Kita Hanya Berpindah Titik


Waktu terus berlalu. Dan kita manusia terus bertebaran di bumi. Ada yang mencari rizki, menuntut ilmu, menikah, beranak-pinak, bahkan ada yang meninggal. 

Dan kita selalu di pindahkan dari satu rasa ke rasa yang lain. Usai sedih datanglah bahagia.  Usai bahagia, sedih menyapa. Tawa, tangis, canda gurau, dan semua rasa yang membuat dunia hidup terus bergulir.

Apa kamu pernah merasakan? Dimana kamu sungguh menanti hari-hari itu. Tak sabar rasanya menunggu. Lalu setelah hari bahagia itu datang, semua berlalu begitu saja. Hingga kemudian kamu menghadapi fase yang baru. Menanti kebahagiaan dalam bentuk yang lain. Atau malah duka cita yang justru lebih dulu menyapa.

Dulu, saat masih kecil, tak sabar pengen masuk sekolah dan memakai baju merah putih. Hingga hari itu tiba. Kita menari-nari menggunakannya. Menatap layar kaca terus menerus. Betapa bahagianya memakai seragam baru. Lalu waktu berjalan. Menjalani sekolah anak usia SD. Hingga di kelas 6, tak sabar menunggu lulus dan memakai seragam putih biru. Begitu seterusnya di putih abu-abu, hingga memakai almamater kampus. Menjadi mahasiswa.  

Saat menjadi mahasiswa baru, kita turut merasakan bahagia. Terutama kebebasan dalam berpakaian dan kebebasan masuk atau tidaknya di jam kuliah. Semua ada konsekuensinya. Hingga di semester akhir menyelesaikan skripsi, seminar, sidang, dan lulus. Yeay! Waktunya jadwal wisuda. 

Hari-hari menjelang wisuda, hati bahagia tiada tara. 3 hingga 4 tahun kuliah tertunaikan sudah dengan beroleh gelar dan memakai toga. Tapi lagi-lagi itu hanya sementara. Euforia wisuda tidaklah lama. Kemudian kita disibukkan dengan dunia sesungguhnya. Dunia kerja. Hingga pilihan untuk memulai hidup baru dengan menikah. Bahagia menyambut pernikahan, hingga hamil dan memiliki anak. Semua berjalan sebagaimana ritmenya. Sebagaimana kodratnya. 

Kita hanya berpindah dari satu titik menemui titik yang lain
Dan jika derita lebih dulu menyapa, bisa jadi kita gagal wisuda, gagal menikah, atau bahkan belum kunjung hamil. Dan bisa jadi pula anak yang diimpikan tidak berlangsung lama hidupnya. Kita bisa apa? Toh kita hanya menjalankan takdir Tuhan. Yang sudah kita sepakati di Lauhul Mahfudz. 

Aku ingat banget rasanya. 

Dulu waktu masih kecil hingga beranjak dewasa, takdir hidup kerapkali membuat aku berada di titik yang tidak diinginkan. Apa itu itu tekanan? Sudahlah! Itu udah menjadi makanan sehari-hari buatku. Kenyang banget hidup dalam yang namanya tertekan.

Lalu apa yang membuat aku senang? 

Saat jauh dari dari Amak dan ikut Abak, hal yang aku senangi adalah ketika mudik ke rumah Nenek. Sepanjang jalan hati rasanya menari. Menyanyikan lagu bahagia. Bahkan rumput pun seolah bernyanyi merayakan kebahagiaan. 

Lalu takdir menghantarkan ku tinggal di kampung kelahiran, tidak lagi bersama Abak. Itu pun diawali dengan kabar duka cita. Meninggalnya adek bungsuku sehingga aku dijemput pulang ke Amak. Meski takdir belum mengizinkan ku tinggal bersama Amak waktu itu. Tepatnya tinggal bersama Paman, bersama ibu guru, ahh! Dah macam manusia purba aja aku dulu. Nomaden! Berpindah-pindah tempat tinggal. 

Menangis udah jadi makanan sehari-hari aku saat hidup tidak seperti yang aku mau. Kuatnya aku karna aku menyadari bahwa Tuhan telah menyiapkan rencana indah untukku. Motto ku saat itu, "Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan". Sesuai dalam surat Al-Insyirah. 

Saat tinggal di rumah Paman atau di rumah siapa saja, apa yang membuat bahagia? 

Menginap di rumah Amak adalah hal yang paling menyenangkan. Aku ingat betul bagaimana sensasinya deg-degan memulai bicara kepada empunya rumah untuk minta izin buat nginap, bagaimana aku tak sabar menunggu hari berlalu buat nginap ke Amak, bagaimana saat malam kebersamaan itu aku rasanya tak mau memejamkan mata karena tak ingin waktu singkat itu sia-sia. Pengen bercerita banyak ke Amak, pengen bermanja, minta garuk, dan banyak lagi. 

Hey! Aku menulis ini dengan mata yang berkaca-kaca. Terharu kala mengingatnya. 😅

Dan apa kalian pernah merasakan?

