Pergi dan Melupakan


"Na, kamu yakin dengan keputusan mu?",
Siena diam tak bergeming.

"Siena.. ", Elya memanggil Siena sekali lagi.

"Kita sholat dulu. Aku capek. Tak usah lagi membahasnya.", ucap Siena

Baiklah. Elya mengalah. Dia faham betul watak sahabatnya ini setelah menjalin persahabatan selama 3 tahun kuliah.

Adzan zuhur telah berkumandang. Siena dan Elya yang baru saja selesai kegiatan kampus,    melaksanakan zuhur di masjid kampus. Masjid yang terbuka dengan angin sepoi-sepoi menambah kesejukan. Menghilangkan sejenak kegundahan di hati Siena. Hatinya yang lelah dan sungguh sangat lelah. Usah sholat zuhur, Siena dan Elya makan siang di kampus. Menikmati sepiring pecel lele ditambah es jeruk sungguh mengenyangkan dan menyegarkan.

"Elya,.. ". Siena memulai percakapan. Sudah siap menjawab pertanyaan dari Elya sebelum sholat tadi.

"Aku sudah yakin koq dengan keputusanku. Aku tidak akan menyesalinya sedikitpun".

"Sungguh?  Tapi setau ku, selama ini kamu selalu sabar menghadapi siapapun. Dan menghadapi dia. Bukankah kamu sudah berteman lama dengan dia?  Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau sudah menganggapnya seperti saudara sendiri?".

"Kamu benar. Tapi aku sungguh capek. Kita berdua memang saling menyayangi. Saling perduli. Tapi aku tidak sanggup seperti ini terus. Berengkar terus. Ada yang salah dengan pertemanan kami. Dan aku tidak mengerti apa itu. Sebuah tali silaturahmi harusnya tidaklah serumit ini. Jika saja ini adalah sebuah hubungan percintaan sepasang kekasih, maka sudah lama aku pergi dan melupakannya. Tidak lagi menjalani hubungan baik dengan dia. Meski saling sayang, jika satu sama lain sering menyakiti, sering ribut, maka pergi adalah jalan terbaik".

"Apapun keputusanmu, aku selalu mendukung, Na. Apapun yang terbaik menurutmu. Jangan sungkan buat curhat sama aku. Aku pun juga sudah menganggapmu seperti saudara."

"Terimakasih Elya, namun aku tidak berharap hubungan kita akan seperti hubungan aku dan dia".

"Tenanglah! Aku akan menjadi sahabatmu yang manis koq. Yang ajak kamu ketawa terus. Tapi kamu juga janji, kita harus saling mengerti".

3 komentar

  1. Data pribadi
    negara Indonesia
    Nama: Arif Hidayat
    Alamat: Jl.ds.lamangkona tawaeli
    Sudah dua tahun sekarang saya telah memberikan kesaksian tentang bagaimana saya meminjam Rp30 juta dari AVANT Loan Company dan beberapa orang meragukan saya karena tingkat penipuan online. AVANT Loan telah memberi saya satu hal lagi untuk tersenyum karena setelah menyelesaikan angsuran pinjaman bulanan yang saya pinjam sebelumnya, saya memohon kepada Ibu Deborah bahwa saya ingin pergi untuk ekspansi bisnis lebih lanjut sehingga saya menyerahkan tambahan Rp250 juta setelah melalui proses hukum saya. pinjaman disetujui oleh manajemen mereka dan saya menerima pinjaman saya dalam waktu kurang dari 2 jam di rekening bank BCA saya. Saya tidak memiliki tantangan dengan bank karena Bu Deborah dan tim manajemen pinjaman terbatas Avant telah dianggap sebagai pemberi pinjaman yang sah baik di Amerika Serikat, MALAYSIA dan INDONESIA, sehingga tidak ada masalah sama sekali.
    Untuk pinjaman apa pun, saya sangat merekomendasikan Avant Loans Limited hari ini dan selalu
    e_mail: [avantloanson@gmail.com]

    WhatsApp: +6281334785906

    Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

    BalasHapus
  2. This story is very deep and touching. Sometimes, it is better to leave everything and stay alone. You shouldn't regret about some things.

    BalasHapus

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah