Hutan Mangrove



Hutan Mangrove

        
   
Ketika membaca judul ini, jangan berfikir bahwa aku menceritakan tentang hutan nya ya?? Tidak sama sekali. Aku hanya ingin menceritakan tentang bagaimana perjalanan kami menuju tempat wisata ini.
Yaa..siang itu pada tanggal 9 April 2017
hari minggu, setelah mengikuti acara seminar yang diadakan pihak Fakultas, teman-teman mengajak ke hutan mangrove. Awalnya aku menolak. Selain karena capek juga karena bensin motorku yang darurat. Maklumlahh.. dana lagi minim buat beli bensin. Jadi harus berhemat. Hehee.. teapi teman memaksa. Toh kebetulan juga hari itu ulang tahun ku. Dan lebih seru kalo kita pergi rame-rame. Mumpung kita lagi di kampus 4 lo.. gx jauh koq dari sini. Begitu alasan temen-teman. Akhirnya aku mau pergi. Itupun karena temanku yang membantu beli bensin. Hihii (gak modal banget,Yach..)
Dan berangkatlah kami menuju hutan Mangrove yang berada di kecamatan Kampung Melayu. Sekitar 15 menit perjalanan akhirnya kami sampai.. Woww.. ternyata banyak juga ya yang mengunjungi tempat ini meskipun terik matahari yang luarr biasa. Karena kami belum sholat zuhur, akhirnya kami sholat zuhur dulu di Masjid tersebut yang tepat berada di depan hutan itu sendiri, jadi sangat starategis untuk tempat beribadah.
ngomong-ngomong tentang hutan nich.. jangan membayangkan hutan ini banyak semaknya, terus banyak pohonya, dll  seperti hutan pada umumnya. Tidak!!. Hutan Mangrove atau hutan bakau adalah tempat biasa para nelayan di sekitar sini menambangkan perahunya. Ketika selesai melaut. Tempatnya cantik sekali. Kita bisa mengabadikan moment kita menggunakan kamera di tempat ini dengan latar belakang alami yang ada di hutan ini. Dengan sungai dan hutan bakau serta perahu-perahu yang indah di tambah lagi dengan pemandangan alam yang luar biasa cantik. Hehee. Kata teman-teman, kalo sore-sore lebih cantik lagi ni pemandanganya. Kita bisa melihat sunset. Dan hasil fotonya juga lebih bagus karena terpaan cahaya sunset.
Karena cuaca yang sangat panas, apalagi waktu itu aku lagi make hijab warna hitam, akhirnya kami berteduh. Tidak tahan dengan sengatan panas matahari. Setelah ditawari oleh seorang ibu untuk naik perahu sekadar menikmati dinginya air sungai, kami pun sepakat untuk naik perahu. Biaya naik perahu juga masih tergolong murah koq. Hanya 5000 rupiah per orang.
Kami menikmati perjalanan sungai 2 kali bolak-balik dengan perahu yang membuat kami cukup untuk menikmati sungai dan sekadar foto-foto di atas perahu. Dengan perahu kita bisa lebih jelas melihat sungai, hutan bakau, perahu-perahu yang lain, rumah-rumah warga, dan tempat kami melakukan sesi-sesi foto dengan background pemandangan tadi. Pokoknya kalo kamu kesini jangan lupa untuk mencoba perahu juga yaa?? Kalo enggak pasti kamu nyesel dech. Hehee
Setelah turun dari perahu, kami menemui bapak-bapak sekadar untuk mengobrol ringan tentang tempat Hutan Mangrove. Dan bapak itu ternyata adalah ketua RW 02 Kampung Sejahtera (nama tempat ini). Dari obrolan dengan beliau kami tau ternyata tempat ini masih baru-baru ini tenar di khalayak ramai. Belum nyampe sebulan meski sebenarnya tempat ini sudah lama ada. Hal ini bermula dari ibu-ibu PKK ataupun ibu-ibu pengajian yang berfoto-foto disini lalu mengunggah nya di media social sehingga diliat oleh masyarakat luas terutama masyarakat Bengkulu yang tentunya membuat orang penasaran dan akhirnya mengunjungi tempat ini juga.
Menurut penuturan bapak, pada malam hari tempat ini juga ada pengunjungnya. Dan banyak nya pada malam minggu. (maklum anak muda. Heheh). Oya, di tempat ini juga ada souvenir, kalo sahabat mau beli cindera mata untuk teman nya atau mungkin untuk diri sendiri. Yaitu kerajinan siput yang merupakan buatan tangan dari masyarakat disini sendiri. Harga terjangkau dengan bentuk yang beragam. Kreatif yaa..
Pak Syamsul bilang tempat ini pernah dikunjungi oleh dinas Pariwisata dan bapak Wali kota. Tujuanya ingin menjadikan tempat ini tempat wisata Bengkulu, seperti Pantai Panjang, Tapak Paderi, dll. Tentunya ciri khas dari tempat ini adalah menonjolkan Hutan Mangrove dengan kapal sebagai background serta menikmati air sungai dengan kapal. Yachh..seperti yang dikatakan pak Syamsul sendiri, sebenarnya tempat ini belum layak di bilang tempat wista. Entah kenapa? Aku juga gak tau alasanya. Semoga tempat ini segera resmi jadi tempat wisata ya pak..aaminn…
Lanjut pak Syamsul lagi, tujuan adanya tempat wisata ini adalah agar masyarakat menengah ke bawah bisa menikmati wisata ini dengan biaya murah. Selain itu juga, tentu, untuk mengisi waktu luang masyarakat sekitar sini yang tidak melaut, namun tetap memiliki penghasilan dengan sewa perahu kepada pengunjung.. oya, tempat ini tidak ada tiket masuk lo. Dan free Parkir. Keren kan??
Satu lagi, kapal yang ada di gambar ini bukan berarti kapal kami terbalik ya?? hehee.. tapi memang kapal warga yang sudah rusak dan tidak terpakai lagi.
                                

Nah,, gimana sob? Masih mikir buat ke tempat ini? Jangan kelamaan mikir dech. Kuy!!.. ajak teman-teman mu kesini juga. Hanya dengan bermodalkan bensin dan tenaga sedikit. Shabat sudah bisa menikmati tempat ini. Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari tempat wisata yang indah di luar kota bahkan luar Negeri, sob.. kunjungi dulu tempat wisata kita. Toh, wisata local tak kalah menariknya dengan wisata luar.
Dengan mengunjungi wisata local, secara tidak langsung kita sudah membantu perekonomian masyarakat sekitar sini. Kapan lagi loo bisa membantu orang lain dengan cara yang seperti ini? Dengan mengunjungi tempat ini, secara tidak langsung juga, kita sudah menjadi bagian dari warga yang ikut melestarikan pariwisata daerah kita sendri.







Yawdah.. mau nunggu apa lagi? Buruan ke Hutan Mangrove dan tunjukan foto terbaik kalian ke kita..!!! ;-) 
Bengkulu, 10 April 2017

2 komentar

  1. waah kece ya hutan mangrove nya
    pengenlah sesekali berkunjung kesana :)

    BalasHapus
  2. iya mbx.. hayukk ajak ubay kesini. hehee

    BalasHapus