ARIKA

Pagi ini kembali kami disibukkan dengan beragam aktivitas harian. Mumpung hari ini adalah hari libur, jadi waktu dimamfaatkan dengan sebaik mungkin untuk membereskan rumah. bersih-bersih persiapan menjelang ramadhan. Yaa.. Ramadhan tinggal menghitung hari lagi. Aku bersama ibu, tidak ketinggalan juga ayah, bergotong royong membersihkan sekeliling rumah. aku mendapatkan bagian untuk membersihkan rumah bagian dalam. Mulai dari melepas hordeng lalu mencucinya, membuang sarang laba-laba, membuang debu-debu di tv, lemari, sudut-sudut rumah, bahkan memindahkan barang-barang untuk mendapatkan suasana baru di rumah yang sederhana ini.

Sementara ibu, beliau membersihkan halaman rumah dan sekelingnya. Mulai mencabut rumput, membersihkan bunga-bunga Mawar dan bunga Anggrek yang menjadi kesayangan Ibu, ada juga bunga Bugenvile, Asoka, Kembang Sepatu, dan Melati. hingga menyapu sampah-sampah kecil di halaman. Tak ketinggalan juga Ayah. Ia juga sibuk di belakang rumah membersihkan kebun kecil yang menjadi kehobian ayah. Kebun sayur-sayuran. Meski tidak banyak, setidaknya itu cukup sekali dua kali kami petik untuk makan sendiri.

Begitulah keadaan keluarga kami. Keluarga yang sangat sederhana dengan rumah yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Bahkan rumah kami masih sangat sederhana dengan desain masih mengikuti adat lama. Yaitu rumah panggung. Beberapa kali aku mengusulkan renovasi agar rumah kita direndahkan.

Tapi Ayah selalu bilang, “Untuk apa direndahkan? Ini rumah leluhur kita. biarlah ia akan tetap jadi ciri khas sendiri. Lagian juga kan bangunanya masih kokoh. Nanti aja kalau mau rumah yang bagus, tunggu Husna menikah saja yaa..”, begitulah jawaban Ayah setiap kali aku atau Ibu mengusulkan ide untuk merendahkan rumah.

Meski begitu rumah kami tidak terlihat katrok. Toh, rumah kami terlihat asri dengan beragam bunga yang berwarna-warni. Yang didominasi dengan jenis Mawar dan Anggrek. Meski aku sendiri tidak terlalu pandai berkebun, itu tak masalah. Ibu selalu setia merawat  bunganya sendirian. Pun ayah yang selalu setia berkebun sayuran di belakang rumah. Yang jenis sayuran nya selalu bergantian setelah musin panen.

Tinggal 3 hari lagi menjelang ramadhan. Aku asik dengan pekerjaanku. Dan sepertinya bukan hanya keluarga kecil kami yang mempersiapkan ramadhan dengan bersih-bersih rumah. tapi juga tetangga-tengga sekitar pun demikian. Sayup-sayup ku dengar dari dalam, Ibu mengobrol dengan Bu Wati, tetangga kami yang sangat ramah.

Pun dari kejauhan ku dengar suara Nasyid yang diputarkan di Masjid desa kami. Aku sangat menikmati nasyid ini. Mengiringi tiap sarang laba-laba yang aku hancurkan dan sapu bersih.

“Astaghfirullah.. Rabbal barooyaa, astaghfirullah.. minal khatooyaa..”, Nasyid dari Haddad Alwwi mengalun dengan indah dan merdu membuat aku tertegun. Nasyid ini menjadi nasyid kesukaanku. Tak jarang aku meneteskan air mata tatkala menghayati lagu ini. lagu itu terus mengalun. Aku benar-benar meneteskan air mata tanpa menghentikan pekerjaanku.

Ingatanku melayang beberapa tahun silam di bulan Ramdhan, ketika aku masih kuliah.
“Husna, ikut Aku, Yookk”, Arika mengajakku keluar. Padahal malam itu harusnya aku melaksanakan sholat taraweh di masjid dekat kostan kami. Aku sudah berusaha menolak namun Arika memaksaku untuk menemaninya. Meski aku tidak tau kemana ia akan mengajakku. Aku luluh. Akhirnya mengikut patuh.
“Kita mau kemana?”, Tanya ku pada Arika ketika sudah berada di atas motor.
“Sudahlah ikuti saja Aku”, Jawab Arika. Akhirnya aku tak banyak tanya lagi. Aku nurut.
Akhirnya sampailah kami di sebuah rumah sakit umum di kota ini. Arika mengajakku ke rumah sakit ini untuk menemui seseorang. Aku tidak tau siapa yang sakit.

Aku juga tak bertanya kepada Arika. Begitupun Arika tak memberitahukan sesuatu kepadaku. Arika memegang tanganku. Mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan di lantai 3 ruang Melati nomor 13. Setelah sebelumnya Arika menemui resepsionis meminta izin untuk masuk.
Sesampainya di kamar, “Assalamu’alaikum”, salam Arika
Lalu dijawab dari dalam, “Waalaikumussalam”.

Arika menyalami tangan nya dan aku juga salam. Aku tak tau siapa wanita yang terbaring di rumah sakit itu. Terkulai lemas dengan wajahnya yang pucat. Dengan impus di tangan kirinya. Usianya kisaran 40 tahunan. Arika mengobrol dengan hangat. Sesekali diselingi dengan canda tawa. Aku ikut tertawa. Dari obrolan itulah aku tau bahwa itu adalah Bibi nya Arika. Sampai akhirnya kami berpamitan pulang.

Sesampainya di koridor rumah sakit menuju pulang,
“Arika?”, aku memulai obrolan untuk bertanya.
“Iya Husna? Ada apa?”, Arika menimpali.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau Bibimu di rawat di rumah sakit ini?”, tanyaku.
“Lah, ini aku ajak kamu ke rumah sakit. Agar kamu tau”, Arika menimpali dengan santai dan tertawa kecil.
Aku diam
“Sudah berapa lama Bibi di rawat?”, tanyaku lebih lanjut
“Sudah 1 minggu ini. Sakitnya kambuh lagi”. Jawab Arika lagi.
Hmm.. aku tidak lagi bertanya. Sepertinya Arika tidak ingin cerita. Biasanya ia selalu semangat bercerita kepadaku. Tanpa aku minta pun ia akan antusias bercerita. Sudahlah, mungkin belum saatnya. Fikirku waktu itu.

Waktu terus berlalu. Beberapa hari kemudian ketika aku dan Arika selesai pulang dari sholat taraweh, sekitar jam 22.00 WIB, handphone Arika berbunyi. Aku tidak tau siapa yang menghubungi Arika. Aju juga tak mau tau. Bukan urusanku, kita punya privasi masing-masing. Tapi aku tetap memperhatikan Arika telponan dari kejauhan. Tak lama kemudian Arika menutup telpon nya. Dan menghampiriku dengan tergesa-gesa. “Husna, antar aku ke rumah sakit sekarang”, pinta Arika
“Ada apa Arika?”, tanyaku.
“Bibi ku kritis”
Deg.. jantungku berdetang lebih kencang. Aku kaget. Separah itulah sakitnya Bibi Arika yang saat ini aku tidak tau sakit apa. Kankerkah? Tumor ganas kah? Aku bertanya-tanya.
“Ayok bersiap-siap”, ajakku. Lalu kami bersiap-siap. Aku mengambil kontak motor. Dan dengan segera Arika membonceng di belakangku. Arika berusaha bersikap tenang, namun tetap ada kecemasan di wajahnya.

Dan sesampainya di rumah sakit, Arika langsung menemui Dokter yang menangani Bibi Arika.
“Bagaimana keadaan Bibi saya, Dok?”, tanyanya.
“Masih kritis. Kami masih berusaha menanganinya”.
Kami menunggu di depan ruang ICU. Berdo’a semoga semua baik-baik saja. Aku ikut merasakan kecemasan yang Arika rasakan. Butir-butir air mata menetes dari mata Arika. Saat itu sudah menunjukkan pukul 23.00 wib. Biasanya jam segini kami sudah tidur. Tapi malam ini mata kami masih setia menunggu kabar dari dokter tentang keadaan Bibi Arika.

Lalu ku pegang tangan Arika, rasanya aku ingin berbagi kekuatan kepada sahabat yang sudah 2 tahun lebih kami bersama-sama berjuang untuk meraih mimpi di sebuah universitas swasta di kota kami. Meski kami sangat dekat, suka bercerita apa saja, suka bercanda, sering bepergian berdua, namun Arika sangat tertutup masalah keluarga. Aku pernah bertanya tentang keluarganya. Namun Arika malah mengalihkan pembicaraan. Namun akhirnya sedikit banyak aku tau juga. Dan yang aku tau Ayah Arika pergi meninggalkanya ketika ia masih kecil. Sementara Arika tinggal bersama Ibunya yang sakit-sakitan. Dan bertambah parah sakitnya ketika ditinggal oleh Ayah Arika. 1 tahun kemudian Ibu Arika meniggal. Arika akhirnya diambil alih oleh Bibinya yang saat ini lagi kritis. Arika tidak pernah menceritakan tentang hal itu. Aku tak sengaja membaca sebuah buku diary warna kuning milik Arika. Biasanya Arika selalu mengunci diary itu. Namun siang itu ia cerobah. Ia lupa mengunci dan menyimpan diarynya. Aku membuka diary itu, hingga pada akhirnya aku tau sedikit tentang Arika. Lalu segera mengembalikanya ke bentuk semula. Aku khawatir Arika memergokiku. Ia akan marah besar jika tau.

Arika sangat tertutup. Meski wajahnya selalu dipenuhi dengan keceriaan, aku tau ada mendung kelabu yang tertahankan dari wajahnya yang putih bersih itu.
Dan malam ini, Bibi yang sudah merawatnya dari kecil sampai ia kuliah sedang berjuang sendirian di dalam ruangan yang penuh dengan kabel dan alat-alat medis itu. Air mata Arika mengalir deras. Ia menahan suara tangisnya. Aku tidak mengerti. Apakah kerasnya kehidupan telah mengajarkan Arika banyak hal sehingga selalu kuat mengahadapi apapun yang terjadi dalam hidupnya.

Beberapa lama kemudian, dokter keluar.
“Mbak Arika”, sapa dokter yang membuat Arika terkejut lalu dengan segera menghapus air matanya.
“Iya, Dokter.. Bagaimana dengan Bibi saya?”, Arika langsung bertanya tanpa basa-basi.
“Maaf Mbak, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi beliau sudah tak dapat kami tolong. Sakitnya sudah demikian parah”, jawab dokter dengan wajah menyesal.

Arika benar-benar mencapai puncak kesedihanya. Ia berlari masuk ruangan Bibinya. Dan menangis sejadi-jadinya. Tangisan Arika begitu pilu. Baru kali ini aku merasakan suasana yang penuh dengan kesedihan seperti ini. Aku fikir kejadian seperti ini hanya ada di sinetron. Tapi ternyata semua ini benar-benar fakta. Air mataku ikut terjatuh. Seakan aku merasakan apa yang saat ini Arika rasakan. Namun, aku juga heran. Kemana keluarga Arika yang lain?? Anak-anak dan suami Bibinya? Apakah Arika harus menanggung kesedihan ini seorang diri??.

Aku tersadar. Kembali aku berfokus kepada pekerjaanku yang sudah hampir selesai. Alhamdulillah masih bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun ini. Mendadak aku rindu Arika.  Ntah dimana dia sekarang? Denagn siapa ia tinggal? Apakah ia sudah menikah?

Komunikasi kami terputus.  Arika memutuskan untuk berhenti kuliah. Aku sudah berusaha membujuknya agar tetap bertahan. Aku juga akan membantu Arika semampu yang aku bisa. Arika bersi keras. Bahkan terjadi perdebatan antara kami, “Emangnya kamu bisa bantu apa, Husna? Sejauh mana kamu bisa bntu aku? Kamu juga belum bekerja dan sangat bergantung pada kiriman orang tuamu. Sudahlah Husna. Aku hargai niat baikmu, terimakasih banyak sudah ada untukku selama ini”.

Arika menutup kalimatnya dengan memelukku. Aku pasrah. Airmataku menetes. Haruskah kita berpisah sekarang? Aku bahkan tidak bisa banyak membantu disaat ia lagi berduka seperti ini. Aku membalas pelukan nya. Lalu berpesan, “Jangan pernah lupa untuk mengabari aku”, kataku waktu itu. Namun Arika hanya tersenyum tipis. Dan dari sakunya ia mengeluarkan sebuah pita putih. “kenang-kenangan”, katanya.

Ia akan bekerja disebuah kantor yang sampai saat ini aku tidak tau di kantor mana ia bekerja. Arika masih penuh rahasia. Sampai akhirnya aku tamat kuliah dan kembali ke kampung halaman, aku sudah kehilangan kontak denganya. Sepertinya Arika mengganti nomor handphone. Akun medsosnya juga sudah tidak aktif lagi. Tak ada aktivitas apapun di medsosnya Arika.
“Husna, sini kita minum es the dulu. Nanti dilanjutkan lagi,”. Sahut ibu dari luar
“Iya, Bu”, balasku.

Dear Arika, dimanapun kamu berada dan dengan siapapun kamu saat ini, semoga kamu baik-baik saja. Dan semoga kita segera dipertemukan kembali. Aaminn..

baca juga: sore bersama bapak

16 komentar

  1. Weih...awalnya suka cita menyambut Ramadhan malah diselingi dengan cerita mengharu biru...emang sedih ya kalo hilang kontak sahabat sejati.

    BalasHapus
  2. Cerita nya seru mbak. Request donk mbak , sekali" buat cerbung. Siapa tau dilirik penerbit terus diangkat jadi novel dehhh .
    Semangat terusss nulisnyaa 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh.. Ide yg keren ini.. Akan mbx usahakan. Tunggu yaaa..

      Hapus
  3. ini sungguhan atau bukan ini, bagus ceritanya. Buat novel aja

    BalasHapus
  4. Keren,... lama-lama jadi buku neh ceritanya..

    BalasHapus
  5. Ayo neng, novelnya di tunggu. Udah ngarah2 ke novel ini. Semangattt

    BalasHapus
  6. Ayo neng, novelnya di tunggu. Udah ngarah2 ke novel ini. Semangattt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehee. Cerpen aja itu mbc. Hihii

      Hapus
  7. Wah ini pas buat bacaan ngabuburit nunggu buka puasa hehe. Lanjut kak

    BalasHapus
  8. Kalo di word ini berapa halaman ya

    BalasHapus
  9. Ikutan juga ya lomba nulis buat buku Bobe. Hayoo, nulis buat kebaikan

    BalasHapus