Tatihku Merangkai Kata

Kamis, 4 januari 2018.
Aku benar-benar menyukai pekerjaanku. Menjadi seorang blogger, seorang penulis buku yang sering di undang kemana-mana setelah meluncurkan novel yang berjudul “Lembaran Warna”. Mimpiku perlahan mulai terwujud sekarang. Daftar impian yang dulu hanya ada di lembaran kertas warna-warni yang aku simpan erat di lemari berkunci. Dengan susah payah aku mewujudkanya, bahkan dengan gelombang besar yang awalnya tidak pernah aku duga sama sekali. Aku sudah melewati masa-masa buram itu. Dimana aku kehilangan nikmat terbesar yang Allah berikan kepadaku.
Rabu, 2 januari 2013 pukul 08.00 WIB,
Aku. Nur Salamah. seorang wanita lugu yang baru 5 bulan menginjak bangku kuliah, berangkat ke kampus dengan kemeja kotak-kotak warna coklat, ransel dongker yang berisi 1 buku, 1 pena, dan sebotol air minum. Celana jeans warna hitam dan jilbab segi empat senada dengan warna kemeja dilengkapi dengan sneaker warna hitam, pagi ini aku akan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Kampus. Yaitu pelatihan jurnalistik. Semua peserta berlimpah ruah, begitu antusias mengikutinya. Begitu  juga aku. Awalnya ketika aku baru tiba di lokasi, pesertanya baru setengah dari isi ruangan. Aku kira cuma segini orangnya. Tapi wuuaaa… selang beberapa menit kemudian peserta membludak. Aku liat panitianya malah kewalahan mengatur mereka.
Pematerinya juga nggak kalah menarik. Mereka memang bukan orang terkenal. Namun mereka adalah orang-orang yang ahli dalam bidang jurnalistik. Kami diajari bagaimana menjadi seorang jurnalistik, serta di ajarkan juga membuat akun-akun media social seperti twitter, fb, instagram, dll. Begitupun dengan blog. kami diajarkan membuat blog. Mulai dari membuat email, membuat judul, sampai ke mendesain tema blog.
Kata pemateri, di blog kita bisa nulis apa saja yang kita sukai. Tentang kegiatan kita di kampus, tentang puisi, cerpen, tugas kuliah, pokoknya apa aja yang pengen kita tulis, kita tulis di blog. Bukan hanya itu, dari blog kita juga menghasilkan uang.
Aku mengikuti setiap session dalam pelatihan ini sampai selesai. Hingga akupun akhirnya juga memiliki laman blog. Perangkaikata.blogspot.co.id. itulah nama blog yang aku berikan.
Usai itu aku mulai menulis. Nulis apa saja seperti yang dibilang oleh pemateri. Nulis tentang perjuanganku selama di organisasi, nulis cerpen dan puisi indah, nulis kisah-kisah inspiratif, review buku, serta menulis semua mimpiku.
Namun, hidup tidak selalu bisa seperti apa yang kita inginkan. Ada siang ada malam, ada terang ada gelap, ada lelaki ada perempuan, semua di dunia ini Allah ciptakan secara berpasangan. Begitu juga hidupku. Ada masa sukanya namun juga pasti ada masa dukanya.
Malam itu, ketika keluar dari kostanku untuk membeli makan malam, sesuatu terjadi padaku. Ketika aku menyebrangi motor, tiba-tiba sebuah kendaraan lain menghantam motorku dengan begitu keras. Aku tidak tau kenapa itu terjadi. Yang aku tau ketika sadar aku sudah berada di rumah sakit. Di ruang kamar rumah sakit ukuran sedang dengan cat tembok warna putih. Ketika sadar dan perlahan membuka mata, aku liat ada dokter dengan seragam putihnya, ibu dengan mata sembab, dan ayah dengan tegar menatapku. Aku bertanya, apa yang terjadi?  Mereka hanya menggeleng dan menjawab, “Semua baik-baik saja”.
Hingga pada akhirnya aku perlahan tau. Aku adalah korban tragedy malam itu. Tabrakan yang menyebabkan bunyi begitu keras. Seorang pemuda ugal-ugalan membawa motor dengan sangat kencang menabrakku. Aku masih beruntung karena pada detik ini masih bisa menghirup udara segar. Sementara ia sudah meninggal dunia. Meninggal di tempat. Bentuk wajahnya bahkan tidak dikenali lagi. Sementara aku, aku pinsan. Kakiku hancur tergilas roda motor lawan. Aku segera di bawa ke rumah sakit oleh warga setempat. Dan entah bagimana ceritanya, Ayah ibu mengetahui kabarku dan langsung menuju rumah sakit. Kecelakaan ini ternyata harus aku bayar mahal. Aku harus rela kehilangan 1 kaki kiri. Karena memang tidak bisa lagi diselamtkan. Kata dokter kakiku memang harus di amputasi. Karena kalau tidak, maka ia akan membusuk. Ya Allah hatiku hancur. terbayang olehku bagimana aku berjalan tanpa kaki yang lengkap. Bagimana dengan mimpi-mimpiku?  Tapi.. malaikat tak bersayap itu menguatkanku. “Kamu kuat, nak.. kamu pasti bisa melewati ini semua. Kamu yang sabar ya sayang.. ada ibu disini. Ibu selalu ada untukmu, ingat sayang, Allah tidak akan menguji hambaNya diluar batas kemampuan hambaNya”
Begitulah ibu. Ia selalu mensupportku apapun kondisiku.
Aku merenung. “Apakah ada yang salah denganku Tuhan? Hingga Engkau beri ujian seberat ini? Namun, semakin aku merenung, semakin aku menyadari akan semua dosa-dosaku. Menyadari akan syukurku yang sangat sedikit. Dan akhirnya aku memutuskan untuk hijrah. Dan Alhamdulillah lagi-lagi ibu mendukung perubahanku. Meski semua butuh proses begitupun dengan proses hijrah, namun aku tetap berusaha dengan memulainya dengan memperbaiki sholatku. Dulu aku sering lalai dengan sholat dan bahkan pernah juga meninggalkan sholat dengan alsan ngantuk atau capek atau sibuk. Tapi sekarang tidak pernah lagi meninggalkan dan selalu berusaha sholat di awal waktu. Aku mulai belajar mencintai Sunah seperti puasa senin-kamis, sholat malam, sholat dhuha, dan memperbanyak sedekah. Bukan hanya itu, pakaian pun sudah aku robah. Semua celana jeans ku sudah aku bakar. Aku tidak lagi mengenakanya karena aku tau itu dilarang. Dan ibupun dengan  penuh pengertianya perlahan membelikanku rok, jilbab panjang, serta gamis sebagai pengganti pakaianku yang lama. Dan lama-kelamaan aku merasa nyaman dengan diriku yang sekarang. Aku merasa sangat bahagia meskipun anggota tubuhku ada yang kurang. Tapi.. bukankah kebahagiaan itu letaknya dihati? Bukan pada harta atau bentuk fisik yang sempurna.
Dan sekarang. Aku telah bangkit. Aku telah move on dari masa kelam itu. Inilah Nur Salamah yang sekarang. Nur Salamah yang optimis, yang insyallah lebih sholehah daripada yang dahulu, yang berpakaian longgar dengan jilbab panjang namun nggak kalah cool dan gaulnya dibanding muslimah yang lain. Meski sekarang aku tidak memiliki kaki asli, namun ayah telah membelikan ku kaki palsu agar aku tetap bisa berjalan. Aku kembali menekuni hobiku. Aku berjuang kembali merangkai kata meski dengan tertatih-tatih. Perlahan menulis novel dan mewarnai lagi akun blog yang telah lama terlupa. Dan aku juga telah bergabung di komunitas blogger yang ada di kotaku. Komunitas Blogger Bengkulu. Mereka tau kisahku dan selalu mensupport setiap karya yang aku berikan. Aku bahagia sekali telah dipertemukan dengan mereka. Mereka pribadi-pribadi yang unik, yang sholeh dan sholehah, yang loyal, yang solid. Mereka saksiku merangkai kata mulai dari tertatih-tatih hingga sekarang menjadi terlatih. “Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan?”

3 komentar

  1. yang sabar dan tabah ya dek, Allah punya rencana yang terbaik dari setiap kejadian yang menimpa kita. kisah kita hampir sama, aku juga pernah mengalami kecelakaan tabrak lari, akibatnya kaki kiriku patah. Namun Alhamdulillah Allah menyelamatkan aku dari maut yang tak bisa dibayangkan itu. Fighting buat kita

    salam
    Ahmad Kumaedy

    BalasHapus
  2. masyallah kak.. ini cerpen. hanya fiksi, tapi Alhamdulillah kalo udah kayak kisah nyata. hehee. untuk kk yang tabah yaa.. smua pasti ada hikmahnya.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus