Senin, 09 Juli 2018

Perbedaan Masjid Jogokarian Yogyakarta dengan Masjid Jami’atul Mukhlisin Mukomuko

pict by: google

A. Masjid Jogokarian

Masjid Jogokariyan terletak di tengah-tengah kampung Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta.  Masjid ini menjadi tempat inspirasi bagi 4 RW yang ada disekitarnya. Namun kini, masjid ini sering menjadi rujukan bagi masjid-masjid lainnya dalam hal manajemennya yang unik dan patut dicontoh bagi masjid-masjid lainnya.

Apa keunikannya, yuk kita simak berikut ini dari rangkuman Ustadz Salim. A. Fillah.

1. Memilik Data Base Warga


Setiap tahun masjid Jogokariyan memiliki program Sensus Masjid yang bertujuan untuk mendata jamaahnya dan sebagai informasi awal kegiatan. Data Base dan Peta Da’wah. Masjid Jogokariyan Yogyakarta tak hanya mencakup : Nama KK dan warga, Pendapatan, Pendidikan dan lain-lain,  tetapi juga sampai kepada :

a. Siapa saja yang sholat & yang belum sholat

b. Yang sholat di Masjid & yang belum sholat di Masjid.

c. Yang sudah berzakat atau yang belum.

d. Yang sudah ber-qurban atau yg belum ber-qurban.

e. Yang aktif mengikuti kegiatan masjid atau yang belum.

f. Yang berkemampuan di bidang apa dan bekerja di mana.

Dari Data Base diatas kita bisa tahu bahwa dari 1030 KK (4000-an penduduk sekitar masjid) yg belum sholat tahun 2010 ada 17 orang Lalu bila dibandingkan dengan data tahun 2000 yang belum sholat 127 orang. Dari sinilah perkembangan Da’wah selama 10 tahun terlihat.

Data jamaah juga digunakan tuk Gerakan Shubuh Berjamaah. Pada tahun 2004 dibuat Undangan Cetak layaknya Undangan Pernikahan untuk Gerakan Shubuh Berjamaah.

Seperti ini contoh undanganya,

UNDANGAN :

Mengharap kehadiran Bapak/Ibu/Saudara (nama jamaah) dalam acara Sholat Shubuh Berjamaah, besok pukul 04.15 WIB di Masjid Jogokariyan. (Undangan itu dilengkapi hadis-hadis keutamaan Sholat Shubuh).

2. Sistem Pendanaan Masjid

Masjid Jogokariyan juga berkomitmen tidak membuat unit Usaha agar tidak menyakiti jamaah yang juga memiliki bisnis serupa. ini harus dijaga, misalnya, tiap pekan Masjid Jogokariyan biasa menerima ratusan tamu, sehingga konsumsi untuk tamu diorderkan bergilir pada jamaah yang punya rumah makan.

Sistem keuangan Masjid Jogokariyan juga berbeda dari yg lain. Jika ada Masjid mengumumkan dengan bangga bahwa saldo infaknya jutaan, maka Masjid Jogokariyan selalu berupaya keras agar di tiap pengumumaan saldo-infak harus sama dengan NOL Rupiah!. Infak itu ditunggu pahalanya tuk jadi amal sholih, bukan untuk disimpan di rekening Bank.

Sebab pengumuman infak jutaan akan sangat menyakitkan jika tetangga Masjid ada yang tak bisa ke Rumah Sakit sebab tak punya biaya atau tak bisa sekolah. Masjid yang menyakiti Jamaah ialah tragedi da’wah. Sehingga dengan pengumuman saldo infak sama dengan NOL Rupiah, maka jamaah lebih bersemangat mengamanahkan hartanya. Pun kalau saldo Masjid masih jutaan yaa maaf kalau malah membuat  infak jamaahnya nggak semangat.

Masjid Jogokariyan pada tahun 2005 juga meng-inisiasi Gerakan Jamaah Mandiri yaitu : Jumlah biaya setahun dihitung dibagi 52… ketemu biaya pekanan… dibagi lagi dengan kapasitas masjid lalu ketemu biaya per-tempat sholat Setelah itu disosialisasikan Kemudian Jamaah diberitahu bahwa jika dalam sepekan mereka ber-infak dengan jumlah “segitu” maka dia katagori Jamaah Mandiri. Adapun jika berinfak lebih, maka dia termasuk Jamaah Pensubsidi. Tetapi, Jika dia tidak ber-infak atau berinfak kurang maka dia termasuk Jamaah di Subsidi. Kemudian sosialisasi ditutup dengan kalimat : ”Doakan kami tetap mampu melayani ibadah anda sebaik-baiknya”. Gerakan Jamaah Mandiri Alhamdulillah sukses menaikkan infak pekanan Masjid Jogokariyan hingga 400%.. Toh ternyata orang malu  jika ia beribadah tapi disubsidi.

3. Sarana dan Prasarana Masjid

Wifi di Masjid Jogokariyan sudah dari tahun 2004 dan itu “gratis-tis”, sehingga Jamaah baik dari anak-anak maupun dewasa tidak perlu repot-repot ke WarNet yg sangat memungkinkan mereka untuk membuka situs yang bukan-bukan.

Kami juga menyediakan ruang olahraga atau bermain yang terdapat alat olahraga seperti tenis meja dan lain-lain, sehingga anak-anak atau remaja atau pemuda yang ingin bermain atau berolahraga di Jogokariyan bisa kerasan atau betah. Daripada “mereka” main atau ber-olahraga diluar masjid yang biasanya waktu mereka saat itu bertabrakan dengan waktu sholat.

4. Unik Lainnya yang ada di Masjid Jogokariyan


Tiap kali renovasi Masjid. Takmir Masjid berupaya  tak membebani jamaah dengan Proposal sebab Takmir hanya pasang spanduk : “Mohon maaf ibadah Anda terganggu, Masjid Jogokariyan sedang kami renovasi.” Nomor rekening tertera di bawahnya.

Sejak tahun 2005 Masjid Jogokariyan sudah menjalankan program Universal Conference Insurance dimana seluruh Jamaah Masjid bisa berobat di Rumah Sakit atau klinik manapun secara Gratis-tis dengan membawa Kartu Sehat Masjid Jogokariyan.

Dan kami juga biasa memberi hibah Umrah bagi jamaah yang betul-betul rutin Jamaah Sholat Shubuh di Masjid Jogokariyan.

Satu kisah lagi untuk menunjukkan pentingnya data dan dokumentasi yakni Masjid Jogokariyan punya foto pembangunannya di tahun 1967, gambarnya seorang Bapak sepuh berpeci hitam, berbaju batik, dan sarungan sedang mengawasi  para tukang pengaduk semen untuk Masjid Jogokariyan.

Di tahun 2002/2003 Masjid Jogokariyan direnovasi besar-besaran kemudian foto itu dibawa kepada putra si kakek dalam gambar tersebut. Putranya seorang juragan kayu. Kami katakan pada Putra kakek yang ada di foto tadi : “Ini gambar Ayahanda Bapak ketika membangun Masjid Jogokariyan, kini Masjid sudah tak mampu lagi menampung Jamaah, sehingga kami bermaksud merenovasi masjid, Jika berkenan tuk melanjutkan amal jariyah Ayahanda Bapak, kami tunggu partisipasi bapak di Jogokariyan.

Di ambil dari situs:

https://bataranews.com/2016/06/08/mengintip-uniknya-kegiatan-masjid-jogokariyan-yogyakarta/ (pada hari Selasa, 10 Juli 2018 pukul  06.41 wib dengan pengeditan).

Okay, luar biasa sekali ya jika dilihat bagaimana manajemen Masjid Jogokarian yang makmur mulai dari masjid hingga ke jamaahnya. Sekarang mari kita lihat bagaimana dengan Masjid Jami’atul Mukhlisin.

B. Masjid Jami’atul Mukhlisin

Masjid ini terletak Desa Retak Mudik, Kecamatan Sungai Rumbai, Kabupaten Mukomuko. Terletak di pinggir jalan, jalan Lintas Bengkulu-Sumatra Barat. Jika dilihat dari sisi bangunan, masjid ini Alhamdulillah sudah bagus, besar dan luas. Bahkan masjid ini sering menjadi tempat kegiatan lomba/pengajian tingkat kecamatan. Namun meski begitu, tetap ada perbedaan dan kekurangan yang jauh sekali dari Masjid Jogokarian.

Disini saya berusaha menguraikanya sebagaimana pengetahuan saya. Barangkali bisa menjadi perbandingan, dan menjadi evaluasi untuk Masjid Jami’atul Mukhlisin ke depanya.

1. DataBase Warga


Jika masjid Jogokarian memiliki database warga, maka di masjid Jami’atul Mukhlisin pun juga begitu. Seperti KK. Kalau pendapatan dan pendidikan sepertinya belum ada di masjid Jami’atul Mukhlisin. Apalagi data siapa yang sholat subuh berjamaah, yang sholat dan yang belum. Mengenai data yang berqurban dan yang belum berqurban juga itu berdasarkan kesadaran dari jamaah sendiri akan keutamaan kurban. Kalau data dimasjid belum ada.

Begitu juga dengan sholat subuh berjamaah, belum ada data. Biasanya di masjid ini, sholat subuh di Masjidnya sepi jamaah. Hanya orang-orang tua saja kebanyakan. Bukan hanya di masjid Jamiatul Mukhlisin saja saya rasa, namun masjid pada umumnya juga sepi jamaah subuh. Walaupun di kota Bengkulu sendiri jumlah jamaah masjid di subuh sudah mulai banyak karena sudah adanya kesadaran akan pentingnya sholat subuh jamaah di masjid. Apalagi sudah ada Gerakan Sholat Subuh Jamaah Keliling.

2. Sistem Pendanaan Masjid

Jika di Jogokarian, data pendaan yang diumumkan selalu Rp 0, agar jamaah bersemngat infaq, namun di Masjid Jami’atul Mukhlisin masih tetap dituangkan jumlah dana yang tersedia sesuai dengan fakta. Untuk infaq masjid kembali lagi kepada kesadaran jamaahnya. Biasanya memang ada donator masjid yang jamaahnya termasuk orang yang berada. Dibantu juga dengan infaq keliling yang dijalankan.

Di Desa Retak Mudik juga biasanya diumumkan jika ada warga yang belum bayar hutang kepada desa. Karena ada beberapa kewajiban setiap warga untuk membayar iuran rutin per KK nya. Jika belum lunas, maka akan diumumkan sebelum melaksanakan sholat jum’at. Dampak negative dari ini adalah warga yang kurang mampu akan merasa tertekan dan malu jika namanya diumumkan. Dampak positifnya adalah tiap warga akan berlomba untuk membayar iuran wajibnya karena tidak ingin namanya diumumkan sebagai warga yang belum bayar sehingga merasa malu.

3. Sarana Dan Prasarana

Sarana yang ada yaitu tempat wudhu yang sudah nyaman bagi laki-laki namun masih belum leluasa untuk wudhu wanita karena lokasi terbatas dan tidak tertutup. Bagi jamaah wanita yang ingin wudhu di tempat tertutup,, berarti ia wudhunya di WC yang juga tempat buang air.

Di samping masjid ini juga ada gedung serba guna. Fungsinya yaitu untuk belajar ngaji anak-anak TPQ, untuk pengajian ibu-ibu, serta jika di bulan Ramadhan itu menjadi tempat nginap bagi jamaah yang sudah tua namun ingin focus beribadah di masjid.

Sarana olahraga dan internet juga belum disediakan di masjid ini.

4. Hal Unik di Masjid Jami’atul Mukhlisin

Hal unik di masjid ini yaitu jika Hari Raya Idul Fitri tiba, maka jumlah jamaah akan berlimpah ruah sampai keluar. Padahal masjid nya sudah tergolong masjid yang besar. Kenapa bisa begitu? Para Orang Tua Warga desa retak mudik merupakan warga yang memiliki banyak anak. Lalu anak-anaknya ini banyak yang sukses. Sebagian tetap di desa Retak Mudik. Namun banyak juga yang merantau di luar. Dan pada Hari Raya semua keluarga yang di luar akan mudik ke kampung halamanya membawa anak-cucu mereka.

Selain itu juga di desa ini banyak pula pendatang yang merantau lalu sukses disini. Mereka banyak yang berasal dari suku Padang dan Rejang. Dan ketika Hari Raya pun, mereka banyak yang tidak mudik ke kampung halaman dan memilih untuk tetap di desa ini. hal ini mungkin dikarenakan di desa ini warganya ramah-ramah terhadap pendatang. Bahkan sudah akrab dan seperti keluarga sendiri. Dan bisa jadi juga karena para pendatang ini sudah menganggap desa ini menjadi desa mereka juga dikarenakan keperuntungan dan kesuksesan mereka terjadi di desa ini. itulah alasan kenapa setiap lebaran masjid selalu ramai oleh Jamaah.

Demikian yang dapat saya sampaikan dengan keterbatas pengetahuan saya. Perbedaan ini pun saya lihat juga dari kasat mata karena saya sejujurnya kurang faham dengan manajemen masjid Jami’atul Mukhlisin. Tulisan ini dibuat bukan untuk membandingkan kedua masjid lalu mencari-cari keburukanya. Ini hanyalah perbandingan untuk perbaikan kedepanya. Tulisan ini juga dibuat guna memenuhi tugas Mata Kuliah Muhadharah dari Bapak Zulkarnaen Z Sitepu.

Terimakasih dan harap dimaklumi 

9 komentar:

  1. Mantap ukti semoga blog nya terus berkembang dan lebih banyak lagi mafaat bagi sesama

    BalasHapus
  2. Jadi penasaran mau ngunjungi masjidnyaaa

    BalasHapus
  3. La jelaa beda yaaak. Saya pikir tadi ada persamaannya, duaduu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tugasny nyuruh nyari perbedaan mak. Bkan persamaan. Wkwk

      Hapus
  4. Setiap masjid pasti memiliki perbedaan masing2 namun pada hakikatnya ya sama2 menjadi tempat ibadah

    BalasHapus
  5. Kalo lihat masjid yg super indah begini, jadi pengen main ke sana deh ^^

    BalasHapus