Jadi Korban KDRT, Diam atau Lawan?


Beberapa minggu belakangan ini, jagat dunia dunia maya tanah air dihebohkan oleh pelaporan kasus KDRT yang dialami artis ternama tanah air atas suaminya. Yaitu Lesti Kejora dan Rizky billar, suaminya.

Sontak hal ini membuat masyarakat terkejut. Karena selama ini mereka selalu tampil mesra di TV, eh tetiba ada laporan KDRT aja. Aku awalnya juga B aja saat berita ini lewat di timeline medsos. "Ah hanya gimmick ini!" fikirku. Ternyata lewat lagi di medsos bahwa polisi memang membenarkan adanya laporan KDRT tersebut. Si L dirawat di RS dan bukti visum ada. Berarti ini semua bikin gimmick. L mengalami KDRT dibanting hingga di cekik. Sadis banget pokoknya.

Saat tanah air heboh oleh berita tersebut, L melakukan Umroh. Dan laporan di proses hingga pada akhirnya si R ditetapkan sebagai tersangka.

Namun jagat maya kembali heboh. L mencabut laporan dan berakhir damai. Pro dan Kontra kembali bermunculan. Banyak yang menyayangkan keputusan L mencabut laporan. Namun banyak juga yang mendukung keputusannya tersebut dan memberi kesempatan kedua ke R.

Yahh.. Namanya juga artis sebagai publik figur, kan yaa.. Udah pasti kehidupannya di sorot masyarakat banyak. Udah jadi resikonya dia. Itulah kenapa publik figur harus jadi role model yang baik kepada masyarakat. Harus contohin yang baik-baik. Terlepas mereka tetap adalah manusia biasa yang tak lepas dari berbagai kesalahan.

Hal ini juga membuat aku tertarik sih buat bicara. Terutama mengenai kasus KDRT nya. Aku nggak mau bicara soal keputusan L. Kita kesampingkan dulu itu. Toh, itu adalah hak sepenuhnya si L. Mungkin banyak hal yang ia pertimbangkan sebelum mengambil keputusan besar mencabut laporan tersebut.

Related: Kita hanya berpindah titik

Aku juga nggak tau bagaimana kondisi aku jika hal tersebut terjadi ke aku. Aku nggak tau keputusan apa yang akan aku buat nanti. Apakah bertahan dalam kesabaran dengan harapan suatu saat ia akan berubah, atau segera bertindak untuk menjauh dan jaga jarak.

Namun untuk saat ini, kalau KDRT terjadi ke aku, aku nggak bakal diam aja. Segera bertindak untuk melindungi diri. Susah sekali rasanya untuk berdamai dalam hal KDRT. Bisa dibilang susah untuk dimaafkan. Hal tersebut sudah aku sampaikan pula ke Suami saat awal-awal nikah dulu. 2 hal yang tak bisa dimaafkan yaitu, main tangan (KDRT) dan main wanita (selingkuh). Jika hal itu terjadi, maka jangan halangi aku untuk pulang ke orang tua. Ntah untuk menjernihkan fikiran, memilih berpisah, atau berfikir ulang untuk kembali dengan perjanjian tentunya.

Meski wanita, tetaplah berfikir logis

Wanita kodratnya lebih mengutamakan hati daripada otak. Meski begitu tetaplah berusaha berfikir logis
Terkadang aku merasa gemes dengan orang yang cinta-cinta an selalu makai hati nggak pake logika. Kalo kata anak zaman sekarang tuh, BUCIN. Mikir ngapa, sih? Logika dipake dulu baru hati walau kodratnya emang wanita itu lebih dominan ke perasaan/hati.

Tapi balik lagi, kata-kata aku di atas hanya bisa diucapkan oleh orang yang memang pemikirannya udah dewasa tentang hal begituan. Toh, aku dulu juga pernah mengalami bucin. Pernah GR, pernah kasmaran. Ya namanya juga sedang puber. Hanya saja, saat kita sedang masanya puber atau pas bucin-bucin nya, ada baiknya jangan dulu langsung memutuskan untuk menikah. Susah pisahnya kalau terjadi sesuatu someday. Banyak hal yang harus difikirkan. Beda cerita kalau orang lagi pacaran. Tinggal putus hubungan, putus kontak, beres deh. Biarkan aja puing-puing rasa dan kenangan yang tertinggal. Cielah. Wkwk

Ah! beruntung sekali wanita-wanita yang mencintai/menikah karena mereka mengutamakan logikanya baru kemudian mencampurkan hati. Dan Alhamdulillah aku termasuk ke dalam itu sebelum menikah dengan Suami sekarang.

Kasian, sih. Dan simpati juga sama yang dikit-dikit make hati. Dikit-dikit karena sayang, dikit-dikit nggak tega an, Termasuk dikit-dikit demi anak. Akhirnya jadi cinta buta. Anak sudah pasti jadi korban.

Well, seperti aku bilang di awal tadi, kalo aku diposisi itu, posisi seorang wanita yang berada dalam rumah tangga toxic, aku nggak bakal biarin diriku dihancurkan oleh orang lain termasuk orang yang aku cintai. Diri aku sendiri harus bahagia. Dan anak-anak akan bahagia jika ibunya bahagia walau tidak bersama ayahnya. Bukan kebahagiaan yang dipaksakan demi anak-anak.

Related: Berharap sempurna dari ketidaksempurnaan

"Ah! Kamu ngomong gini itu karena kamu belum ngerasain tuh diselingkuhin suami. Kamu belum ngerasain tuh di KDRT suami"

Why? Lantas karena aku belum ngerasain aku nggak boleh bicara? Apa aku harus ngerasain dulu baru aku boleh berpendapat?

Apa aku harus masuk lobang dulu baru aku boleh ngomong bahwa disana ada lobang padahal aku sudah tau dari awal bahwa ada lobang yang bakal buat bahaya?

Naudzubillah, jauhilah bahaya dan hal buruk lainnya dari rumah tangga ku. Rumah tangga kita semua.

Pernah jadi Korban KDRT

Tidak ada anak yang bahagia di atas penderitaan orang tua terutama ibunya
Bukan aku yang kena KDRT, ya. Tapi ibuku. Aku juga korban disini. Dulu, ayahku pernah melakukan kekerasan dengan ibuku saat masih kecil. Cuma sekali tapi ingatan dan trauma ku terasa hingga saat ini. Bahkan saat aku melihat suami istri bertengkar atau bentak-bentakan badan aku gemetar. Ingatan itu kembali hadir. Apa lagi kalau udah main tangan. Trauma udah tu pasti. Masa kecil ku dulu dididik dengan keras juga. Itulah kadang aku lebih milih nge-hindar dulu kalau liat orang ribut.

Bahkan saat sekarang keluarga besar ku baik-baik aja, mungkin ayahku berfikir semua 'Okay'. Beliau nggak tau bahwa dampak KDRT waktu itu masih mengenang hingga sekarang di memori ku.

Saat itu aku masih kecil banget belum usia sekolah. Tapi selalu ingat sampai sekarang. Aku ingat semua yang terjadi. Mulai dari alasan terjadi KDRT waktu itu, kondisinya, situasinya, dan waktunya. Melekat kuat di ingatan. Alhamdulillah, sekarang ayahku udah berubah.

Apa yang mesti dilakukan jika jadi korban KDRT?

  Selalu libatkan Allah untuk tiap urusan, apalagi urusan rumah tangga
Aku baca dan nonton beberapa postingan di medsos mengenai korban KDRT. Rata-rata, korban KDRT akan memaafkan dan kembali lagi ke suaminya hingga 5-6 kali menjadi korban baru kemudian ia memutuskan untuk pisah. Silahkan tonton aja di konten tiktok @dailyjour untuk lengkapnya.

Dan menurut Najwa Shihab, kebanyakan orang yang jadi korban KDRT, lingkungan sekitarnya nggak mau bantu dan memilih diam karena itu dianggap urusan pribadi orang dan kita nggak boleh ikut campur. Padahal KDRT itu bukan masalah pribadi. Masalah kita semua. Masalah negara. Dan udah ada Undang-undangnya.

KDRT di atur dalam Undang-Undang
Dalam UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, hanya kekerasan dalam rumah tangga yang dirumuskan dalam  Pasal 51, 52 dan 53 yang masuk dalam kategori delik aduan. Sementara kekerasan dalam rumah tangga dalam kasus Lesti Kejora, dimana pelakunya dijerat Pasal 44 ayat (1) yang merupakan delik biasa.

Pasal 44 ayat (1), berbunyi setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).

Jenis-jenis KDRT yang termasuk delik aduan adalah kekerasan fisik yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari (Pasal 44 ayat 4). Kekerasan psikis yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari (Pasal 45 ayat 2). (Dikutip dalam FB: Elfahmi Lubis)

Diam atau Lawan?

Source: Canva
Menurut aku pribadi, jika kejadiannya fatal hingga mengancam nyawa dan keselamatan, sebaiknya segera lapor ke pihak berwajib dengan didampingi keluarga tentunya. Kalau nggak mau lapor demi anak gimana? Okay aja. Tapi lebih baik pisah, deh. Jangan mau serumah lagi. Nyawa mu lebih berharga.

Namun jika jenisnya ringan, sebaiknya selesaikan dulu secara kekeluargaan. Memilih diam aja bukan tindakan yang tepat menurut aku. Karena hal yang sama akan terulang lagi terus dan terus. Seolah candu, dikit-dikit dia bakal main tangan. Bagi dia itu udah biasa. Makanya pelaku harus diberi efek jera dan korban harus dilindungi.

Related: Semua akan indah pada waktunya

Mau lawan juga gimana caranya? Wong fisik kita yang wanita ini notabene-nya lemah, kok. Aku aja dipegang pak suami pergelangan tangan langsung tak berdaya. Padahal cuma bercanda. Kecuali kalau memang wanita itu punya latar belakang ilmu bela diri. Nah, penting juga, nih buat para wanita belajar ilmu bela diri. Sayang banget aku dulu belum kesampaian mau belajar bela diri. Hehe..

Semoga banyak wanita yang bertindak tegas akibat kena KDRT dan semoga wanita yang tetap sabar dan bertahan, do'a-do'a dan harapannya agar suami berubah segera dikabulkan. Aamiinn

14 komentar

  1. Masalah KDRT ini memang pelik ya.
    Karena saling keterkaitan dengan lainnya.

    Ada yang balik lagi karena perasaan, ada juga yang balik lagi karena ekonomi.
    Intinya sih support yang tak kenal lelah dari keluarga yang penting

    BalasHapus
  2. Semoga kita selalu dijauhi dengan perbuatan dzolim, terlebih KDRT. Speak up untuk cerita menjadi korban KDRT itu gak gampang, problematikanya banyak sekali, entah anggapan membuka aib keluarga, ketakutan bercerita karena takut semakin dilakukan tindak kekerasan terhadap diri. Hal paling awal menurut Nazwa Shihab adalah kita harus percaya terhadap korban lebih dulu, untuk dapat menindaklanjuti separah apa KDRTnya. Agar memberikan stigma bahwa korban KDRT hatus berani speak up karena adanya pembelaan bukan justru jadi bahan bullying dan cemoohan

    BalasHapus
  3. Lagi heboh-hebohnya memang kasus LesLar ini ya. Sejak pencabutan laporan, hujatan atas LesLar, khususnya Lesti, mendadak sontak ramai bermunculan. Padahal sebelumnya, saat dia melapor, jutaan orang mendukung Lesti.

    Kalo menurut saya sih, Lesti belum dewasa secara logika. Yang dia ikuti hanya kata hati, rasa cinta yang berlebihan dan merasa menjadi manusia sholeha karena bisa menerima kekurangan suaminya dan mampu atau setidaknya merasa mampu merubah karakter Rizky. Padahal hal terakhir ini mustahil untuk diwujudkan.

    Saya kebetulan bukan penggemar mereka. Tapi melihat kejadian ini, saya tambah mundur untuk tidak menggemari mereka hahahaha. Yowesben. Terkadang masalah RT bisa jadi materi gimmick untuk popularitas dunia tipu-tipu

    BalasHapus
  4. karena pernah jadi korban KDRT, saya paham langkah yang diambil Lesti
    tapi kesalahan sudah dimulai dari mepetnya waktu pengenalan dan keputusan menikah
    cuma 6 bulan, sementara kita tahu pernikahan merupakan ibadah seumur hidup

    BalasHapus
  5. Kalau di rumah ada bentakan alias suara keras dan ada anak kecil di rumah, maka dampaknya bisa ke trauma masa depan juga ya. Jadinya kebawa-bawa ya

    BalasHapus
  6. Kalau menurut saya sih ... melakukan KDRT memang harus dilawan karena itu merupkan tinbdakan kriminal

    BalasHapus
  7. Kalau tabiat udah main tangan dan hal tersebut terjadi untuk kesekian kali memang harus dipertimbangkan kembali apakah mau lanjut atau tidak mbak. Kalau aku (smoga jgn smpe trjadi) tetap lawan,
    Karena terbiasa dengan hal buruk, pasti utk berubah menjadi hal baik butuh waktu kalau selama proses nya kita yang jadi sasaran, lebih baik stop di situ

    BalasHapus
  8. Bingung sih ya karena KDRT tuh menyangkut psikologis juga. Ada yang berusaha untk bertahan terus walau kena KDRT tapi ada juga yang berani buat lapor dan pergi. Ada baiknya sebagai orang luar kita bantu korban KDRT agar berani ambil keputusan karena yang namanya KDRT susah untuk keluar..

    BalasHapus
  9. Huhu...sedih sekali melihat hal ini dan banyaknya komentar publik yang berkembang.
    Semoga Allah jaga selalu kemuliaan seorang wanita dan dijauhkan dari fitnah kekerasan dalam rumah tangga dalam bentuk apapun.

    BalasHapus
  10. Sedih memang mba temen ku smp sekarang masih bertahan dn hanya Memilih diam aja memang bukan tindakan yang tepat menurut aku. Karena hal yang sama akan terulang lagi terus dan terus.

    Ini dja lakukan demi bapaknya yg udah sepuh

    BalasHapus
  11. Harus dilawan, jangan diam. Caranya ga selalu harus pakai fisik juga, tapi pakai strategi matang. Ikutsertakan ahlinya, dalam hal ini ahli hukum.

    BalasHapus
  12. Dari awal liat dia bucin pun aku udah males ikuti beritanya, sampai kasus KDRT pun udah bisa diperkirakan sih kemana arahnya. Semoga jadi pelajaran buat para dedek-dedek lainnya gimana harus bersikap dalam menjalani rumah tangga. Penting banget logika pun diajak, jangan pake perasaan mulu

    BalasHapus
  13. Lagi hangatnya berita tentang KDRT ini. Jujur aku menyayangkan keputusan L yang memilih untuk berdamai. Pernah denger pepatah, kalau sudah jadi tabiat akan susah untuk berubah.
    Ya mudah-mudahan itu keputusan terbaik.
    Terpenting jangan sampai ada keluarga atau anak-anak kita yang jadi pelaku KDRT kelak.

    BalasHapus
  14. Ngomongin soal KDRT duh amit2 jangan sampe kita ataupun orang terdekat kita ngalamin, trs kalo terjadi KDRT jangan cuma diam dan pasrah, laporin ke polisi dengan bawa bukti2 kekerasan yang terjadi

    BalasHapus

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah

I'm Part Of

I'm Part Of