19 hari bersama keluarga


4 hari telah berlalu setelah kepulangan ku kembali ke kota yang penuh hiruk pikuk dan kesibukan ini. Liburan memang belum berakhir. Tapi aku harus kembali ke kota ini dan meninggalkan kampung halaman tercinta untuk melanjutkan aktivitas di luar kuliah.
Saat pertama tiba, ternyata benar. Kesibukan sudah menanti. Aku pulang di saat yang tepat. Saat kampus sedang mengadakan acara pembukaan Dies Natalis Kampus UMB sekaligus Pengajian Rutin Bulanan Pimpinan, Warga, Dan Simpatisan Muhammadiyah Se-Provinsi Bengkulu. Nyampenya sore, dan malam sudah mulai aktif lagi.
Semua berjalan lancar sebagaimana semestinya hingga hari ke-4 di kota ini. Sampai detik ini, yang tinggal dan tersisa dari desa adalah rasa rindu.
Kalau kata Dilan, Rindu itu berat. Tapi.. 
Kalau kata aku, ya rindu itu berat dan kita harus kuat. Kita semua pasti pernah merasakan rindu. Rindu sama keluarga, sahabat, guru, teman seorganisasi, rindu kegiatan, rindu kesibukan, rindu suatu tempat, bahkan rindu sang kekasih. Kekasih halal pastinya.
Love you, moree...
Rasa rindu bisa datang kapan saja dan dimana saja. Dan rindu yang aku rasakan adalah disaat baru-barunya meninggalkan keluarga. Teringat olehku sebelum berangkat, ayah berpesan, “Hati-hati di jalan yaa.. bermotor jangan ngebut-ngebut. Santai aja”. Itu pesan ayah. Maklum. Seorang ayah yang khawatir anak gadisnya beperjalan make sepeda motor  dari muko-muko-Bengkulu sendirian. Nggak da yang boncengin dan nggak da yang ngiringin.
Lalu ibu juga sebelum berangkat, memeluk dan menciumku. “Hati-hati ya nakk..”
Dan Kasih adek bungsuku menatapku sendu seakan merasa kalau ia akan kesepian lagi. Nggak da yang ngomel, nggak da yang marah, nggakda yang maksa dia untuk belajar ngaji lagi, dan nggak da kawan berantem. Hehee.. #rindu ya deekk..
ini lagi akurnya. hehee
Kasih melihatku dan melambaikan tangan hingga aku tak bisa lagi melihatnya. Mataku sempat berkaca melihat ekspresinya. Tapi kulajukan terus motorku.
Takkala rasa rindu datang, aku memutar video kasih yang kurekam saat kami jalan-jalan sore ke pantai abrasi, Ipuh. Ia main ombak, pasir, nulis, bernyanyi, dan nyari kepiting. Kuputar berulang. Aku benar-benar rindu.
Waktu 19 hari bersama keluarga sudah lumayan lama bagiku. Karena aku harus menyeesaikan amanah dari prodi yaitu pengabdian di Desa. Namun sekarang terasa bentar saat sudah jauh dari mereka.
kenalin,.. in i ponaanku. dedek afrans.
itu tongkat yang dipegang, pena untuk nulis dipasir loo..wkwk
19 hari bersama keluarga yang sangat aku cinta. Keluarga kami sederhana. Jauh dari kata mewah. Ayahku hanya seorang pekerja bangunan. Dan Ibu adalah ibu rumah tangga. Kadang kami juga sering kekurangan, dan ayah harus minjam lagi. Kalau kata ibu, “Kamu bisa Kuliah ini sudah luar bisa, Nak.. untuk orang yang kehidupan ekonominya seperti kita, bisa kuliah itu adalah suatu kemewahan. Bukan kelas kita sebenarnya”. Itu kata ibu... ya, ibuku memang seperti itu. Sering merendah diri, lembut hatinya, dan mudah merajuk juga. Heheheee..
Ehemm.. ibu, sampai saat ini aku masih memegang teguh pepatah lama itu, Bu, dimana ada kemauan disana pasti ada jalan. Dan Alhamdulillah selalu ada kemudahan selama aku di tanah rantau ini. Setidaknya kami tidak pernah merasa kelaparan. Kalaupun lapar itu paling karena lagi malas masak. Hihii
19 hari di desa.. sebagian besar aku habiskan di rumah. Tapi juga sering keluar rumah untuk silaturahmi ke rumah keluarga, dan guru-guru waktu MAN dulu. Di minggu pertama kepulangan, itu pernikahanya sepupu. Jadi semua pada sibuk disana. Termasuk aku yang sok sibuk. Heheh..
acara pengajian rutin di desa
Minggu kedua, aku ke rumah Enet (Bibi) di desa sebelah. Bibi Mimi namanya, atau biasa dipanggil Net Juati. Enet memintaku untuk membantu bekerja di rumah beliau. Bersih-bersihlah intinya. Coz beliau lagi sibuk di rumah kakaknya yang mau nikahin anaknya. Yuk Ade. Awalnya enet nyuruh tinggal sama beliau saja sampai aku pulang ke Bengkulu. Tapi aku menolak selain karena aku tidak mau dan ingin membantu ibu saja di rumah, ibu juga melarang ku.. wajarlah. Anak gadisnya jarang pulang, sekali pulang malah nggak di rumah. Yaa pasti nggak mau. Tapi akhirnya aku tetap berulang ke rumah enet setiap paginya. Sekitar 5 hari aku bekerja. Alhamdulillah juga bisa untuk tambah-tambah belanja dikasih sama beliau.
Dan di hari Sabtu aku pamitan pulang ke Bengkulu. Padahal itu orang-orang lagi pada sibuk-sibuknya bekerja di acara nikahan. Kenduri kalau kata kami. Atau makan besar. Aku disuruh pulang hari Minggu aja. Tapi aku menolak coz hari minggunya aku ada agenda. Dan ngotot berangkat hari itu juga meski tanpa teman.
Dan Alhamdulillah sampai dengan selamat di Bengkulu. Tanpa kurang 1 pun.
Terimaksih amak, ayah, Adek kasih dan resti, wo mitra, dan para ponaan-ponaanku yang sudah membersamai bucik. Terutama adek afrans. I will miss you all..
yang rajin belajar dan ngajinya ya dekk..

Tidak ada komentar