Cerminan Diri


Allah SWT berfirman:

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَا لْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِ ۚ وَا لطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَا لطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِ ۚ اُولٰٓئِكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَ ۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ

"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."
(QS. An-Nur 24: Ayat 26)

Pernah di salah satu malam di Bulan Ramadhan, aku menangis begitu tersedu. Rasa khawatir yang mendalam dari sebuah perenungan yang tiada habisnya. Banyak hal yang aku renungkan dari perjalanan hidup,  perjuangan dalam bentuk tangis dan air mata, suka duka dan tawa, lalu iman yang naik turun, orang-orang terdekat yang selalu mensupport, sahabat, keluarga, pendidikan, masa lalu, masa depan dan banyak hal lain yang tiada habisnya untuk direnung selama nafas masih di dada.

Namun di malam yang suci dalam iktikaf tengah malam itu, aku fokus menangisi 1 hal. Perkara langkah ku kedepannya setelah menyelesaikan S1. Pekerjaan, dan Jodoh. Dan lebih spesifik ke jodoh.

Menangis, mengadu kepada Allah perkara hati. Ada beberapa nama yang ada di hati. Namun belum 1 pun aku yakini untuk melangkah maju. Dalam kebimbangan, dalam keraguan.

Karena sungguh, aku tidak tau mana laki-laki yang terbaik untukku. Untuk agamaku.  Yang akan mencintaiku karena Allah. Yang apabila mencintainya, akan bertambah cintaku kepada Allah..

Jika aku mengharapkan lelaki yang sholeh,  yang sholat wajib dan sunahnya terjaga, yang semua amalan sunnahnya terjaga, yang bacaan qur'an bahkan hafalannya lancar,  apakah aku pantas?  Apakah aku layak? Bukankah jodoh adalah cerminan diri seperti ayat di atas?  Jika ingin melihat bagaimana jodohmu,  maka lihatlah dirimu sendiri. Lihatlah kualitas dirimu.

Malam itu aku menangis. Rasa kekhawatiran yang begitu besar.  Bagaimana jika pada kenyataanya kelak, jodohku jauh dari kriteria yang aku harapkan?  Semua biasa saja. Bahkan bagaimana jika malah aku dapat lelaki yang agamanya biasa aja atau lebih parahnya bejat sekalipun?  Bukankah itu adalah ujian bagiku?

Ya Allah.. Aku benar-benar takut. Ya, ada yang bilang, setidaknya itu jadi ladang dakwah bagi kita. Kita dipilih Allah untuk merubahnya menjadi lebih baik. Namun bagaimana jika aku tidak mampu mendakwahinya? mengajaknya kepada kebenaran?  Bahkan justru aku yang terseret jauh dari Allah.  Bukankah wanita adalah makmum?  Lelaki adalah Imam yang akan memimpin wanitanya.  Yang akan membimbing wanitanya. Wanita dengan perasaanya, mudah sekali terbawa. 

Ah Tuhann.. Mampukah aku?  Siapkah aku untuk itu?  Kegalauan itu benar-benar memuncak. Takut itu benar-benar nyata. Bukan munafik, aku benar-benar takut jauh dari Allah. Sementara saat aku dekat denganNya aku merasa jiwaku tenang dan tenteram.

Allah.. Dialah sebaik-baik perencana. Ia tau mana yang terbaik untuk hamba-hambanya. Sesuai kebutuhan hambaNya. Dan ia tidak akan menguji hambaNya di luar kemampuan hamba tersebut.

Aku hanya bisa berdoa, siapapun jodohku kelak, semoga dengannya hati dan imanku senantiasa bersama Allah.. Semakin mencintai Allah dengan nikmatnya bernama jodoh, senantiasa menggenggam taat dimanapun dan kapanpun. Menjadi dua insan yang dicintai Allah karena saling mencintai disebabkan Allah.

Tidak ada komentar

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah