SAHUR PERDANA DHIFA

“Sahurrr..sahurr… sahuurrr.. bapak-bapak, ibuk-ibuk, sahur… adik sanak, ayok sahuurrr.. sahuurrr.. sekarang sudah menunjukan pukul 03.30 wib. Bangunn.. bangunn.. sahurrr!!”

Suara anak-anak risma yang bertugas membangunkan sahur sahut bersahutan tiada henti. Diringi dengan pukulan gentongan yang terbuat dari bambu terus dipukul dengan begitu semangatnya. Suara bambu ini berkolaborasi dengan sangat serasi bersama suara mereka yang cempreng. Seakan dipaksanakn untuk teriak. Ntahlah.

Apakah mereka benar-benar ikhlas membangunkan orang sahur karena kesadaranya?, atau karena terpaksa karena menjalankan tugas sesuai jadwal yang telah di buat oleh ketua Risma setiap bulan ramadhan?.

Tapi yang pasti suara itu begitu bising dan bisa mengganggu tidur siapapun yang mendengarnya. Jangankan ketika mereka teriak melintasi rumah kita. ketika ia masih berjarak beberapa KM dari rumah saja suaranya sudah terdengar.

Dan aku segera bangun dari kasur empuk ku. Tempat tidur yang memiliki daya gravitasi begitu tinggi sehingga kadang kala aku malas untuk beranjak dari sini. Apalagi kalau libur kuliah dan pulang. Bisa dibilang aku sering menghabiskan waktu di kamar mungil dengan cat tembok warna hijau.

Aku begitu bersemangat menyambut Ramadhan di sahur perdana ini. Euphoria ramadhan yang jauh-jauh hari sudah kami rasakan ketika di kampus.  Dan seperti biasa jauh-jauh hari sebelum ramadhan pasti ibu bertanya, “Kapan pulang, Nak? Kalau bisa pulang ya. Kita sahur perdana bersama. Kita kumpul bersama keluarga”, begitu terus pinta Ibu kepadaku. Bukan saja di tahun-tahun aku masuk bangku kuliah. Tapi di bangku SMA pun Ibu selalu bertanya begitu. Maklum. Ketika waktu SMA dulu aku tinggal bersama Paman yang merupakan  kakak dari Ibu. Karena sekolah jaraknya lebih dekat dari rumah Paman yang berada di desa sebelah. Kalau dari desaku bisa memakan waktu 1 jam perjalanan. Karena setelah mencoba selama 3 bulan bolak-balik dari rumah ke sekolah dengan berkendara motor, akhirnya aku nyerah. Merasa tidak sanggup karena terlalu melelahkan. Dan paman menawarkan untuk tinggal bersama Ia. Aku setuju meski Ibu terlihat agak keberatan. Sejak saat itu aku tinggal bersama paman dan jarang sekali pulang. Paman begitu menyayangiku.

“Bu, apa menu sahur kita?”, tanyaku pada Ibu ketika sampai di dapur.

“Tadaaa.. masakan kesukaan kamu!!”, jawab ibu ku dengan begitu sumringah sambil menunjukkan sebuah mangkok berisi Sop Jamur. Di meja aku lihat juga ada lalapan. Bersama sambal terasi yang menjadi kesukaan ku. Tak ketinggalan tumis kangkung pedas.

Waahh.., Ibu tau aja masakan kesukaan anaknya, sini coba dulu!”, jawabku langsung nyelonong ngambil sendok dan menyambut sop jamur Ibu.

“E eh.. cuci muka dulu sana dan gosok gigi. Enak aja mau langsung makan”, balas ibu mengambil kembali mangkok dengan ekspresi wajahnya yang khas lalu meletakkan mangkok itu di atas meja.

“Iya.. iya, tau. Mau jahilin Ibu aja”, candaku sambil nyengir. Terus berlalu ke kamar mandi.

“Eh, anak ini udah pandai jahilin Ibu yaa.. awas kamu!”, Balas Ibu berusaha mengejar untuk mencubit ku yang kemudian aku langsung berlari kabur. Aku tertawa cekikan.

Begitulah aku dan Ibu. Tak butuh cari tempat curhat paling aman di luar sana, karena aku sudah menemukanya di dalam rumah.Tak perlu cari sahabat penjaga rahasia di luar sana, karena aku juga sudah menemukanya di dalam rumah. Dan tak perlu aku bergengsi menangis karena masalah cowok. Karena tanpa aku cerita pun pasti Ibu sudah nanya duluan. “Anak gadis ibu kenapa? Siapa yang jahatin anak Ibu? kasih tau biar ibu jewer dia”, Hibur Ibu selalu kalau aku lagi sedih.

Setelah cuci muka dan gosok gigi, kami pun  makan dengan begitu lahapnya. Setelah itu bersiap-siap untuk ke masjid yang berada tak jauh dari rumah untuk sholat subuh berjamaah. Lanjut dengan tadarus bersama.

“Dhifa, kamu menangis?”, Tanya Alesya mengagetkan ku.

“Eh, enggak. Ini tadi liat ada bapak-bapak mengais sampah. Kasian”, alibiku sambil dengan segera menghapus air mata. Terkenang akan sahur tahun kemaren bersama Ibu.

Tak terasa kami sudah sampai di asrama tempat kami tinggal. Aku segera turun dari mobil Pak Amril. Dosen pengampu mata kuliah kami ini. Kemudian di susul oleh Alesya.

“Terima kasih ya, Pak. Hati-hati dan salam buat Ibu”, Kataku sama Pak amril.

“Sama-sama, Nak..”, jawab Pak Amril yang kemudian langsung kembali pulang ke rumahnya. Rasanya letih sekali setelah tadi ikut serta aksi bersih-bersih masjid di salah satu Masjid Muhammadiyah di Kampung Bahari. Kami diajak oleh dosen untuk kuliah lapangan salah satu mata kuliah di kampus.

Waktu asar juga sudah tiba. Segera aku bergegas menuju kamar ku untuk melaksanakan sholat asar. Tatkala selesai wudhu, handphone ku berdering menyanyikan lagu Insyallah dari salah satu pemusik religi yang seorang mu’allaf. Maher Zain. Nada panggilan masuk berbunyi. Ibu memanggill. Langsung aku angkat.

“Assalamu’alaikum, Bu..”, sapaku

“Waalaikumussalam, Nak.. lagi apa?”, jawab Ibu kemudian

“Baru pulang dari kuliah lapangan, Bu. ni mau sholat Asar dulu. Baru selesai wudhu juga”, jawabku kemudian.

“Ohh.. oya, jadi gimana, Nak? Bisa Dhifa pulang?”, Tanya ibu langsung

Aku diam sejenak. Mengingat bahwa ternyata kami hanya libur 1 hari. Setelah itu kembali lagi kuliah. Belum lagi ada rapat persiapan pesantren Ramadhan In Kampus.

“Maaf, Bu.. Dhifa nggak bisa pulang. Libur Cuma 1 hari. Jauh mau pulang, Bu”. balasku lagi dengan penuh penyesalan.

“Ohh.. sayang sekali. Padahal Mbak Dira sudah nyampe jam 2 siang tadi”, kata Ibu kemudian.

“Iya, Bu. Mbak Dira juga udah bilang dan kemaren juga sempat ngajak pulang. Tapi Dhifa kemaren belum bisa ngasih keputusan bisa pulang apa enggak. Akhirnya Mbak pamit pulang duluan. Dhifa masih berusaha minta izin ke dosen agar bisa izin kuliah hari Jum’at besok. Tapi katanya kami mau UTS. Jadi nggak bisa izin”. Jelasku dengan suara agak serak menahan sedih.

“Ohhh.. yasudah, Nak.. nggak apa-apa kalau gitu. Jangan lupa makan sahur nanti, yaa Sayang”. Kata Ibuku dengan penuh kelembutan.

“Iya, Bu. Ibu juga, Yaa.. cieeee.. yang sahur perdana tanpa Dhifa. Jangan nangis ingat Dhifa yaa”, canda ku sekaligus menghibur  diri sendiri. Sok kuat kalau lagi nelpon Ibu. Padahal sebenarnya menahan tangis.

“Idiihhh.. Dhifa tu nah yang nangis”, jawab Ibu kemudian.

Akhirnya telpon ku tutup. Langsung ambil mukenah dan sholat asar. Setelah salam terakhir, aku berdzikir sebentar lalu berdo’a.

“Ya Alllah, berkahilah kami di bulan yang penuh berkah. Lindungilah aku dan Ibu. Berikan kami kesehatan dan umur yang panjang, serta sampaikanlah kami di hari kemenangan nanti. Aaminn..”. Aku menutup do’a dengan mengusap kedua tanganku ke muka. Tak terasa air mataku ikut terjatuh.

Malam ini aku sahur tanpa Ibu. Sahur perdana di bulan Ramadhan tahun ini.

baca juga: Arika

19 komentar

  1. Sedih ya mbk sahur tanpa seorang ibu itu. Aku juga sering ngerasain sedih, apalagi sekarang ibuku udh nggak ada. Btw salam kenal mbk. Salam, muthihauradotcom

    BalasHapus
  2. Aku sudah 4 tahun puasa ramadhan di perantauan (sedih), menjelang lebaran baru pulang... Adek pulang gak ajak-ajak sih -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kasian ya kak.. Trnyata ada yg ngalahin bg toyyib. Wkwk

      Hapus
    2. kamu lah,.. hahaaa. Semoga tinggal di Kota aja lah hehe.. Aamiin

      Hapus
  3. Kayaknya sedih banget ya jauh dari orang tua.. apalagi bukan puasa seperti ini... Jadi merasa sedih juga huhuhu

    BalasHapus
  4. Anak-anak risma yang bangunin sahur itu seru banget ya. Kalo di tempat tinggal saya sudah ga ada lagi .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbx.. Emng udah jarang bgt skrng..

      Hapus
  5. Untuk ceritanya sudah bagus, tapi aku agak keganggu dengan percakapan yang pake italic alias dimiringin. Mungkin selanjutnya bisa diperbaiki mbak,hehe

    BalasHapus
  6. Aamiin
    semangat ya hehe
    begitulah serunya anak rantau

    BalasHapus
  7. Pernah banget ngerasain sahur sendirian di pelosok bumi sana, jauh dari ibu bapak. Sedihnya jangan ditanya huhuuuu

    BalasHapus
  8. Kalo sahur emang paling maknyus makan masakan ibu. Dabees lah. Bangun langsung makan enak. Kalo sendirian .. huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheee.. Iya mbc.. Kalo maskan ibu smua serasa enak.

      Hapus
  9. Sahur sama buka dirumah bikin nafsu makan bertamabah, kalo udah sendirian di kost, makan aja maless hihiiii

    BalasHapus