Bagaimana setelah masa nginap itu berlalu, aku pernah menangis di belakang rumah di bawah rambutan. Menangis sekencang-kencangnya sampai belumer ingus. Wkwk.. Kebetulan pula saat itu rumah sepi. Rumah Paman berada di ujung desa. Nyesek sekali! 

Menangis karena apa? Karena waktu semalam dua malam itu belum cukup melepas rindu ke amak dan saudara. Rindu ku belum nyaman. Badanku udah di rumah paman. Tapi hatiku masih tertinggal di rumah Amak🥺😢

Dan masih ingat sensasinya bagaimana aku membawa sayur yang banyak dari kebun Amak untuk di bawa ke rumah paman. Ini lucu sih. Karena tujuannya buat 'nyogok' bibi biar beliau nggak marah kalau aku terlambat pulang karna ada banyak sayuran yang aku bawa. Hihii.. 

Dan sekarang aku menyadari, hal yang telah Allah persiapkan untuk ku itu ya ini. Hidupku yang sekarang. Suami yang penyayang, mertua yang baik, rezki yang cukup, dan anugerah anak. Alhamdulillah semuanya disyukuri. Meski aku sadar betul, selama kita hidup akan selalu ada ujian demi ujian agar kita naik tingkat. Naik kelas, atau naik derajatnya dimana Tuhan. Selama kita hidup, akan selalu ada hal yang tidak menyenangkan akan kita temui. 

Dan karena berbagai ujian yang telah dilalui itulah, Alhamdulillah sekarang aku tak muluk-muluk memandang hidup. Sederhana aja. Yang penting berusaha. Suka dan duka itu hal yang biasa. Enak tak enak hidup dijalani aja. Kuncinya satu. Dekatkan diri dg Tuhan. Meski aku tak dekat-dekat amat, hehe.. Astaghfirullah..  Paling tidak sholat wajib jangan di tinggalkan, do'a jangan dilupakan. Apapun masalah hidup, angkat tangan (berdo'a) untuk libatkan Allah. Itu saja. 

Dan juga sekarang kalau merasakan hidup yang sulit, aku ngomong ke diri sendiri, "Ini hanya masalah kecil, Nengsi! Kamu pernah melewati hal yang lebih berat dari ini. Santayy aja santayyy!!" batinku. 

Yap! Sebuah sugesti buat diri sndiri agar tetap kalem dan legowo menjalani hidup ini. Hehee

Suka dan duka silih berganti 
Dan sekarang, menghitung hari menjumpai Idul Fitri dan meninggalkan Ramadhan. Aku menghitung hari ingin pulang ke kampung halaman. Aku kembali merasakan sensasi yang sama. Menghitung mundur buat jumpa keluarga di kampung. Mengobati Rinduku, rindunya amak, rindunya adek dan abang, serta rindu semua keluarga disana. MasyaAllah.. Semoga sehat-sehat aja dan tidak ada halangan buat pulang nanti.  Aamiinn..

Meski aku menyadari, waktu ini hanya sementara. Sensasi ini hanya sementara. Sensasi yang hanya seorang perantau bisa merasakan bagaimana bahagianya pulang kampung. Mudik! 

Aku menunggu malam packing pakaian, lalu pagi datang dengan semangatnya bersiap untuk mandi, makan, dan berangkat. Lalu nginap semalam di Bengkulu, lalu berangkat lagi. Dan sampai. 3-7 hari di kampung halaman. Lebaran, silaturahmi dengan keluarga, menikmati kebersamaan dengan saudara, dan banyak hal lain yang mungkin bisa dilakukan. Ya! Seminggu itu aku rasa belumlah cukup. Hingga tiba masanya kembali lagi ke asal. Ikut suami. Kembali ke rantau orang. 

Dan kita kembali menjalani hari-hari seperti biasa. Sehat dan sakit yang akan dilalui, dan pencapaian demi pencapaian lain. Bahkan jika Tuhan mengizinkan, anak bertambah. Rezki bertambah. Kemudian anak membesar dan kita semakin tua. Ya begitulah alam berputar. 

Hingga kita menyadari, semua yang ada di dunia ini hanya sementara. Susah dan senang itu berputar. Semua di dunia ini hanya titipan. Dan kembali ke Tuhan adalah pasti. Bertemu di keabadian. 

Kita hidup di dunia hanya berpindah dari satu titik ke titik lain. Dari satu kebahagiaan menjumpai bahagia yang lain. Atau dari satu duka, ke duka yang lain. Begitulah seterusnya dunia berputar hingga jatah hidup kita habis dan kembali ke keabadian. 

Toh, tiada yang abadi di dunia ini. Yang di makan akan jadi kotoran. Yang dipakai akan jadi bekas. Yang dilalui akan jadi kenangan. Semua berlalu. Hanya amal baik lah yang akan membuat hidup jadi lebih bermakna. Untuk bekal di hidup yang kekal. 

No comments

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah

I'm Part Of

I'm Part Of