Welcome To New Life (Kehidupan Pasca Menikah)

 

Assalamualaikum teman-teman, apa kabar kalian? Ada yang rindu tulisanku kah? Hahaa

Sebelum fokus ke judul, aku mau curhat mengenai blog dulu nih. Uneg-uneg perkara nulis blog.

Ya!  Rasanya sudah lama sekali aku nggak nulis di blog kesayangan aku ini. Ibaratnya rumah ni, udah kotor. Bersarang laba-laba, dan berantakan.

Bahkan setelah paragraf kedua di atas, aku pun masih terhalang untuk melanjutkan nulis lagi. Ada-adaaaa saja halangannya. Dasar aku. Heheh.

Namun bismillah, sebelum nulis experience yang berbau iklan, aku pengen nyoba nulis dulu tentang aku. Curcol atau sharing atau apalah namanya. Sekian lama tak menulis, sebenarnya banyak sekali yang bisa aku tulis. Hampir 2 bulan, dan mungkin lebih aku tidak menulis dengan sepenuh hati lagi. Dan banyaakkkkkk sekali cerita yang mestinya aku share untuk diambil hikmahnya. Terutama perjalanan cintaku hingga menuju pernikahan dan SAH jadi seorang istri.

Ya!  Ini adalah tulisan pertamaku setelah sah menjadi istri. Semoga setelah ini akan ada tulisan-tulisan berfaedah lainnya lagi.  Aamiin..

Kehidupan baruku


Ini adalah kehidupan baruku. Hidup dengan seorang pria yang selama ini hanyalah orang asing bagiku. Bukan siapa-siapa. Tak kenal sama sekali. Bukan teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman main, teman sekomunitas, seorganisasi, senior, dam sebagainya. Dulu aku fikir jodoh ku tak jauh dari sekitar ku. Setidaknya dia yang sudah tau bagaimana aku, bagaimana kehidupanku, minimal sedikit karakterku.

Namun nyatanya tidak. Untuk menuju kata serius dan yakin akan ketetapan, aku bahkan mengajukan berbagai pertanyaan layaknya interview pekerjaan. Hahaa.. Konyol emang!  Namun aku harus bagaimana lagi?  Aku tak kenal dia. Hanya tau sedikit. Kami tidak menjalani ta'aruf seperti akhwat/ikhwan lainnya. Kami memang mempunyai perantara. Namun aku tidak puas dan tidak cukup jika hanya bertanya kepada perantara yang bersambung ke dia. Untuk itu, aku menghubunginya langsung. To the Point tanpa basa-basi. Apalagi saat itu aku belum ada rasa sama dia. Jadi aku masih realistis apa-apa nanyanya make otak bukan make hati. Nggak ada baper-baperan. Beda kalau kuta udah sayang, biasanya cewek lebih ngutamain hatinya. Menomorsatukan perasaan dan menomorduakan fikiran. Biasanya ni yaa. Wkwk.. Tapi emang kodratnya wanita gitu sich sebenarnya.

Pakaian Adat Bengkulu

Aku mengajukan berbagai pertanyaan ke dia untuk menyatukan visi misi kedepan. Dari agama, kebiasaan, pekerjaan, keluarga, dll. Aku tak ingin menyesal di kemudian hari, teman. Kehidupan broken home sudah cukup membuat ku trauma dan tak ingin mengulang kesalahan yang pernah dilakukan orang tua. Dan beruntungnya yang aku temui ini adalah orang baik. Dia jujur apa adanya.

Saat aku bertanya, dan meminta ia menjawab dengan jujur, ia bilang,
"Untuk apa aku berbohong?  Toh kita sama-sama mau serius. Mau menikah. Jadi lebih baik bicara apa adanya baik buruknya kita. Biar sama-sama tau. Sama-sama menerima. Agar kelak tidak ada penyesalan dikemudian hari"

Baca juga: Bicara Tentang Cinta

Lama berproses, diskusi, hingga akhirnya mencapai kata sepakat dan mengizinkan dia menemui orang tua ku. Okay, nanti kita cerita lagi mengenai pertemuan kami hingga proses dan berakhir di depan penghulu yaa..

FYI, dulu aku pernah ngajuin syarat ke dia untuk menunjukkan keseriusan dia. Adakah yang bisa menebak?

Nanti kita cerita ya.  Nunggu ada yang request minta dituliskan atau nunggu aku mood nulis lagi.  Hehee..

Welcome To My New Life 

New Life, New Patner 

"Selamat datang kedalam kehidupan barumu, Nengsi!. Baik-baiklah disini, betah-betahlah disini dengan keluarga barumu yang awalnya juga sangat asing. Bukan hanya suamimu. Tapi juga keluarga suamimu". 

Aku menyemangati diri. Menyadari diri sendiri bahwa aku telah "MENIKAH". Kehidupan tak sama seperti masih gadis dulu.

Bagaimana tidak?  Aku ditakdirkan menjadi istri orang yang jauh dari desaku. Memang bukan antar negara, antar provinsi,  atau antar pulau. Kami masih di provinsi yang sama. Hanya saja kami sama-sama di ujung Bengkulu. Saya di Kabupaten Mukomuko perbatasan Bengkulu-Sumatera Barat, dia di Kabupaten Kaur berbatasan Bengkulu-Lampung. Butuh waktu 10 jam-an perjalanan darat. Sungguh melelahkan.

Saling melengkapi, saling menyempurnakan adalah kewajiban kita masing-masing pasangan.
(Btw, ini foto di perbatasan Kaur-Manna. Yah! Minggu- minggu awal nikah habis di jalan. Heheh) 

Namun Alhamdulillah sejauh ini aku mensyukuri itu. Menjalaninya dengan ikhlas tanpa beban. Sudah lebih sebulan kami menikah, bahkan sudah bisa di bilang, sering bolak-balik Mukomuko-Bengkulu-Kaur. Sudah akrab dengan jalanan meski kadang di jalan terkantuk-kantuk. Hujan-hujanan.

Keluarga baru

"Menikah sejatinya bukan hanya menikahi lelaki/wanitanya saja. Namun keluarganya juga"
Sesa'uan (Tradisi menuhi panggilan makan ke rumah lalu memperkenalkan silsilah keluarga) 

Bahkan hingga ditahap ini, selain memahami dia yang memiliki banyak perbedaan denganku, aku juga belajar memahami keluarganya. Selain belajar menjadi istri yang baik, aku juga masih terus belajar menjadi menantu yang baik, dan menjadi ipar yang baik. Sebelum kelak, bertambah tugas menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kami (mohon doanya untuk ini agar kami segera diberi momongan. Aamiinn).

Dulu sebelum menikah, aku banyak memiliki keluarga meski tak sedarah. Alhamdulilah Allah memberiku kemudahan untuk "mengambil hati" orang lain. Mudah membuat orang sayang sama aku. Ya memang Alhamdulillah banget banyak yang sayang sama aku. Namun menjelang nikah, aku pun juga sempat bertanya kepada diriku sendiri. "Apakah aku bisa dengan mudah pula membawa diri? beradaptasi semudah aku beradaptasi terhadap lingkungan baru yang selama ini aku jalani?".

Kehidupan baru di desa yang sebagian besar masyarakatnya adalah bertani

Namun semua itu hanyalah kecemasan sesaat. Nyatanya semua tak terjadi seperti yang aku takuti. Aku menjalani kehidupan baruku tanpa beban. Aku menyayangi keluarganya seperti keluargaku sendiri. Keluarga dia juga adalah keluargaku. Meski tidak mudah pula bagiku. Setidaknya untuk saat ini. Semoga dalam waktu singkat aku bisa bersikap lebih luwes lagi, lebih santay lagi, dan kami lebih dekat lagi. Dengan siapapun. Mertua, ipar, tetangga, sepupu, dll..

Minggu pertama menikah

Ini adalah minggu dimana aku sering menanti. Memasang telinga rapat-rapat, menatap pintu dengan lekat. Untuk mendengar apakah itu suara motor dia? Apakah dia sudah depan pintu?  Ini adalah masa-masa dimana aku menanti dia pulang kerja dengan segera.

Nyempetin jalan-jalan
Lok: Pantai Air Langkap, Kaur

Bagaimana tidak?  Hari Sabtu kami sampai Kaur, hari Minggu pesta, dan hari Selasa dia sudah masuk kerja lagi. Sementara aku, aku masih merasa sendiri. Masih merasa seperti orang asing. Keluargaku jauh, keluarga disini belum dekat.

Pernah menangis. Saat itu ia WA bakal pulang cepat. Aku sudah kegirangan. Bahagia luar biasa. Namun tak lama ia WA lagi nggak jadi pulang cepat karena pekerjaan belum selesai.

Aku auto nangis. Sedih banget rasanya. Lalu dia pup mengirim foto lagi kerja. Aku ikut ngirim foto mata sembab abis nangis. Lalu ia langsung WA "Kakak pulang sekarang".

Kesabaran selanjutnya, menunggu dia pulang kerja😄

Hahah.. Untunglah cuma sekali itu aja. Kalau sering, kan kasian dengan pekerjaan dia yang terabaikan gegara aku. Dan Alhamdulillah juga sekarang aku udah nggak gitu lagi. Udah biasa kalau dia pulang lambat. Soal menunggu?  Itu masih. Aku akan terus menanti dan menunggu dia pulang. Saat dia di rumah, barulah aku merasa senang dan tenang. Mashallah..

Bagaimana rasanya setelah menikah? 

Menikah membuat kita merasa lebih aman, nyaman, damai, tentram, bahagia. Dah ah!  Susah dijelaskan. Wkwk
(Btw, dah ada tempat nyender ni. Hihii) 
Wahh.. Ini sering aku dapat pertanyaan. Jangan ditanyalah, karena kadang aku sulit menjelaskannya. Beragam rasanya. Hehe

Baca juga: Tribute To My Sister

Alhamdulillah setelah menikah diri menjadi lebih damai, tenang, tentram, aman, dan bahagia tentunya. Maha Suci Allah yang telah menciptakan hambaNya berpasang-pasangan.

Kata orang tua,
"Menikah itu bak mengarungi samudera yang luas. Lelaki adalah nakhodanya, wanita adalah penumpangnya. Tak selamanya selama penyeberangan tenang. Pasti ada ombak, pasang surut, pasang naik, dan beragam yang terjadi di tengah samudera. Namun pastikan sang nakhoda cukup kuat untuk memimpin kapalnya.  Dan sang penumpang mempercayakan sepenuhnya kepada nakhoda hingga semua ujian di tengah samudera bisa dilewati bersama dengan selamat"
Benar teman, tak selamanya kehidupan pernikahan itu aman terus, bahagia terus, lancar terus. Jalan pernikahan tak selamanya mulus bak jalan tol. Akan ada masalah air mata, kecewa, marah, salah faham, dan banyak ujian lainnya. Kita harus cukup kuat menghadapi semua buruknya. Itulah mengapa menikah selain siap fisik, juga harus siap mental. Agar nggak mudah nyerah saat ada masalah. Agar nggak lembek, apalagi dengan mudah mengucapkan kata pisah.

Kami saja yang baru 1 bulanan ini menikah sudah ada masalahnya. Apalagi yang usia pernikahannya berpuluh-puluh tahun. Sudah jadi makanan sehari-hari tu asam garam pernikahan.

Yang penting kita saling percaya, jaga komunikasi, saling mengerti, memahami, dan mengesampingkan ego. Karena menikah bukan hanya tentang aku dan kamu saja. Tapi sudah tentang "Kita berdua"

Terakhir, setiap pasangan itu punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kita harus legowo. Menerimanya dengan sebaik mungkin.
"Tak ada pasangan yang sempurna. Yang ada hanyalah mereka yang saling menyempurnakan dengan masing-masing kekurangan yg mereka punya"
Spesial untuk kamu kak, suamiku.
"Terimakasih sudah menerima baik buruknya aku. Membuatku seolah menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini. Permintaanku masih sama. Sabar terus ya dengan aku. Apapun yang terjadi, kita selalu bersama. I Love You, anaa uhibbukaa fillah."
Mungkin itu saja dulu ya yang bisa aku ceritain.  Nanti kapan-kapan kita lanjut lagi yaa.  Ini jariku sudah sering kram. Maklum, karena ngetik di Hp sementara selama ini biasa ngetik di laptop.

Thanks ya sudah membaca. Nantikan cerita selanjutnya. Stay trus baca blog ku ini.

Jangan lupa bahagia. 🤗🥰

5 comments

  1. Duh senangnya baca tulisan ini, serasa ikut jalan Japan ke kabupaten Kaur, datang ke pesta pernikahan, jalan jalan ke pantai, asyikkk

    ReplyDelete
  2. Barokalloh ....
    Sungguh kaya raya ragam adat istiadat di Indonesia. Semuanya terkandung nilai luhur yang patut dilestarikan.
    Sekarang ini banyak kecenderungan masyarakat tak mau pakai acara adat saat menikah. Salut mbanya masih mau pakai acara adat.
    Saya harus belajar juga ini rias pengantin dan acara adat Bengkulu. Siapa tahu ada klien pengantin orang Bengkulu juga suatu hari, yakan.

    ReplyDelete
  3. Waduh, bacanya jadi baper, nih. Haha. Barakallah kak. Semoga pernikahannya diberkahi, semoga segera dapet momongan. Cerita menunggu suami pulang itu lagi, beuhhh meleleh saya bacanya.

    ReplyDelete
  4. Dari kmren mau baca lupa terus. Heheh dan ini baru sempet baca.
    Aku juga pengen banget nikah muda. Klo bisa skrg pun aku mau . Hahaha tapi aku sadar nikah ga segampang itu . Mental jg harus siap . Terimakasih pengalaman nya mbak . Bkal jdi bekal buat aku

    ReplyDelete
  5. Baarakallaahulaka wa baaraka alayka wa jamaa baynakuma fii khayr atas pernikahannya Mbak. Baca ini jadi ingat masa2 pengantin baru juga apalagi di bagian pas menunggu pulang kerjanya itu. Sedikit telat saja worrya minta ampun apalagi kalau gak ada kabar. Saya juga pernah auto nangis kayak gitu haha tapi itu di tahun pertama nikah saja wkwk tahun kedua, dst udah lebuh nyante apalagi kalau sudah dianugerahi momongan hehe

    ReplyDelete

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah

Komunitas Blogger Bengkulu (BoBe)