Flashback (anggap saja cerpen true story yang begitu singkat)


Seorang Ayah bercerita kepada suami wanita muda itu. Pasangan yang telah beberapa bulan ini menyatukan cinta dalam ikatan halal.

"Dulu saat ia pergi, seminggu Bapak menangisinya. Menangis tua. Seperti ini rupanya anakku mengazabbku. Bapak nangis di kamar tidurnya. Ya mau bagaimana lagi? Dia telah diambil sama yang empunya. Tiada hak kita melarangnya. Walaupun asalnya juga dari kita. Tapi Alhamdulillah sekrang dia telah berhasil. Sekolahnya selesai. Sudah bersuami pula. Lepas tanggung jwab kita". Urainya.

Lelaki yang disebut suami itu hanya mengangguk saja. Sementara wanita muda itu, diam-diam menundukkan wajah. Mulai berkaca-kaca. "Aku bahkan tak tau Bapak menangisiku. Bahkan sampai seminggu lamanya", batin ia.

Waktu menanjak sore, dan saatnya mereka pamit pulang kembali ke rumah ibunya. Sepanjang perjalanan, entah angin apa yang membawanya kembali mengenang masa lalu. Masa dimana setelah ia yang kata bapaknya "Diambil oleh yang punya".

Saat itu mngkin umur 9 tahunan ia benar-benar merasa bahagia saat kembali melewati jalan pulang ke rumah ibunya. Ilalang jalanan seolah menari mengikuti hatinya yang bahagia, angin bertiup begitu lembut mengikuti suasana hatinya, dan pepohonan sawit perkebunan seolah menjadi pemandngan cemara saat menanjak ke pegunungan. Itulah yang gadis kecil itu rasakan.

Sesampainya di rumah, bahkan ibunyapun tak lagi mengenal dia. Kulit hitam dengan pakaian coklat yang sudah mulai lapuk. Hingga ibunya sadar. Bahwa itu adalah anak wanitanya yang beberapa tahun tak jumpa karena ikut Ayahnya sejak perpisahan itu terjadi.

Namun, tidak seindah itu. Penderitaanya belum berakhir. Pulangnya ke rumah Ibu tidak semata-mata menjemput kebahagiaan. Ia menjemput perjuangan yang penuh onak dan duri. Kebahagiaan apa yang diharapkan dari seorang Ibu Single parent yang menghidupi 4 anak kecil dengan kerja buruh harian perkebunan?

Semua anaknya dititip saat ia berangkat kerja. Tak sampai disana, bertahun-tahun kemudian tamat SD, SMP, SMA, hingga selesai S1 pun selalu penuh perjuangan, pengorbanan, air mata, dan derita. Berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain demi tercapainya pendidikan spt yg ia mau. Hhh. Layaknya kucing beranak,  tidak menetap di satu tempat. Kadang nyaman, kadang dinyaman-nyamankan, kadang risih, kadang orang yang risih, bahkan kadang merasa terancam. Layaknya manusia purba yang nomaden. Yang selalu berpindah mengikuti keberuntungan nasib dan takdir. Hingga sampai di titik yang Ayahnya bilang ia telah berhasil.

Ayahnya tak pernah tau bagaimana susah payahnya ia mencapai titik itu? Hingga yang ayahnya lihat hanyalah kebahagiaan anaknya semata. Sedikit sekali waktunya bersama kakak dan adek2nya. Tipis sekali masa kecilnya yang katanya penuh dg dunia bermain. Minim sekli perhatian dan curahan kasih sayang dari Ayah dan Ibu kandungnya.

Namun semua telah berlalu. Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya. Allah bersama orang-orang yang sabar dan tawakal.

No comments

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah

Komunitas Blogger Bengkulu (BoBe)