Rabu, 10 Oktober 2018

13 Jam Perjalanan Memabukkan Menuju Kaur



Assalamu’alaikum wr.wb

Hallo teman-teman, kali ini aku mau cerita perjalanan ku bersama 3 rekan ku yaitu Nadia, Pangestuti, dan Nisa. Ditambah lagi sama Bang Nover dan Pak Riswanto sebagai supir.

Sebenarnya ini bukan perjalanan untuk jalan-jalan. Tapi adalah dalam rangka rihlah dakwah Universitas Muhammadiyah Bengkulu di salah satu cabang Muhammadiyah di Kaabupaten Kaur. Namun meski perjalanan ini adalah perjalanan Dakwah, pada kenyataanya aku excited ikut berharap bisa jalan ke pantai Laguna Kaur yang terkenal itu. Harapannya sich. Hehee.. meski pada kenyataanya tak sesuai dengan harapan. huhuu


Kami sudah merencanakan ikut pergi ini sekitar ¾ hari sebelumnya. Dan setelah maju mundur cantik antara berangkat atau enggak akhirnya diputuskan berangkat. Kebetulan hari keberangkatan itu adalah hari Kamis tanggal 10 Muharram. Di hari itu Bengkulu sedang ada Festival Pembuangan Tabut. Dan dihari itu pula disunnahkan untuk melaksanakan puasa 10 Muharram. Karena tidak ingin melewati faedah dari puasa 10 Muharram ini kami tetap sahur dan puasa. Berharap kami sanggup meneruskan perjalanan dalam keadaan puasa meski sudah dilarang sama Bang Nover.

Perjalanan Menuju Kaur

Kami berangkat dari Asrama usai sholat Subuh. Kira-kira jam 05.45 menit. Bang Nover dan Pak Riswanto di depan. Sementara aku, Nadia, dan Panges di tengah. Dan Nisa, dia sendirian duduk di belakang karena diantara kami nggak ada yang mau mengalah untuk duduk di belakang. Hihiii

Ketika di perjalanan Nisa hanya tidur hingga sampai di lokasi. Lumayan yach waktu tidurnya. Dari jam 05.30-11.30. wkwk.. Dan Nadia mulai merasakan gejolak di dalam perutnya. Lalu memanggil Uak. Uaakkkk.. Nadia pun memuntahkan isi perut bumi. Eh isi perutnya maksud aku. Wkwk..

Dan tak lama kemudian, Panges pun merasa tersentrum. Yapp.. awalnya dia juga udah bilang sich, kalau dia tidak mabuk. Kecuali kalau ada yang mabuk duluan, maka ia akan kesentrum (kayak listrik yaa. Wkwk). Panges pun mengikuti jejak Nadia. Memuntahkan isi perut, dan sepanjang muntah itu Nisa masih tetap tertidur. Hahaa.. aduh.. aduhh.. nyenyak banget sichh??

Melihat mereka berdua yang sudah tepar, aku pun mulai letih, dan akhirnya kami memutuskan untuk minum. Air minum memang sudah dibeli bang Nover di warung pas beliau mampir. Langsung dah kami eksekusi. Wkwk.. tak sanggup lagi euyy.. daripada dehidrasi dan pinsan. Tatkala itu Nisa masih istiqamah dengan puasanya. (Ya gimana Enggak, wong dianya tidur sepanjang perjalanan. Xixixi)

Dan parahnya lagi, si Nadia ini muntahnya nggak mau di dalam mobil. Harus berhenti dulu baru bisa keluar muntahnya. Dia muntah 4 kali bahkan mungkin lebih. Hhhhh… dan itu lumayan membuat rombongan mobil yang harusnya di belakang kami malah melampaui jauh. Makanya perjalanan kita jadi lebih lama dan terakhir nyampainya, heheh.. nyampai situ acara sudah mulai. Oya, dijalan kami juga sempat mampir di rumah makan untuk mengisi perut. Ditraktir sama Pak Ujang dan Kak Yetman. 1 mobil rombongan yang mendahului kami tadi.

30 Menit Di Lokasi


Ketika nyampai di lokasi, yaitu di Padang Guci, kami langsung menuju rumah tempat persinggahan rombongan. Untuk cuci muka sekalian wudhu karena memang waktu sudah mau dzuhur. Usai itu barulah kami bergabung dan bertemu dengan rombongan UMB lainnya. Hanya kami ber 4 yang mahasiswa. lainnya adalah dosen dan karyawan. Kami masih sempatkan juga untuk foto bersama dengan bunda-bunda dari FAI. Yaitu bunda Eti, Bunda Leti (Kaprodi PAI), Bunda Siti Misbah (Wadek II).


Dan usai sholat dzuhur kami disuguhkan dengan makan siang oleh warga setempat. Dan cussss.. usai itu langsung balik lagi ke Bengkulu. Hadehhh.. jadi waktu kita cuma habis di mobil saja. Wkwk

Di mobil saya tertidur. Dan  bangun ketika Pak Riswanto menghentikan mobil kami di perbatasan Manna-Kaur yang ada icon kaurnya. Disanalah kami berfoto-foto. Pantai?? Jangan harap. Kalau ke Pantai Laguna, masih sekitar 1 jam lagi menuju lokasi. Karena kita nggak menuju Kota Kaurnya. Pengen sich setidaknya mampir di Pantai Manna. Tapi karena waktu yang tak memungkinkan, akhirnya kami tidak mampir Manna. Kami hanya mampir untuk makan bakso doang di Seluma. Waktu itu sudah pukul 16.30. dan kita belum sholat Asar. Akhirnya disitu pun kami kena omelan dikit sama Abang Nover, “Kenapa nggak sholat Jama’ saja? Kan kita lagi perjalanan. Ada-ada saja kalian ini”, katanya.


Lalu kami pun menjelaskan kalau kami semua lupa. Dan emang benar-benar lupa sich. Biasanya kalau bepergian jauh kita juga Jamak koq. Karena itu adalah keringanan (rukhsah) yang diberikan oleh Allah dalam beribadah. Lalu kami pun berjuang mencari wudhu dan masjid untuk sholat.

Dan terakhir, kami nyampai lagi di Rusunawa jam 19.30. pas orang-orang mau sholat Isya. Alhamdulillah perjalanan yang melelahkan dan memabukkan ini mampu kami lewati. Heheh

Terimakasih sudah mau mendengar cerita dari ku. Oya, ini sebenarnya adalah perjalanan Kaur yang kedua loh. Pertama rihlah dakwah UMB juga di masjid Kahfi di Kota Kaur.

Wassalamu’alaikum wr.wb  

8 komentar:

  1. Wah, 13 jam perjalanan lewat dara. ku pasti bakal mabuk... hehe
    Aku ga kuat lewat jalur darat lama2...

    BalasHapus
  2. Pasti letih perjalanan ke sana ..sama kayak dulu kami pernah ke Palembang pakai mobil travel dan Allahu akbar..12 jam di mobil rasanya pegal semua..haha

    BalasHapus
  3. Dulu semasa muda saya juga sering melakukan hal begini dan kuat sahaja. La sekarang

    BalasHapus
  4. Sepertinya seru yah kak perjalanannya, asyik banget klo pergi kemana2 sama sahabat2 yg asyik

    BalasHapus