Kamis, 06 April 2017

Untukmu ibu



Untukmu Ibu



                                              foto setahun yang lalu

Ah.. rindu itu kembali menggelitik ku..
Sudah beberapa hari ini aku tak mendengar kabar dari Ibu, no.Hp adek ku tak dapat dihubungi. Tapi malam ini aku berdo’a semoga nomor hp adx aktif.
Dannn..Alhamdulillahh.. ibu, suaramu bisa kembali aku dengar. Sekadar pengobat rindu di hati ini di tengah kemelut kota yang jika seseorang tak mampu menaklukanya, maka ia sendirilah yang akan tenggelam disana. Bukan hanya hal yang positif saja yang bisa kita dapatkan. Tapi hal yang negative pun tak segan untuk menghampiri. So, mesti kuat segalanya jika ingin tetap bertahan di kota dalam koridor yang diridhoi-Nya.
Tak lama aku mengobrol dengan ibu. Tapi 1 hal yang menjadi kebiasaanku adalah ketika mengobrol dengan ibu, selalu saja bawaanya pengen nangis. Baper..
Seperti biasa, aku menanyakan kabarnya, lagi apa?, sudah makan apa belum?, dll. Begitupun ibu juga menanyakan hal yang sama tambah dengan bagaimana kuliah ku?. So, otomatis aku menjawab semua baik-baik saja meskipun pada kenyataanya tak sebaik yang aku katakan. Tapi setidaknya aku tidak membebankan fikiran ibu dengan apapun masalah yang aku hadapi di kota ini. Baik tentang kuliah ataupun aktivitas ku yang lainya.
Aku sedikit merasa susah menggambarkan sosok seorang Ibu.. bukan apa-apa, tapi bagiku ibu adalah segalanya. Bagaimana tidak, aku bela mati-matian untuk kuliah adalah demi membahagiakan ibu. Demi kelurga dengan masa depan yang lebih baik. Bukan.. bukan aku berjanji jika aku kuliah dan mendapat gelar sarjana, masa depan kami sudah pasti baik. Bukan seperti itu. Tapi setidaknya aku sudah berusaha dengan cara yang seperti ini.
Ibu.. aku mencintainya.. setiap orang mempunyai pengalamanya masing-masing tentang kasih sayang seorang ibu. Begitupun aku. Begitu banyak kasih sayang, pengorbanan, bahkan do’a-do’a ibu selalu mengalir dalam tubuhku. Nafasku ini mungkin berkat do’a seorang ibu.
Ibu.. sosok yang menjadikan ku wanita se-strong ini. Ahh rasanya aku ingin menangis jika bercerita tentang beliau. Pernah suatu ketika seseorang bertanya kepadaku pada waktu awal-awal kuliah
 “Siapa orang yang paling kamu cintai?”
Saat itu aku tercekat, tak bergeming. Tapi orang itu melihat mataku yang mulai berkaca-kaca.
“kenapa nangis?”
Akhirnya aku angkat bicara
‘Ibu”
Ahh.. itu pertanyaanya nyesek banget (maaf kalo agak lebay). Memang ibu adalah orang yang paling aku cintai. Salah satu penyemangatku.
Tapi teman-teman, meski begitu, dulu aku termasuk anak yang bandel, sering membantah, aku tak terlalu menyadari bahwa aku sangat mencintainya dan bahkan takut kehilanganya. Hingga suatu peristiwa terjadi yang membuat aku menyesal dan berjanji untuk tidak menyakiti hati ibu lagi. Aku tidak ingin ibu sakit lagi. Aku ingin membahagiakanya semampuku.
Teringat, sewaktu aku  telah menghabiskan masa-masa liburan semester dan harus ke Bengkulu lagi, aku berpamitan kepada ibu. Menyalami, mencium, dan memohon do’a restunya.
Saat itu semua berjalan seperti biasa,
Namun, tiba-tiba ibu berbalik arah kepadaku disaat aku sudah mau berangkat. Beliau menangis :’( .. dan berkata “Tekadmu terlalu kuat nak, keinginanmu untuk kuliah sangat besar., Belajarlah yang baik. Gapailah cita-citamu. Ibu akan selalu mendoakanmu”. dan masih ada lagi kata-kat ibu yang tidak bisa saya ceritakan disini, yang membuat kami saat itu berpelukan sambil menangis. hemm..
Nyesek!!.. kata-kata ibu benar menusuk di hatiku. Bukan berarti ibu mau mematahkan semngatku. Ahh.. aku tau darimana aku berasal dan bagaimana perekonomian keluarga. Tapi yakinlah bu, Allah selalu bersama hamba-Nya selagi ia mau berusaha. Man Jadda wa Jada. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil. Kemiskinan bukanlah suatu halangan untuk meraih mimpi.
Untukmu ibu.. tetaplah jadi penyemangatku. Inginku persembahkan sesuatu yang mungkin bahkan kau fikir itu tidak mungkin. Tetaplah tersenyum, Bu.. senyum kecil mu itu salah satu kebahagiaanku.
We Love You, Mom.. tak ada yang mampu membalas kasih sayang mu. Bahkan dunia dan seisinya pun kalo kuberi untukmu, takan mampu membalasnya. Maafkan anakmu jika dulu terselip kata-kata yang mungkin menyakitimu, maafkan jika ada perbuatan yang melukai perasaanmu.
Dan untuk teman-yang saat ini sedang jauh dari ibu, selalu sempatkanlah waktu untuk sekadar menelpon dan menanya kabarnya. Mungkin saja saat ini ia sedang merindukanmu, mencemaskanmu, memikirkanmu… jangan pernah lupakan jasa-jasa seorang ibu. Jangan pernah sakiti hatinya. Kata pepatah, meski solatmu berjuta-juta rakaat, hajimu berkali-kali, sedekahmu tak terhitung, namun saat kau sakiti hati ibumu, maka surge bukan milikmu.
Selalulah minta do’a dari ibumu. Karena do’a ibu itu mustajab. Takan ditolak oleh Allah.
Ridhonya Allah Bergantung pada ridhonya orang tua kita. Semoga tulisan ini bermamfaat dan dapat menjadi inspirasi buat teman-teman. Amiinn..
Bengkulu, 6 April 2017 (9 Rajab 1438 H)

0 komentar:

Posting Komentar