhamdulillah tidak jadi. Dan bayiku sehat. 2 malam nginap di RS, kami berdua udah diizinkan pulang. Luka ku udah kering, aku udah bisa jalan ke WC serta udah memakai kursi roda ke ruang bayi untuk menyusui. Bayi ku juga sehat tanpa kendala.

Alhamdulillah kami telah kumpul bersama keluarga🥰


Alhamdulillah. Tiap prosesnya di rumah sakit telah aku lewati. Semangat ya buat kita semua. Mau SC atau normal, intinya kita sama-sama berjuang untuk sebuah nyawa yang baru. Perjuangan yang membahagiakan.

3 comments

  1. MaasyaaAllah, terharu dgan crta mbak neng. Byak pljran yg bsa d ambil dr kisah mba neng. Smga Allah sllu beri kshatan dn kemudahan untk mbak neng dan kluarga..aamiin

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah, selamat lahiran mbak Nengsih. Alhamdulillah dikasih rezeki jadi orang tua oleh Allah

    ReplyDelete

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah

Komunitas Blogger Bengkulu (BoBe)