Minggu, 25 Februari 2018

Sore bersama bapak



Hari itu, minggu sore. Aku sempatkan diri untuk menjenguk bapak di kabupaten sebelah.  Memang tidak lama ini bapak sedang marah kepadaku. Alasanya karena aku sudah lama tidak ke rumah bapak. 
Ehem..  Iya,  akhir-akhir ini aku memang sibuk dengan urusan kuliyah ku serta kerja sambilan di sela2 kuliyah. Meski kuliyahku hanya di Universitas Terbuka (UT) namun, aku akan maksimal dalam proses pendidikamku.  Aku tak mau kalah dngan mereka yg kuliyah di universitas swasta ataupun negeri. Dulu pernah ada yang menawariku untuk kuliyah d luar kota di universitas swasta ternama d provinsi ku. Namun aku menolak. Karena mengingat usia ibu yang juga sudah tidak muda lagi serta single parent dan aku ingin menjaganya serta selalu berada d dekatnya. Aku berjuang demi kita. Namun ada juga yang mengajakku untuk bekerja setiap harinya dengan gaji yg lumayan.  Namun aku juga menolak. Karena aku masih ingin melanjutkan pendidikannya. Aku juga ingin meraih baju sarjana.  Akhirnya akupun memilih bekerja sekaligus kuliah. Karena keduanya aku butuhkan. Solusinya kuliyah di UT di daerahku.

Bapak, usianya juga sudah tidak muda lagi.
Meski belum usia 70 an, namun ia mendekati usia 60 tahun. Ia telah lama berpisah dari ibuku. Bahkan sejak aku masih kecil. Dan sekarang ia juga sudah punya keluarga lain. Dan bahkan sudah punya anak dengan istrinya sekarang. Hidupnya lumayanlah daripada hidupku dengan ibu. Setidaknya bapak bekerja dan ibu tiri ku itu juga bekerja.  Bahkan mereka punya kebun kelapa sawit yang pas panen hasilnya lumayan. Bapak memang jarang berkirim denganku. Untuk biaya kuliah ataupun sekadar untuk beli bedak. Namun aku tak memaksa.  Aku tau ayah sudah punya keluarga lain. Sudah punya kebahagiaan lain. Kata orang, "Seorang bapak akan mencintai anaknya selagi ia mencintai ibunya. Namun ketika ia tak lagi bersama dengan ibunya, maka anaknya akan mudah ia lupakan" ah.. Semoga kata2 itu hanya sekadar kata orang semata. Aku tak ingin bapak melupakanku.

Meskipun aku kurang beruntung dibandingkan dengan teman-temanku yang lain, yang punya keluarga lengkap, ayah dan ibu yang utuh, memiliki segala kemewahan tanpa harus bekerja keras,  bisa kemana saja, tinggal ngomong sama bapak, dll.. Namun aku tetap bersyukur. Karena setidaknya aku tau siapa ayahku. Dimana dia berada, dan aku juga bisa menjenguknya kapanpun aku mau.  Memohon do'a restu atas smua yang akan lakukan, sesuatu yang besar dalam hidupku. Dibanding kan mereka yang bahkan tidak tau siapa bapaknya. Tidak kenal dengan bapaknya. Aku jauh lebih beruntung ketimbang mereka yang hidup di jalanan. Yang mengemis meminta-minta.

Setibanya di rumah bapak, hanya ada istri bapakku. Bapak lagi pergi cari kayu bakar ke pantai kata ibu. Namun tak berapa lama kemudian bapak pulang. Aku menunggu depan pintu sambil tersenyum manja depanya. "Eh, rianty, masih kau ke rumah bapak?" sapa bapak.

Aku tersenyum lagi. Aku tau itu sebuah sindiran. Tapi aku juga tau watak ayah ku. Ia kalau marah tidak akan lama. Paling kena omelan sebentar trus kalo udah ketemu, ia pasti akan menyambut anaknya. Benar kata pepatah. Tidak mungkin ada harimau yang mau memakan anaknya sendiri. Sampai kapanpun bapak akan tetap menyayangi anaknya selama masih ada hati nurani di jiwanya.

Aku menghabiskan sore itu bersama bapak. Karena besoknya aku harus kembali ke desaku untuk kembali bekerja. Bapak mengajakku makan, lalu sholat asar berjama'ah.. Rindu sekali aku dengan suasana seperti ini. Sore itu bapak juga mengajakku mengobrol banyak. Tentang dirinya masih muda yang perantau dan pekerja keras, tentang masa lalunya dengan ibu sehingga aku berulang kali meneteskan air mata,  tentang keluarganya yang jauh disana, tentang pengkhianatan temannya ketika dulu menjadi orang kepercayaan bapak sehingga kemudian ia bangkrut, tentang kakek,  tentang saudara2 ku yang lain. Bapak juga tentunya memberi nasehat kepadaku. 

Banyak sekali nasehat yang aku terima. "Nak,  jangan ikuti jejak bapakmu yaa.. Menikah cukup sekali seumur hidup. Biarlah bapak saja yang punya istri banyak dan anak yang menebar dimana-mana.  Kamu jangan. Jaga dirimu baik-baik. Carilah suami yang sholeh, bekerja keras, bertanggung jawab dan penyayang. Insyllah dia akan selalu menjagamu".


Lalu ku gamit tangan bapak, aku pegang. Aku tersadar lagi bahwa bapak sudah tua, tangannya semakin hitam. Maklum. Bapakku seorang nelayan. Dan tangannya juga sudah semakin mengkerut.  "Pak, tanganmu kian menghitam. Makin keriput". Celotehku sambil tertawa kecil di sore itu. Dan dia bilang. "Wajar nak… Bapakmu sudah tua, seorang pekerja keras. Tinggal juga di dekat pantai. Bapakmu ini udah lumayan gagah dibanding teman bapak yang lain. Lihatlah anak muda sekarang. Banyak yang masih muda sudah sakit-sakitan.  stroke, darah tinggi, kolestrol,... itu juga dikarenakan mereka malas bekerja. Beda dengan bapak. Masih muda sudah pekerja keras sampai sekarang". Lalu aku pegang lagi tanganya lebih lama. lalu berkata lirih, "Pak, kau lelaki terhebatku, aku menyayangimu!.. Dan mataku mulai berkaca-kaca.

Lalu bapak menatapku. "Kenapa nangis?", Nggak pak. Aku terharu saja.  Dan ia bilang lagi.  "Padahal bapak mau cerita kisah Cinta bapak ketika masih kuda tadi,  tapi liat kamu nangis, nggak jadi ajalah. Nanti kamu nangis lagi. Cemburu kalau bapak bukan hanya mencintai ibumu saja. Tapi tantemu, tante indri juga. Yang menjadi bunga desa pada zaman bapak masih muda".
"Oh Ya??" Aku Refleks terkejut
"Enggak.. enggak.., bapak hanya bercanda. Baru gitu aja kayak orang kesentrum. heheh" dan kami pun tertawa bersama. Mengahabiskan sore itu dengan Indah. Ditemani dengan secangkir kopi hitam pahit bapak. Lalu perlahan beranjak menuju mushola terdekat untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah bersama penduduk setempat.

This entry was posted in

2 komentar: