Nasehat Imam Asy-Syafii dalam menuntut Ilmu



pict by: pixabay
Assalamu’alaikum wr.wb
Apa kabar teman-teman semuanya, seperti biasa aku do’akan selalu sehat ya, dan yang sakit semoga selalu diberi kesabaran. Aamiinn..
Pada edisi kali ini aku bakal share tentang sesuatu yang menurut nengsih perlu banget untuk diketahui oleh para penuntut ilmu seperti siswa, maupun mahasiswa. Dan ini juga sekaligus sebagai materi giliran kultum di rusunawa sebelum sholat dzuhur. heheee
Teman-teman, Ilmu sangatlah berguna bagi kita. Jika kita umpakan, seandainya kita memiliki banyak harta, maka kita harus menjaga harta tersebut, kita dibuatnya resah siang dan malam. Bagaimana menjaga harta ini? meletakkanya ditempat yang aman dan jika dirumah harus  di tarok dalam lemari yang terkunci rapat. Berbeda sekali dengan ilmu. Jika kita memiliki banyak ilmu, sebaliknya ilmu lah yang akan menjaga kita. Ilmu tidak akan membuat kita resah. Tapi ilmu malah akan membuat kita hidup tenang.
Kita semua wajib menuntut ilmu. Menuntut ilmu kemana saja, dimana saja. Dan belajar kepada siapa saja. Kita tentu ingat kata pepatah popular ini, "tuntutlah ilmu meski sampai ke negeri Cina". Dan kata pepatah arab pula “utlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi” (tuntutlah ilmu dari buaian sampan ke liang lahat).
Namun, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan di dalam menuntut ilmu, seperti yang disampaikan oleh Imam Asy-Syafii, Beliau Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ
“Wahai saudaraku… ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya: (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) sungguh-sungguh, (4) berkecukupan, (5) bersahabat (belajar) dengan ustadz, (6) membutuhkan waktu yang lama.” 
1. Kecerdasan
pict by: pixabay
Setiap manusia memiliku kecerdasan yang berbeda-beda yang dikaruniakan oleh Allah swt. Ada yang memiliki kecerdasan biasa saja, ada yang kecerdasanya kurang, namun ada juga yang kecerdasanya di atas rata-rata atau jenius. Seperti hal nya kecerdasan yang telah Allah berikan kepada khalifah Ali bin Abi Thalib, dan kecerdasanya yang diberikan Allah kepada Aisyah yang mampu menghafal beribu hadits Rasulullah. Namun, untuk kita yang tingkat kecerdasanya terbatas, jangan kecewa terhadap kekurangan kita. Toh, orang mau sepintar apapun tapi malas, akan tetap kalah oleh orang yang bodoh tapi rajin. Pepatah juga mengatakan “Lancar jalan karena ditempuh, lancar kaji karena diulanag”. Jadi sebodoh apapun kita, jika kita mau belajar maka Allah pasti akan memudahkan. Ingat kan kisah seorang anak muda yang hampir menyerah, namun akhirnya ia berkeras untuk belajar karena melihat sebuah batu yang keras tapi bisa berlobang juga karena ditetesi oleh air yang terus menerus. Ialah Ibnu Hajar (si Anak Batu), seorang ulama besar dan tersohor.
2. Semangat untuk mendapatkan ilmu
pict by: pixabay
Dalam meuntut ilmu, semangat juga merupakan modal yang sangat penting. Bagaimana mungkin kita akan mendapat ilmu jika kita tidak memiliki semangat didalamnya??
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu adalah salah satu contoh shahabat yang bersemangat sekali dalam menuntut Ilmu. Di kala saudara-saudaranya di kalangan Muhajjirin sibuk berdagang di pasar dan saudara-saudara dari kalangan Anshar sibuk bekerja, Abu Hurairah telah kenyang dengan ilmu bersama Rasulullah Shalallahu alahi wasallam dan hadir saat saudara-saudara mereka tidak hadir serta menghafal apa yang tidak mereka hafal.
3. Bersungguh-sungguh
Dalam ilmu jika kita main-main dalam mencarinya, maka hasil yang kita dapatkan juga akan main-main. Tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Ingat kata mutiara dari arab ini, “Man Jadda wa Jada”. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.
4. Berkecukupan (materi)
pict by: pixabay
Uang atau materi juga sangat diperlukan dalam menuntut ilmu. Jangan pelit terhadap ilmu. Belilah buku karena buku jendela dunia. Dengan membaca, kita tau apa isi dunia tanpa harus pergi kedunia tersebut. Contoh tauladan kita, Para ulama-ulama besar terdahulu, rela pergi berkilo-kilo jalan yang ditempuh untuk menuntut ilmu. Yang tentunya akan menghabiskan banyak dana dan tenaga. Namun semua itu rela mereka lakukan demi sebuah ilmu.
5. Bersahabat dengan guru
pict by: pixabay
Kita semua tau bahwa guru adalah tempat kita mencari ilmu. Semua orang membutuhkan guru. Kita bisa membaca, menulis, melewati masa-masa SD, SMP, SMA, semua itu berkat seorang guru. Dan kita bisa kuliah seperti saat ini pun tak lepas dari didikan dan nasehat dari guru kita.
Saya sangat miris jika diluar sana terdengar kasus bahwa murid menganiaya guru bahkan sampai meninggal. Seorang wali murid datang menghajar guru anaknya karena tidak terima anaknya dimarahi. Dan bahkan seorang guru pun dikasuskan ke kantor polisi. Naudzubillahimndzalik.
Teman-temanku, guru bukan lah musuh kita. Jika pun kita merasakan guru yang cara mengajarnya keras, itu semua untuk kebaikan kita. Agar kita tidak melenceng dari koridornya. Jadikanlah guru sebagai sahabat. Dekati dosen kita, ulama kita, atau kepada siapapun itu tempat kita belajar. Untuk apa?? Agar kita memiliki juga ilmu yang ia miliki. Biar kita kecipratan cerdasnya. Seorang guru tentu memiliki ilmu, wawasan dan pengalaman yang luas. Itulah kenapa kita harus mendekati mereka. Kita juga tidak bisa hanya menjadikan buku-buku tempat belajar kita. Kita butuh seorang guru/ulama untuk mempelajari buku atau kitab. Agar kita tidak keliru dalam memahami apa yang kita baca.
6. Membutuhkan waktu yang lama
pict by: pixabay
Tidak akan mungkin kita bisa mendapatkan ilmu dalam waktu yang singkat. Kita semua butuh proses. Butuh kesabaran. Ilmu tidak bisa diraih sehari 2 hari saja. Sebulan 2 bulan saja. Tapi butuh waktu yang bertahun-tahun dalam mendapatkan ilmu.
Al Qadhi Iyadh suatu ketika pernah ditanya “Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu?”. Beliau menjawab: “Sampai ia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur”
Itulah nasehat-nasehat dari Imam Syafi’I bagi kita para penuntut ilmu. Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah dalam mencari ilmu, sehingga kita diangkat derajatnya oleh Allah seperti dalm QS. Al-Mujadilah ayat 11.
Allahumma aarinal haqqa haqqan, warzuqnaa tibaa’ah, wa aarinal baatilaa baatilan, warzuqnaj tinaabah, birahmatika yaa Arhamar-roohimin.. aamiinn..

19 komentar

  1. Keren nasihatnya, kalo benar-bebar diterapkan pasti aman deh didunia dan terlebih lagi di akhirat. Moga kita termasuk orang yang bersyukur...

    BalasHapus
  2. Point no 5 tuh yang sekarang menjadi pusat perhatian bnyak orang "Bersahabat dengan Guru". Jangankan bersahabat, berteman saja sekarang sudah jarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sangat kak.. Smga kita trmsuk ke dalam yg bershbag dg guru

      Hapus
  3. Terima kasih nasihatnya mbak, fira nih lagi malas banget belajar. Ini baca blog mbak jadi semangat lagi

    BalasHapus
  4. Saya suka yang point "bersungguh-sungguh". Ini paling penting menurut saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kak.. Ilmu akan susah d dapat kalau kta main2..😄

      Hapus
  5. Wah remainder banget nih untuk aku. Makasih ya mbak nasehatnya

    BalasHapus
  6. Menuntut ilmu emang kewajiban ya dek. Biar hidup punya goals, tenteram & bisa bermanfaat untuk orang lain. Nice reminder. :)

    BalasHapus
  7. bener banget, menuntut ilmu itu wajib ya, sesuai hadist menuntut ilmu yang mengatakan bahwa "menuntut ilmu itu wajib bagi muslimin dan muslimah"

    BalasHapus
  8. Menuntut ilmu memang penting sekali.. Semoga kita bisa menjadi pemilik dan penyebar ilmu

    BalasHapus
  9. Iyaapp,, bener banget kak. Makasih sudah di ingatkan yakk

    BalasHapus
  10. Tuntutlah ilmu hingga akhir hayat.

    BalasHapus
  11. Walaupun katanya sudah tamat master, profesor, atau tingkat pendidikan lainnya, menuntut ilmu tetap diwajibkan walau di luar sekolah ya.

    BalasHapus
  12. Katanya ilmu jangan dituntut dek , hahaha

    BalasHapus
  13. Ma kasih ya nasihatnya yang indah ini, apalagi mau jelang puasa ini

    BalasHapus
  14. Betul itu, Man jadda wa jadda.

    BalasHapus