Berharap Sempurna Dari yang Tidak Sempurna


Ntah kenapa tetiba aku baper. Sepasang sejoli yang bercerita kisah cintanya kepadaku. Sementara aku berada di pihak yang netral.

Aku seolah bisa merasakan perasaan keduanya. Rasanya sepatah dua patah kata, satu atau dua kalimat saja, tidak cukup untuk menggambarkan itu.

Tentang seorang ukhti/wanita yang mengharap sempurna dari seorang lelaki,

Dan sebaliknya seorang pria biasa yang berharap penerimaan dari seorang ukhti.

Aku lalu berkaca ke diri ku sendiri.

Ya! Aku dulu adalah seorang ukhti (ukhti dalam artian masyarakat awam). Seorang akhwat dengan jilbab panjang lebar, tempat kajian atau masjid adalah lokasiku. Ya meskipun aku bukan tipe ukhti yang ekslusif.  Aku tidak menutup diri untuk bergaul dengan siapapun. Yap! Aku ingin menggambarkan aku yang dulu. Nengsi yang seorang ukhti atau akhwat yang aktif di berbagai kegiatan.

Menjadi musyrifah di asrama kampus yang notabenenya juga teladan buat anak-anak asrama yang lain, menjadi aktifis sekaligus bendahara di KompaQ (Komunitas Mahasiswa Pecinta Qur'an), dan aktifis organisasi kampus meski tak berlangsung lama atau tidak berada di jabatan tertinggi.

But, sekali lagi aku tidak eksklusif. Aku biasa bergaul dengan teman-teman lelaki lainnya. Mengobrol bareng, bercanda, rihlah bareng, berpetualang bareng, diskusi bareng, hingga ngaji bareng. Kita melakukannya bersama-sama. Tentu dalam batasan. Tidak ada sentuhan, tidak khalwat. Kita lakukan bersama-sama.

Masuk hutan keluar hutan, ayok! Untuk menjelajahi alam lalu memperbanyak syukur dengan tafakur. Bercanda tertawa terbahak-bahak, ayok! Diskusi hingga berbantah penuh emosi pernah! Dan beragam hal lainnya yang aku mengakui bahwa aku bukanlah Akhwat/Ukhti/Muslimah yan sempurna.


Hingga pada suatu masa, aku mulai memikirkan masa depan. Pernikahan. Tentu sebagaimana muslimah yang lainnya, aku berharap lelaki yang sempurna. Minimal ibadah dan dunianya seimbang.

Pernah berharap dengan lelaki sholeh dan yaa, bisa dibilang terpandang lah dianya. (Hal ini karena dikasih harapan sama lelaki tersebut). Lalu aku kecewa dan aku berkaca siapa aku? Aku menyerah. Meninggalkan puing-puing rasa oleh hati yang sempat berharap.

Juga pernah berharap dengan lelaki sholeh dengan pendidikan yang menjanjikan berikut gelarnya. Lalu aku dipaksa mundur karena aku bukan wanita yang imbang.

Aku hanyalah satu dari sekian banyak pancing yang ia kasih umpan dalam pengharapan.

Aku pasrah. Tidak lagi berharap pada apapun. Lebih memilih untuk fokus menyelesaikan studi. Masalah jodoh, biarlah seiring waktu berjalan, Tuhan yang menentukan. Namun tetap ku iringi dengan usaha, meminta dicarikan jodoh oleh orang yang aku percaya.

Lalu datanglah ia, dengan sedikit informasi yang ku punya, dia seorang lelaki dengan pendidikan bagus, anak masjid yang insyallah ke-sholehan-nya terjaga, tampangnya not bad. Ok! Aku berusaha ber-ta'aruf. Namun belum lah sampai dititik temu, aku merasa ilfeel karena suatu hal dari dia. Ah! Aku bingung kenapa aku bisa seperti ini. Balik-balik lagi ya itu karena bukan jodoh.

Lalu aku kembali netral. Hingga lelaki yang telah lama menyapa ku di medsos (fb), kembali menyapa. Aku membalas sekadarnya. Tak memiliki rasa apa pun. Singkat cerita kami bertemu ditemani oleh sahabatku. Dia adalah lelaki yang biasa. Bicara fisik, ia tak elok juga tak terlalu buruk dimata ku. Yap! Cantik/tampannya seseorang itu adalah relatif. Beda orang, beda mata pula orang yang memandangnya.

Bicara akhlak? Dia memiliki akhlak yang baik. Aku tau ini berdasar dari cara dia waktu kami bertemu juga informasi dari sahabatku. Dia bersikap apa adanya.

Bicara agama? Disinilah kegalauan terbesarku. Dia orang yang biasa-biasa aja dalam beragama. Bahkan sholatnya sering bolong. Dia mengakui sendiri. Aku bertanya kepadanya bak sedang interview kerja. Panjang dan runtut sekali. Dan dia menjawab apa adanya. Sehingga apa yang terjadi di kemudian hari itu adalah resiko ku.


Aku terlalu menetapkan standar tinggi dalam hal agama. Dan sepertinya ini menyusahkan diriku sendiri.

Beruntungnya aku, aku bertemu dengan orang yang jujur. Bukan dengan orang yang penuh tipu muslihat, asal yang diinginkan dapat. Banyak terjadi di luar sana, tampangnya sholeh, beriman, namun semua itu hanyalah topeng. Aslinya bejat dan malangnya baru disadari setelah menikah. Untuk saudariku, harus hati-hati tentang hal ini, ya.

Dan lelaki ini, ia bicara apa adanya karena ia bilang, "Aku pun ingin membangun pernikahan di atas kejujuran. Aku ingin pernikahan berlangsung lama hingga tiada penyesalan di kemudian hari." Sehingga kemudian, aku bisa menerima dia apa adanya.

Alhasil, dia adalah suami ku saat ini. Dia tidak sempurna. Dan aku sepakat dengan hatiku sendiri untuk menerima ketidaksempurnaan itu dalam hal apapun. Toh! dia bisa menerima segala ketidaksempurnaan ku, kok. Dia mengajari banyak hal. Tentang hidup bermasyarakat, tentang mengelola diri dan hati, tentang sabar, tentang managemen uang, managemen diri, dan banyak lagi. Dan yang paling penting, dengannya aku bisa menjadi diri aku seutuhnya. Kami se-kufu, kami sederajat. Keluarga kami seimbang.

Betapa tidak bersyukurnya aku jika tidak mengakui dan menerima semua ini. Betapa tidak bersyukurnya aku jika berharap lebih dari ini.

Dia memang bukan lelaki yang sempurna perkara agama dan ibadah. Namun kewajibanku terhadapnya adalah taat. Lalu mendo'akan ia agar semakin taat terhadap perintah Allah. Karena kita berpasangan tidak hanya berharap selamanya di dunia. Tapi juga selamanya di akhirat. Aku ingatkan dia semampuku, lalu ku do'akan. Begitulah usahaku untuk meluluhkan hatinya. Hati kita milih Allah. Allah yang menggenggamnya Allah yang membolak-balikkannya.

"Yaa muqallibal Qullub! Tsabit Qalbii 'alaa diiniik"
Wahai Sang pembolak-balik hati, tetapkan hatiku dalam agamamu. Aamiinn

Lalu kembali ke Ukhti zaman sekarang, aku tau kebanyakan mengharapkan lelaki yang sempurna. Sempurna dalam pandanganmu. Karena dia lelaki yang akan jadi pemimpinmu, lelaki yang akan jadi ayah buat anak-anakmu.

Lalu lelaki yang seperti apa yang kau harapkan?

Lelaki yang sholat wajibnya tak pernah lalai, lelaki yang sholat sunah nya tak pernah Tinggal, lelaki yang puasa sunahnya terjaga, lelaki yang tak pernah absen ikut kajian, lelaki yang tak lepas dari masjid?

Namun lelaki yang baik adalah lelaki yang baik akhlak maupun agamanya. Yang mengutamakan urusan akhiratnya baru dunia. 

Paman ku dulu pernah berkata. "Carilah lelaki yang bertanggung jawab. Itu saja! Ia bertanggung jawab untuk urusan dunia maupun akhirat mu"

Dann.... 

Kamu adalah cerminan dari pasanganmu. Hingga kamu saling melengkapi satu sama lain. 

Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (An Nur:26)

So, buat saudariku, tak perlu terlalu risau perkara jodoh. Perbaiki saja dirimu sebaik mungkin dan teruslah berdo'a. Biar 'tangan' Allah yang bekerja memberikan pasangan yang tepat untukmu. Karena Allah tau yang terbaik buat hamba-Nya.

Berikhtiar lah sesuai dengan tuntunannya. 😊   

2 comments

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah

I'm Part Of

I'm Part Of