Nabung Dulu atau Kredit Saja?


“Bu, nggak usah kredit yaa. Kita nabung aja dulu buat beli barang. Karena kalau kita kredit harganya itu bisa 2 sampai 3 kali lipat dari harga asli”
 
Itu adalah obrolan ku sama Ibu sudah lama sekali. Namun Ibu menjawab, “Kalau nunggu nabung, kapan kita mau beli barangnya, Nakk.. lama. Sementara kita butuhnya sekarang. Kalau di tabung juga nanti uangnya malah di ambil lagi  untuk keperluan yang lain. Kalau kredit kan  kita bisa bayar tiap bulan. Otomatis disisihkan uangnya”

Yaa begitulah dilema kalau kredit. Padahal kalau aku secara pribadi lebih memilih untuk nabung dulu. Tapi ya itu, resikonya akan lebih lama. Kalau untuk barang-barang yang ringan seperti alat dapur sejenis spring bed atau lemari misalkan mungkin masih sabar untuk menabung terlabih  dahulu. Tapi kalau seperti kendaraan. Kayak sepeda motor yang harganya puluhan juga maka otomatis harus sabar. 

Baca juga: Budayakan Sensor Mandiri

Benar juga kata Ibu. Kita butuhnya sekarang. Kecuali jika mau beli motor second saja. Yang harganya lebih terjangkau.

Mari Nabung dari Sekarang

Mengingat dan menimbang hal demikian, buat kita para generasi muda atau siapapun yang mau sesuatu namun nggak mau kredit kayak aku nich, yok lah kita mulai nabung dari sekarang. Dikit-dikit lama-lama menjadi bukit kalau kata orang dulu. Hehe.. Dan untuk kamu, yang suatu saat menjadi suami ku nanti. Kita nabung saja yaaa.. nggak usah kredit. Hihii

Hukum Kredit

Sudah lama sekali aku juga tau dari seorang dosen. Beliau dosen bahasa Arab kami.  Ustadz yang biasa ngisi kajian juga. Beliau menyampaikan bahwa hukum kredit itu haram. Masuk ke dalam riba. Karena statusnya yang mencekik. Memanfaatkan ketidakmampuan orang lain untuk membeli barang secara langsung dengan menaikkan harga barang berkali lipat. 

Baca juga: Nasehat bagi Penuntut Ilmu

Kredit boleh jika harga barang tetap sama. Walau dibayar berangsur. Eh, susah juga ya. Mana ada tukang kredit yang mau mengkreditkan barangnya dengan harga normal dibayar nyicil? Belum lagi pas nagihnya yang serapkali konsumen tak tepat waktu bayarnya.

Namun aku setuju dengan pendapat pak Ustadz ini. Oya, beliau adalah Ust. Rahmat Hidayat. Pada tau nggak? Beliau juga tokoh Muhammadiyah di Bengkulu dan Ahli  Rukyah. Aku setuju dengan pendapat beliau jika kredit itu mencekik orang yang tidak mampu. Mirip dengan Riba. Kalau riba kan membungakan uang. Misalnya minjam 100 ribu. 1 bulannya nambah uang 100 ribu lagi. Jadi sebulan 200 ribu begitu seterusnya. Duhh.. rentenir begitu tuu. Bunga Bank Konvensional juga nggak boleh ya sebenarnya. Namun aku tetap make ATM BRI. Hmm..

Ingat kan dalil tentang riba?

“Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al-Baqarah: 275)

Namun aku juga belum memahami sepenuhnya tentang ini. ilmu agamaku juga masih rendah. Tentu banyak yang lebih faham dan lebih luas kajiannya ketimbang yang tertulis di blog ini.

Baca juga: Bahaya Lisan

Jadi kalau menurut kalian gimana ni guys?

Tidak ada komentar

Terima kasih kunjunganya teman-teman :-) Jangan lupa komentar dan Silahkan tinggalkan komentar yang baik-baik saja. No SARA. Syukron Jazakallah