Akibat Stalking


"Bungaaaa, kak Doni mau ngomong sama kamu", seru temanku dari kamar. Setengah berteriak.

"Hah?... Tumben banget ni, cowok mu mau nelpon aku.  Jangan-jangan mau godain aku", ucapku sambil tertawa.

"Enak aja! Sinilah. Kayaknya penting. Tentang masa depan kamu. Cieeee", jawabnya balas nyengir.

"Ah masa!", balasku kemudian sambil menuju kamar.

Aku dan Dita adalah teman satu kostan. Saat ia memanggilku, aku sedang main hp di ruang tengah. Ia asyik telponan sama pacarnya. Huffttt.. Padahal mereka baru aja putus. Dan katanya Dita mau hijrah. Ya kaliii.. Hijrah ke lain hati. Hahah..

Setelah mengobrol cukup lama dengan Kak Doni, aku menarik nafas panjang. Memberikan hp kepada Dita.

"Gimana-gimana?", tanya Dita kemudian dengan mata terus berkedip-kedip menggoda.

"Eh matamu kenapa, Dit? Kelilipan tawon ya?", Jawabku kesal karena terus di goda sama Dita.

"Hahaaa.. Cieeee... Aku siap koq nemanin kamu. Eh. Btw, kamu udah tau orangnya belum?", Tanya Dita kemudian.

Dita sudah tau perkara Kak Doni nelpon aku. Karena sebelumnya, kak Doni udah ngomong duluan sama Dita. Dasar Dita! Comblangin orang buat nikah. Dia aja nggak jelas hubungannya sama Kak Doni mau di bawa kemana. Putus nyambung mulu. Kayak tali karet yang disambung panjang buat main lompat-lompatan.

Malam hari, saat aku dan Dita sibuk masing-masing dengan hp, aku mulai kepo dan stalking media sosialnya dia. Dia yang disebut-sebut Kak Doni udah siap nikah. Stalking dia di Fb.

"Mashallah keren ternyata dia", jiwa bucin ku mulai keluar. Wkwk..

Aku coba stalking lagi terus ke bawah.

"Ternyata dia hobi main pingpong juga. Bisalah buat kawan ku main di akhir minggu.  Eh, aku koq malah mikir jauh sekali sichh..". Aku segera tersadar.

Imajinasiku terlalu tinggi untuk dia yang tak pasti. Eh, tak pasti apanya?  Wong, cuma sekadar tau koq. Ya bisa saja dia cuma ngetes aku doank. Aku menegaskan diri sendiri bahwa jangan dulu baper. Walaupun dia keren, mapan, dan sehobi sama aku.

Aku mematikan hp. Khawatir kalau terlalu jauh stalking, aku malah baper duluan. Malam itu, kupejamkan mata dengan susah payah. Meski gambar dirinya di foto tersebut terus menghantui.

Pukul 02.00 wib, dini hari. Aku baru benar-benar bisa memejamkan mata. Esoknya aku bangun pukul 06.00 wib. Terlambat subuh. Bumi sedikit lagi benderang. Dan bergegas sholat subuh.

Astaga!  Aku lupa hari ini ada UTS.  Aku belum belajar. Aku segera mengambil buku. Berusaha memahami dan menghafal materi yang perlu di hafal. Tapiii.. Koq.. Koq.. Koq???  Kenapa ini??  Koq malah wajah dia lewat di antara buku?  Ya ampunnn..

Ku tutup buku. Segera mandi dan bersiap ngampus. Karena hari ini UTS, dimulai pukul 07.30 wib. Jadi aku harus ontime. Dosennya killer. Jarak antara kostan dengan kampus 15 menitan.

Dannn..   ya Tuhan, pantaskah hari ini kusebut hari sial?  Bolehkah?  3 menit lagi sampai kampus. Tapi ban motorku pecah. Kuputuskan membawa motor ke bengkel terdekat. Beruntung ada bengkel di dekat kampus. Setelah motor di bengkel, aku berjalan cepat menuju lantai 4.

Akkhhhhhh!!!! Lift mati. Kulihat jam di tangan kiriku. Pukul 07.29. Satu menit lagi. Tanpa fikir panjang aku segera naik tangga. Lari tergopoh-gopoh. Nyampai di lantai 4. Aku mengatur nafas sebentar. Ngos-ngosan.

Sesampai di ruangan, dosen sudah di dalam. Beruntung terlambat nya belum nyampai 5 menit. Masih dalam batas toleransi. Aku disuruh masuk.  Kertas ujian dan lembaran jawaban juga telah disiapkan di atas meja yang jarak dari satu meja dengan meja lain kayak suami istri lagi bertengkar.

Dan saat aku membuka tas, aku mencari-cari pena. Ambyarrrrrr!!!!!! Pena ku ketinggalan lagi.  Ya Tuhann. Pengen nangissss.. Huhuuu..

Kalau ada iklan yang mirip iklan rokok, bakal ku tulis disana, Stalking membunuhmu!

1 comment

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah